Sisi Kekaguman dan Kepahlawanan dalam Peniruan

Please log in or register to like posts.
News
Sisi Kekaguman dan Kepahlawanan dalam Peniruan

Sisi Kekaguman dan Kepahlawanan dalam Peniruan – Abu ʻAbd Allah Djamal Al-Din Muhammad (1204-1274) yang lebih dikenal sebaga Ibn Malik  mengungkapkan dengan kentara. Dalam pengantar karyanya kumpulan 1002 bait mengenai tata bahasa berjudul al-Khulasa al-alfiyya Ibn Malik, Ibn Malik menyebut bahwa unjuk rasanya lebih bagus ketimbang kumpulan bait dengan judul serupa gubahan Ibn Mu’thy.

Pernyataan sejenis demikian memang menunjukkan sikap arogan, menyatakan sesuatu dengan semestinya. Pasalnya secara teknis Ibn Malik memang tepat. Pola bait yang dipakai dalam gubahannya sama semuanya, tak seperti gubahan Ibn Mu’thy yang menggunakan dua pola secara selang-seling. Oleh karena itu lebih enak dilantunkan. Selain dari pola penuturan, pembahasan yang diulas pun lebih luas dan dalam melalui penyampaian ringkas. Tanpa penguasaan terhadap bidangnya secara luas dan dalam, sulit untuk bisa menghasilkan karya genius seperti ini. Hanya saja, Ibn Malik tetap mengapresiasi gubahan Ibn Mu’thy dengan menyebutnya lebih utama lantaran digubah dan diterbitkan lebih awal.

Peniruan, Bentuk Pujian dan Langkah Berkembang

Abu ʻAbd Allah Djamal

Secara tersirat, Ibn Malik juga memuji Ibn Mu’thy lantaran cara yang digunakan ditiru dari pendahulu. Peniruan adalah bentuk pujian abadi paling luhur dan dalam. Tak perlu ragu maupun malu dalam melakukan meniru. Tak selamanya peniruan membuat satu karya begitu saja tenggelam bahkan bisa menjelma sebagai karya azam.

Mengumpulkan beragam hal terkait bentuk karya yang akan dibuat sebagai langkah awal ketika hendak berkarya tentu wajar-wajar saja. Misalnya ketika hendak menulis topik terkait puan. Penulisan bisa dimulai dengan menganalisis analisis orang lain, melihat hasil ijtihad yang sudah ada. Walau dimulai dari langkah ini, keaslian unjuk rasa (orisinalitas) tetap bisa dimunculkan dalam bentuk cara (metode) maupun kesimpulan yang dihasilkan.

Dengan melihat ijtihad  yang sudah ada, selain bisa memberi inspirasi, juga tak perlu repot-repot memulai dari nol. Kita bisa menemukan bagian-bagian tertentu yang belum dibahas oleh pendahulu. Dalam linikala fisika, nama Hans Christian Orsted terus dikenang karena dia menjadi pelopor bertemunya listrik dan magnet dalam satu bagian pembahasan.

Sebelum Orsted memadukan listrik dan magnet, banyak perajin fisika menyangka listrik dan magnet adalah dua perkara berbeda yang tidak saling berkaitan—apalagi dikaitkan. Namun sejak dia menyatakan listrik dan magnet saling berhubungan, perkembangan fisika berjalan mengesankan. Listrik dan magnet tidak lagi berjalan dalam jalur yang terpisah, namun beriringan.

Meniru Karya Terdahulu Menambah Mutu

meniru karya

Dalam permusikan sendiri meniru karya terdahulu juga terjadi. Miley Cyrus dalam Karen Don’t Be Sad misalnya. Langgam tersebut kalau disimak dengan seksama, tampak kentara komposisinya mengambil dari Jealosy milik Queen. Padahal gubahan Jealousy sendiri mengambil dari Julia milik The Beatles.

Dalam kajian ilmu alam bagian pembahasan jagad raya juga demikian. Bagian yang turut dijamah oleh Brian Harold May tersebut terbilang mengalami perkembangan sinting. Perkembangan sinting bisa disimak enak melalui Space Odyssey, yang dipandu oleh Neil deGrasse Tyson, walau wajahnya tidak ganteng.

Stephen William Hawking—penggemar berat Norma Jeane Mortenson [Marilyn Monroe] namun dianggap perajin fisika paling terkenal saat ini—yang berperan penting dalam kajian ini juga mulai menggelorakan kembali dengan melihat ijtihad  yang sudah ada. Hawking menggelorakan kembali ijtihad  Galileo Galilei yang sudah mangkrak terlalu lama. Sekitar tiga abad ijtihad  mengenai jagad raya dalam tinjauan fisika dibiarkan poco-poco begitu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *