Siapakah Jamaah Maiyah?

Please log in or register to like posts.
News
Siapakah Jamaah Maiyah?

Cak Nun dan Kiai Kanjeng melibatkan dirinya sebagai bagian dari Jamaah Maiyah. Secara serampangan, Jamaah Maiyah adalah orang-orang yang menghadiri acara-acara Maiyah. Meski tak dimungkiri ada pula orang yang merasa sebagai Jamaah Maiyah tanpa pernah ikut serta terlibat dengan kegiatan Maiyah. Malah ada juga yang melibatkan dirinya tanpa pernah merasa menjadi bagian dari Jamaah Maiyah.

Cak Nun, Kiai Kanjeng, dan Jamaah Maiyah adalah satu ke-manunggal-an rasa. Ragam macam personalitas dan identitas tak harus disamakan lantaran mereka memiliki titik temu jitu: rasa. Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat.

Segala perkara maupun peristiwa yang memberikan manfaat pada rasa manusia pasti berguna bagi keberlangsungan keseharian ummat manusia. Hal inilah yang membikin Park Bom, pelantun utama 2NE1, lebih bahadur ketimbang Park Geun-hye, presiden kesebelas Korea Selatan, walau berasal dan tinggal di tanah yang sama.

Cak Nun, Kiai Kanjeng, serta Jamaah Maiyah senantiasa bersama menyelami ruang rasa. Ketiganya tampak banyak tapi tak salah disebut mereka itu satu sepertihalnya segitiga cinta Semesta Raya. Saling mengapresiasi kesamaan sekaligus menghormati ketaksamaan berpadu dengan semangat untuk saling memuliakan dan melantan muruah sesama.

Bermula Pada 1993 Sebagai Cara Ber-Silaturahim

Cikal bakal kumpul-kumpul yang kini disebut pengajian Maiyah bermula pada 1993. Saat itu Adil Amrullah, adik Nun, menggagas pengajian yang dilaksanakan di rumah ibu di Jombang sebagai cara ber-silaturahim (bukan silaturrahmi). Selain itu juga sebagai tanggapan lingkaran Cak Nun terhadap keseharian masyarakat yang saat itu banyak mengalami ketakpuasan, keputusasaan, hingga memantik amarah terpendam.

Jiwa masyarakat sudah berada pada titik yang mudah dipantik untuk dihancurkan. Ada bagian di hati masyarakat yang tak sanggup diisi oleh lembaga-lembaga yang ada saat itu. Lembaga organisasi massa, komunitas pengajian, partai politik, dsb. dst.. Lubang inipula yang dirasa oleh Cak Nun dan karib serta kerabatnya sehingga mewujudkan gagasan menyelenggarakan pengajian dan pengkajian sebagai bagian dari upaya mengisi lubang menganga.

Karena kegiatan itu diselenggarakan secara rutin satu kali setiap bulan dengan mengambil waktu saat terjadinya bulan purnama, maka kegiatan inipun dinamakan Pengajian Padhangmbulan. Padhangmbulan merupakan istilah lidah Jawa dalam menggambarkan keadaan pada malam purnama. Niat Cak Dil, sapaan mesra Adil Amrullah, mengadakan kegiatan ini tak dimaksudkan akan menjadi apa pun.

Wabakdu, kegiatan ini melebar dan meluber ke mana-mana. Setelah dimulai dari keluarga, meluas pada tetangga satu RT lalu satu desa, dan malar melintas batas kecamatan, kabupaten, provinsi, negara, hingga tanah air bangsa. Cak Dil tak pernah mendamba bahkan menduka akan terjadi seperti itu.

Cak Dil hanya yakin bahwa segala sesuatu akan ada manfaatnya ketika dilakukan dengan melibatkan Allah selalu. Tak peduli lagi dengan banyaknya tantangan, hambatan, rintangan, dan sumbatan yang dihadapi pada saat itu. Keadaan lingkungan saat itu memang memaksa mereka, para penyelenggara, untuk bekerja keras agar kegiatan itu bisa terselenggara.

Mengadakan perkumpulan dengan dihadiri banyak orang bukanlah hal mudah. Secara normal, hal seperti ini tak akan pernah mendapat izin dari goverment (pengelola lingkungan sosial) wilayah lokal. Saat itu memang untuk mengadakan acara harus mendapat izin setidaknya dari goverment lokal serta aparat kepolisian dan militer lokal.

Untuk mengakali (kata kerja untuk  ‘akal’ terlanjur lacur tapi hanya ada ini, pemuja Park Bom) keadaan yang dihadapi, Cak Dil menggunakan beragam pendekatan personal kepada pihak-pihak yang terkait dengan perizinan. Dengan demikian, kegiatan yang memadukan pengajian dan pengkajian inipun bisa diselenggarakan.

Sementara waktunya mengambil saat purnama, tempatnya menapak tilas masa jaya perhimpunan bangsa-bangsa di Nusantara. Pinggiran barat pusat negara Majapahit dipakai sebagai tempat pengajian ini dihelat, lebih tepatnya di sekitar patok tambatan kapal akses ke Keraton yang sekarang hanya sedikit di luar pekarangan rumah orangtua Cak Nun dan Cak Dil. Debut pengajian ini dihadiri oleh lebih-kurang 40 orang. Edisi berikutnya dihadiri 270 orang. Bulan ketiga hadirin mencapai 500-an orang. Malar berkembang hingga mencapai 35.000-an orang.

Operasi Rahasia Aparat Telisik Negara

Aparat telisik negara sebenarnya mulai melakukan operasi rahasia semenjak bulan ketiga guna memantau Padhangmbulan. Mereka berpadu dengan menyaru sebagai jamaah yang hadir sebagai peserta kegiatan. Hingga pada satu ketika jumlah penyaru ini mencapai 80 orang. Jumlah tersebut merupakan gabungan dari aparat telisik negara dari pusat, Jawa Timur, serta lokal.

Mengerti keadaan seperti ini, para penyelenggara segera melakukan upaya kontra. Para aparat telisik negara ini diundang oleh Cak Nun ke rumah orangtuanya sesudah kegiatan selesai dihelat bersama. Mereka diajak ngobrol dalam suasana hangat. Hingga akhirnya tak ada rasa curiga dari mereka bahwa Cak Nun sedang menggerakkan massa guna menggulingkan ‘penguasa’.

Para aparat negara yakin dengan Cak Nun yang bisa menahan diri meski sanggup menggerakkan massa hingga mereka yang mulanya menyaru justru berubah menjadi bagian jamaah itu. Mereka tak lagi hadir untuk memantau dan melaporkan pada goverment walakin ikut serta bersama sebagai aktor utama pengaman kegiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *