Setampuk Pinang

Please log in or register to like posts.
News

Kawan masa kecilku hingga besar ini namanya Daralih atau Darlis. Ia seniorku di kampung. Aku melihatnya menghamparkan pinang di lapau pinggir sungai Batang Nareh.

Tentu, aku hanya bertemu sesekali, pas pulang kampung. Dulu, dia lebih dulu merantau dariku. Aku mengingatnya sebagai sosok yang membawa mimpi masa remajaku untuk menjajaki hidup di rantau. Pas maota lamak di lapau, aku bilang mau punya rumah sendiri bersama keluarga kecilku kelak setelah menikah.

Darlis selalu bercerita tentang rantau. Dunia yang asing dan terasa gemerlap bagiku. Di musim lebaran, pakaian Darlis memang mentereng dibanding anak yang tak pernah merantau sepertiku. Aku tak tahu gaya hidup, tak mengerti murah atau mahalnya harga ikat pinggang. Semua yang kupandang terlihat mewah di tubuh Darlis.

Kini? Ia menjalankan hidup yang bagiku adalah bagian dari masa kecil dan remajaku. Hidup yang sederhana, bersahaja. Aku dulu juga memetik dan memungut buah pinang, membelahnya, mengeluarkan isinya, menjemurnya, serta menjualnya ke pasar di hari pekan: Sabtu.

Tak banyak yang kujual. Hanya kiloan, tak sampai sekarung apalagi sekuintal. Aku hanya anak sekolah yang mencari uang belanja sekali sepekan untuk uang sakuku. Kalaupun dapat, uang itu kugunakan untuk menyewa buku-buku komik dan novel yang ada di sebuah tempat dekat Bank BRI Kampung Dalam sekarang. Seorang kakek tua menjaga tempat penyewaan itu, sampai akhirnya hilang ditelan zaman.

Hidup yang bersahaja bagiku adalah hidup yang tak bisa dipandang sebagai hidup yang merana. Darah belum setampuk pinang, begitu kata pepatah. Setampuk pinang masak adalah nadi dari perjalanan anak laki-laki di Ranah Minang dalam pusaran roda hidup.

Tak ada yang di bawah, tak ada juga yang di atas: karena hidup itu berputar…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *