Via Vallen, Jalan Indonesia Menandingi Korea

Please log in or register to like posts.
News
Via Vallen, Jalan Indonesia Menandingi Korea

Via Vallen menjelma menjadi salah satu pedangdut paling populer saat ini. Hebatnya lagi, dia sukses mematahkan stigma bahwa Dangdut harus bergoyang dan berpakaian vulgar. Bagaimana kisah Via Vallen hingga berada di puncak keterkenalan?

Via Vallen bersentuhan dengan dunia tarik suara sejak kelas lima sekolah dasar. Saat itu dia sudah berani tampil di pentas seni dan beberapa ajang lomba menyanyi. Salah satu orang yang memengaruhi bakatnya adalah Mohammad Arifin, yang merupakan ayahnya sendiri. Orang tuanya itu adalah seorang sebagai gitaris yang mencintai dunia musik.

“Dari kecil, aku sudah suka nyanyi. Di mana pun, kapan pun. Nyanyi terus,” kata Via Vallen, belum lama ini.

Uniknya, pemilik nama Maulidia Octavia itu mengaku justru belum mencintai Dangdut saat itu. Ketika remaja dia lebih menyukai genre musik rock. Contoh pemusik yang disukainya yakni band asal Amerika Serikat, Evanescence, dan penyanyi Avril Lavigne.

“Mereka itu karakter suaranya powerful. Terus dandanan panggungnya simpel, apa adanya mereka aja gitu,” ucapnya.

Salah satu fakta unik lainnya yakni nama panggung Vallen juga diambil dari album pertama Evanescence yang berjudul Fallen.

“Aku plesetin saja jadi Vallen. Kece kan?” lanjutnya.

Kesukaan Via Vallen kepada dua pemusik itu akhirnya mengubah pola pikirnya. Dia kemudian merasa tertantang untuk mempopulerkan Dangdut ke luar negeri. Sama seperti lagu luar negeri yang diterima di Indonesia.

Talenta Via Vallen akhirnya tercium oleh Sera, salah satu orkes Dangdut yang hits di tanah air. Dia pun langsung tergerak untuk mengambil kesempatan itu.

“Aku gabung sama Sera pada 2008. Dari situ, aku jalani manggung dari kota ke kota,” ujarnya.

Perjalanan Dilandasi Komitmen

Perjalanan awal Via Vallen sebagai pedangdut telah dilandasi komitmen. Dia tidak ingin meniru gaya lama penyanyi Dangdut yang lain. Caranya yakni dengan tampil lewat style yang lebih segar, muda, dan modern.

Ciri khas yang diusung yaitu perempuan Korea atau gaya Harajuku ala Jepang. Meski penampilannya sempat dikomentari, Via Vallen tidak peduli. Dia tetap mempertahankan ciri khas penampilan yang simpel dan kekinian.

Kesabarannya perlahan akhirnya berbuah manis. Berkat gaya dan kualitas vokalnya, nama Via Vallen semakin melambung. Panggung kota ke kota mulai dijajalnya. Bahkan tampil di layar kaca hingga ke luar negeri pun telah dilakukannya.

“Waktu itu 2016 konser di Hongkong sama Tiongkok. Ya bawain lagu-lagu biar orang asing dengar lagu Dangdut,” cerita putri sulung Rosida dan Arif itu.

Penggemar Via Vallen semakin menjamur seiring keberhasilannya akhir-akhir ini. Dia terkenal dari Sabang sampai Merauke, termasuk di dunia daring. Jutaan pengikut pun telah memenuhi akun media sosial milik perempuan kelahiran 01 Oktober 1990 ini. Baru-baru ini pelantun Sayang itu juga sukses menjadi Penyanyi Dangdut Solo Wanita Terpopuler dalam kompetisi Indonesian Dangdut Award (IDA) 2017.

Fenomena Keterkenalan Via Vallen

Cita Citata, penyanyi yang melejit sejak merilis Sakitnya Tuh di Sini, mengaku tidak kaget Via Vallen terpilih sebagai penyanyi Dangdut solo terpopuler. Sebab menurutnya Via Vallen memang sudah punya nama di daerah hingga nasional.

“Kalau Via Vallen menang itu wajar. Sebelum terkenal dia sudah banyak manggung di Jawa Timur. Beda sama aku, aku baru memulai karier di musik Dangdut,” kata Cita Citata, baru-baru ini.

Pemilik Goyang Dumang itu mengapresiasi prestasi Via Vallen. Meskipun demikian, Cita Citata enggan bila dibandingkan dengan pelantun Mendem Kangen tersebut.

“Jadi aku nggak bisa disamain dengan Via yang sudah pengalaman. Selain itu lagunya juga bagus makanya jadi viral,” jelasnya.

Dalam ajang Indonesian Dangdut Award (IDA) sendiri, Cita Cita sempat masuk nominasi penyanyi solo terpopuler pada tahun lalu. Namun dirinya belum beruntung untuk meraih penghargaan.

Pengamat musik Bens Leo menilai fenomena keterkenalan Via Vallen sama halnya saat Inul Daratista di awal kemunculannya. Menurutnya, ranah Dangdut memang punya keunikan bahwa penyanyi bisa tenar lewat satu hal, contohnya lagu maupun goyangan. Seperti Inul Daratista dengan Goyang Ngebornya kala itu. Hingga Via Vallen dengan lagu Sayang milik grup hip-hop Dangdut, NDX AKA yang dibawakannya.

“Dangdut itu ajaib, penyanyinya bisa populer lewat satu lagu, dan sekarang industri televisi maupun dunia digital sangat mendukung,” kata Bens Leo.

Pewarta musik senior itu menambahkan, viralnya nama Via Vallen ditunjang dengan berbagai hal. Salah satu faktor penting menurutnya adalah kualitas. Bens Leo menilai Via Vallen memang perempuan yang bisa bernyanyi Dangdut. Suara dan penampilannya pun diakui sangat mendukung untuk digemari pencinta musik Dangdut.

“Suara dan perform dia diapresiasi. Via Vallen adalah pendatang baru yang luar biasa. Nyanyi benar dan good-looking,” ucap Bens Leo.

Pria yang lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 08 Agustus 1952 itu berharap kemunculan Via Vallen membawa angin segar bagi industri musik Dangdut. Kejadian ini diharapkan memicu munculnya penyanyi Dangdut berbakat dari seluruh daerah Indonesia.

Membawa Indonesia Menandingi K-Pop?

The Tielman Brothers, Daniel Sahuleka hingga Anggun C. Sasmi membuat pemusik Indonesia disegani publik internasional dengan karya mereka. Tak bisa dimungkiri, Indonesia merupakan salah satu ‘gudang’ pemusik penuh talenta.  Dalam hal songwriter, Indonesia pun lebih mujur ketimbang Malaysia, yang kudu repot-repot menggunakan jasa Ahmad Dhani untuk menggubah lagu.

Indonesia juga menjadi rumah bagi beragam musik tradisional yang kerap mendunia. Salah satunya Dangdut, musik yang digandrungi bahkan dipelajari di luar negeri. Karenanya jangan heran jika di YouTube banyak dijumpai non-pribumi membawakan lagu Dangdut dengan bahasa mereka maupun bahasa asli kita. Nama Rhoma Irama pun telah tersohor di Negeri Paman Sam sebagai salah satu pemusik besar.

Namun Indonesia punya pesaing yang sulit untuk dikalahkan. Tak lain dan tak bukan adalah K-Pop, yang belakangan ini semakin banyak peminatnya dari berbagai belahan dunia. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan pengonsumsi K-Pop yang masif.

Memang sangat sulit membendung gencarnya arus musik asal Korea ini. Selain menyuguhkan pesona badan berkat latihan fisik dan polesan make-up, mereka juga dikenal akan totalitasnya di dunia hiburan. Tentunya sudah sering kita dengar betapa hectic-nya jadwal kegiatan penghibur Korea.

Bicara soal totalitas, sejumlah agensi K-Pop dikenal punya regulasi ketat untuk mencetak penghibur bahadur. Bukan hal asing lagi mendengar istilah trainee dan program ketat yang mereka jalani sebelum debut, demi mentas di panggung hiburan.

Dengan kombinasi fisik menawan, kualitas musik, dan dukungan penelitian, apalagi yang sanggup membendung mereka? Lebih lanjut, mampukah Indonesia menandingi keterkenalan musik K-Pop?

Dangdut dan K-Pop

Apa yang dimiliki Indonesia untuk menandingi K-Pop? Apakah Dangdut bisa menjadi senjatanya? Sekilas keduanya tak setara jika dibandingkan. K-Pop terkesan modern sedangkan Dangdut masih jamak dianggap tradisional.

Jika ditelisik, K-Pop sendiri dibangun atas dasar musik tradisional Korea. Tentunya tak sekadar mempertahankan cita rasa tradisional, walakin disertai kemauan menyerap perkembangan musik. Hal serupa juga sudah dilakukan Dangdut, seperti memunculkan genre Koplo. Sekarang, siapa bisa menyangkal kalau Dangdut tak dapat berpadu apik dengan musik elektronik?

Selain itu, Dangdut dan K-Pop memiliki kesamaan. Antara lain keduanya cukup konsisten menggunakan bahasa ibu dengan sedikit campuran bahasa lain. Kita biasa mendengar 2NE1 melantunkan larik lirik berbahasa Korea disertai bahasa Inggris. Juga tak kalah terbiasa mendengar Cita Citata melantunkan larik lirik berbahasa Sunda disertai bahasa Indonesia. Dari sini tampak bahwa Dangdut dan K-Pop sama-sama tak minder dengan bahasa pribumi sekaligus tak tertutup terhadap bahasa lain.

Via Vallen sendiri termasuk pemusik berbakat dengan kapasitas yang tak kalah dari nama-nama tenar di luar sana. Apalagi citra masyarakat terhadapnya terbilang masih bagus. Mungkin bukan Via Vallen yang bisa menandingi K-Pop, namun setidaknya dia bisa membuka jalan. Bukankah jalan K-Pop sendiri juga dibuka oleh Lee Hyori, yang jarang dikenal oleh K-Popers jaman now?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *