Sejarah Majalah SANTRI

Please log in or register to like posts.
News
Sejarah Majalah Santri Beragama dan Berbudaya

Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), melalui Direktorat Pendidikan Diniyyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), sejak 2005 membuka program beasiswa untuk pelajar pesantren. Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) namanya.

Tujuan dari PBSB ini adalah untuk membantu pelajar pesantren melanjutkan pendidikan formalnya ke perguruan tinggi dengan beragam program studi yang diminati. Awalnya program ini hanya dilaksanakan di 2 Perguruan Tinggi Negeri (PTN), ialah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN SH) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kemudian mulai melebarkan sayap ke berbagai perguruan tinggi lainnya.

Memiliki peserta yang terpisah tempat kuliah, membuat pihak Kemenag RI merasa perlu dibentuk forum khusus yang mewadahi komunitas peserta program ini. Melalui forum khusus ini, seluruh peserta diharapkan memiliki ikatan kebersamaan yang memiliki keselarasan visi, misi, dan tujuan.

Harapan pihak Kemenag RI mendapat sambutan bagus dari peserta. Ketika ajang Pertemuan Nasional pertama yang bertempat di Grand Hotel Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat dibentuklah organisasi sebagai forum silaturahim untuk komunitas peserta PBSB.

Organisasi tersebut diberi nama CSS kependekan dari Community of Santri Scholar. Kelahiran CSS bertapatan dengan tanggal 12 Desember 2005. Belakangan nama CSS berubah menjadi CSS MoRA sebagai penegasan bahwa organisasi ini memiliki kelindan dengan Kementerian Agama. MoRA adalah kependekan dari Minister of Religious Affairs. Sehingga CSS MoRA merupakan kependekan dari Community of Santri Scholar of Ministry of Religious Affairs.

Memang sempat terjadi kesalahan bahasa kala itu, berupa ‘M’ yang seharusnya Ministry tertulis Minister. Padahal yang dimaksud adalah Kementerian, bukan Menteri. Kesalahan ini terendus oleh peserta PBSB dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang kemudian diperbaiki. Dengan adanya organisasi ini, seluruh peserta PBSB secara langsung menjadi anggota CSS MoRA. Belakangan, penulisan CSS MoRA diubah menjadi CSSMoRA.

Legacy Lestari dari Gori

CSS MoRA memiliki lambang laiknya organisasi lain. Lambang CSS MoRA ini dibuat oleh Helvea Rizanu. Helvea Rizanu adalah peserta PBSB dari ITS angkatan 2007. Helvea Rizanu yang memiliki panggilan akrab Gori merupakan alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang.

Beberapa waktu kemudian, Pak Khoeroni, Ketua Sub Direkotorat (Kasubdit) Pontren 2006-2010, menyarankan peserta PBSB agar membuat majalah yang berisi liputan kegiatan CSS MoRA. Hal ini disampaikan tahun 2008 jelang Munas kedua yang bertempat di Pondok Pesantren Al-Hikmah, Brebes, Jawa Tengah.

Saran tersebut ditanggapi oleh peserta dengan menyusun liputan kegiatan. Penyusunan naskah liputan kegiatan ini dipimpin oleh Zahid, anggota CSS MoRA dari ITS angkatan 2007. Selain memimpin penyusunan naskah, Zahid juga berperan sebagai penyunting naskah. Liputan kegiatan ini kemudian diberi nama Jurnal CSS MoRA yang diterbitkan pertama kali pada saat Munas Brebes 2008.

Lantaran dirasa bagus, program penerbitan ini kemudian dilanjutkan dengan cara membentuk tim redaksi. Tim redaksi yangdibentuk ketika CSS MoRA dipimpin oleh Gunaryo, anggota dari IPB angkatan 2006, ini dipimpin oleh Abdur Rozaq dan beranggotakan masing-masing 2 wakil CSS MoRA PTN. Rozaq merupakan anggota dari ITS angkatan 2007 yang kuliah di program studi Teknik Informatika.

Bersamaan dengan acara Pelantikan dan Rapat Kerja Pangurus Nasional CSS MoRA, tim redaksi tersebut berkumpul untuk membahas kelanjutan penerbitan majalah. Kumpul perdana berlangsung pada bulan Desember 2008 di Surabaya, soal tanggal bisa di-nego pada tanggal belasan. Salah satu gagasan yang dibahas dalam kumpul perdana ini adalah nama untuk majalah. Melalui kesepakatan tim redaksi, nama Jurnal CSS MoRA diubah dengan Denta. Denta yang merupakan kependekan dari Dedikatif dan Terpercaya diusulkan oleh Rozaq dan disetujui oleh seluruh tim redaksi.

Nama Denta untuk majalah CSS MoRA Nasional kemudian diserahkan pada Pak Khoeroni, walakin tak disetujui oleh ‘Bapak’ CSS MoRA ini. Pak Khoeroni tidak setuju karena nama Denta dirasa kurang menggambarkan ciri khas CSS MoRA yang beranggotakan pelajar pesantren. Pelajar pesantren biasa disebut santri. Sembari mengungkapkan ketidaksetujuan, Pak Khoeroni memberi saran alternatif nama, ialah kata SANTRI sebagai nama majalah ini yang kemudian disetujui oleh tim redaksi.

Selain membahas nama majalah, kumpul perdana saat itu juga membahas formasi tim redaksi. Tim redaksi pertama terdiri dari Pemimpin Redaksi (yang saat itu disingkat Pimred), Sekretaris, Bendahara, Redaktur Pelaksana, Reporter, Editor, dan Layouter. Komposisi tim redaksi ini berasal dari perwakilan PTN, masing-masing PTN mengirimkan 2 anggota, serta ditambah 4 anggota tambahan dari ITS.

Tujuan penambahan 4 anggota adalah untuk membagi tugas. Diambil dari ITS seluruhnya untuk memudahkan koordinasi dengan Pimred lantaran saat itu media komunikasi belum mudah nan murah seperti saat ini. Untuk itulah 4 anggota tambahan ini menjadi editor dan layouter yang merupakan pemegang kendali langkah terakhir sebelum majalah diterbitkan.

Secara keseluruhan tim redaksi berjumlah 22 orang. Terdiri dari 1 orang Pimred yang bertugas sebagai memandu secara keseluruhan, 1 orang Sekretaris dengan mengurus administrasi, serta 1 orang Bendahara yang bertugas mengurus keuangan. Redaktur Pelaksana terdiri dari 8 orang dengan tugas utama memilih naskah yang akan dimuat di majalah. Editor terdiri dari 5 orang yang dibagi menjadi Editor Daerah dan Editor Pusat.

Editor Daerah yang berjumlah 3 orang, masing-masing zona 1 orang, bertugas mengoordinasi kegiatan majalah di setiap zona. Zona yang ada di sini ialah Barat, Tengah, dan Timur. Selain mengoordinasi kegiatan, Editor Daerah juga bertugas mengumpulkan dan memperbaiki naskah mentah. Perbaikan baru sebatas terhadap salah ketik (typo). Sedangkan Editor Pusat terdiri dari 2 orang yang bertugas memperbaiki kualitas naskah yang sudah melalui Redaktur Pelaksana.

Sedangkan terakhir adalah Layouter yang bertugas menata letak dan desain majalah sekaligus membantu Pimred mengurus percetakan majalah. Layouter pula yang mendesain logo awal SANTRI. Logo tersebut didesain oleh Gori, yang juga membuat logo CSS MoRA. Logo awal tersebut tetap dipertahankan hingga sekarang.

Tim redaksi Majalah SANTRI yang pertama belum memiliki atribut berupa kartu identitas dan seragam tim redaksi. Baju yang menjadi seragam tim redaksi saat itu dibuat jelang akhir kepengurusan sebagai kenang-kenangan atas tawaran dari Gunaryo. Seragam berwarna abu-abu ini didesain oleh Rozaq. Diperlukan waktu selama 3 hari bagi Rozaq untuk mendesain hingga jadi, kemudian dibagikan dalam acara Munas CSS MoRA Nasional di Denpasar, Bali, akhir tahun 2010.

Acara Munas di Denpasar sekaligus menjadi ajang regenerasi tim redaksi. Regenerasi tim redaksi masih sama seperti pembentukan awal, yakni setiap PTN mengirimkan 2 wakilnya. Saat itu tim redaksi lama dan baru bisa berkumpul dalam satu forum. Dalam forum tersebut dilakukan pemilihan pemandu baru. Fadhli Lukman yang terpilih sebagai pelanjut tugas Rozaq, adalah one-time anggota dari UIN Sunan Kalijaga angkatan 2010 dan long-time pendukung Juventus. Pelajar program studi Tafsir Hadist ini berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat.

Selain regenrasi SANTRI, Munas di Denpasar juga menjadi ajang regenerasi Pengurus Nasional CSS MoRA. Dalam Munas tersebut, terpilih Arif Kurniawan sebagai Ketua Umum CSS MoRA Nasional. Sebelum menjadi Ketua Umum CSS MoRA Nasional, Arif adalah Editor Majalah SANTRI. Arif kuliah di prodi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah. Lelaki asal Lampung ini menjadi anggota CSS MoRA sejak 2008. Ketika menjadi Editor di Majalah SANTRI, Arif menjalankan tugas sebagai Editor Daerah.

Godly Nationalism

Fadhli yang menjadi Pimred baru berinisiatif memisahkan tugas koordinasi kegiatan zona yang sebelumnya dipegang oleh Editor Daerah. Koordinasi kegiatan di setiap zona kemudian menjadi tugas Koordinator Biro, posisi baru yang dibentuk oleh tim redaksi yang dipimpin Fadhli. Biro yang ada di Majalah SANTRI ada 3, menyelaraskan zona yang ada di CSS MoRA. Biro Barat dengan wilayah kerja di zona Barat (DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten), Biro Tengah (Jawa Tengah dan DI Yogjakarta), serta Biro Timur (Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Barat). Kegiatan yang menjadi tugas Koordinator Biro termasuk distribusi majalah cetak.

Selain penambahan posisi Koordinator Biro, juga ditambah posisi Riset. Posisi Riset memiliki tugas utama sebagai penanggung jawab rubrik Riset. Rubrik Riset sudah ada di Majalah SANTRI sejak edisi pertama, namun baru pada saat Fadhli memimpin SANTRI rubrik ini menjadi tanggung jawab posisi tertentu.

Rubrik Riset berisi hasil riset. Namun terdapat perbedaan isi rubrik Riset. Rubrik Riset di era Rozaq diisi hasil riset yang selaras dengan tema besar yang diangkat majalah tanpa memandang sumber riset. Sedangkan di era Fadhli rubrik Riset diisi hasil riset terpilih dari anggota CSS MoRA tanpa harus menyelaraskan dengan tema besar majalah atau tidak. Perbedaan pandangan ini menemui jalan tengahnya di kemudian hari. Rubrik Riset edisi terakhir yang diterbitkan tim pimpinan Fadhli mencantumkan hasil riset terpilih anggota CSS MoRA yang selaras dengan tema.

Edisi tersebut mengangkat tema besar Pesantren dan Media. Rubrik Riset edisi ini berjudul Kifayat al-Akhyar dan Tugas Akhir Mahasiswa Informatika yang disarikan dari hasil riset berjudul Klasifikasi Dokumen Teks Berbahasa Arab Menggunakan Algoritma Naive Bayes. Riset ini merupakan Tugas Akhir (TA) perkuliahan dari Abdur Rozaq, yang notabene Pimred sebelumnya. Hihhh kzl. Dalam Tugas Akhir ini Rozaq dibimbing oleh Agus Zaenal Arifin dan Diana Purwitasari. Agus Zaenal Arifin sendiri merupakan pembimbing CSS MoRA ITS.

Selain mengubah susunan tim redaksi Majalah SANTRI, Fadhli juga mengubah nama posisi pemimpin SANTRI. Sebelumnya SANTRI dipimpin oleh Pemimpin Redaksi. Wajar, saat itu posisi SANTRI dalam tata organisasi CSS MoRA belum menjadi badan tersendiri. Penerbitan Majalah SANTRI menjadi semacam program kerja pengurus nasional yang dijalankan tim tersendiri. Tim tersebut dipimpin oleh Abdur Rozaq sebagai Pemimpin Redaksi. Sedangkan ketika SANTRI dipimpin Fadhli, posisi SANTRI dalam tata organisasi CSS MoRA sudah berbentuk Badan Semi Otonom (BSO). Sehingga BSO ini tampak lebih elok dipimpin Pemimpin Umum alih-alih Pemimpin Redaksi.

Secara keseluruhan, tim SANTRI yang dipimpin Fadhli terdiri dari Pemimpin Umum, Sekretaris, dan Bendahara masing-masing 1 orang dengan tugas seperti tim sebelumnya. Koordinator Biro diisi oleh 3 orang, masing-masing Biro 1 orang, dengan tugas mengoordinasi kegiatan SANTRI di setiap biro (zona). Redaktur Pelaksana terdiri dari 6 orang, Editor 3 orang, Reporter 7 orang, Riset 1 orang, serta Layouter 4 orang. Selain mengurangi tugas Editor yang sebagian tugasnya diberikan pada Koordinator Biro dan menyendirikan tugas Riset sebagai penanggung jawab rubrik Riset, selebihnya tugas setiap posisi masih sama seperti sebelumnya. Seluruh tim SANTRI ini berjumalah 27 orang.

Di era Fadhli pula motto Majalah SANTRI mulai dicetuskan dan dipakai hingga sekarang. Motto ‘Beragama dan Berbudaya’ merupakan frasa yang disusun Fadhli dan disetujui tim redaksi untuk dipakai. Motto ini menyiratkan karakter dan komitmen SANTRI sebagai media yang memegang teguh identitas pesantren sebagai tulang punggung keberagamaan di Indonesia.

Di era Fadhli juga mulai dirintis laman Majalah SANTRI dengan alamat www.majalahsantri.co.cc. Materi yang dimuat di laman ini berasal dari naskah yang dikirimkan oleh anggota CSS MoRA. Karena tak seluruh naskah bisa dimuat di majalah, maka dibuatlah laman ini untuk menampung naskah yang tak termuat di majalah. Sayang keberadaan laman ini tak berlangsung lama. Selain itu, Majalah SANTRI juga sudah mulai bekerja sama dengan iklan untuk menambah dana.

Into the New World

SANTRI melakukan regenerasi kembali bersamaan dengan momen Munas CSS MoRA di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Jombang. Regenerasi SANTRI kali ini masih sama seperti sebelumnya, yakni perwakilan dari PTN, dengan masing-masing PTN mengirimkan 2 anggotanya. Perwakilan PTN yang masuk tim SANTRI dikumpulkan di sela agenda Munas CSS MoRA. Mereka semua dikumpulkan di ruangan dekat lobi aula utama PPBU.

Sebagian tim SANTRI pimpinan Fadhli turut hadir dalam pertemuan itu sekaligus memberikan arahan pada anggota tim baru. Arahan disampaikan oleh Ayu S. Hiasyah, yang menjadi editor di tim Fadhli. Fadhli absen dalam pertemuan itu lantaran sedang melaksanakan Khidmah Ilmiah di Bukittinggi. Selain memberikan arahan, Ayu meminta agar tim baru tersebut langsung memilih pemimpinnya saat itu juga. Qzam.

Sebenarnya beberapa tim lama yang hadir menginginkan anggota tim lama yang memimpin SANTRI selanjutnya. Selain menginginkan dipimpin oleh anggota tim sebelumnya, tim lama juga ingin agar ada anggota lama yang bertahan.

Saat itu sudah ada keinginan agar regerasi SANTRI tak bersifat bongkar-pasang namun tambal-sulam. Tak diganti seluruhnya secara serentak namun diganti secukupnya perlahan. Keinginan itu mengarah pada Ufiq Faishol Ahlif, reporter SANTRI yang turut hadir dalam pertemuan tersebut. Ufiq merupakan anggota CSS MoRA UPI angkatan 2010 yang kuliah di prodi Pendidikan Fisika.

Sayang Ufiq menolak keinginan pertama. Di saat Ayu memberikan sinyal bakal menawari tim baru soal pemimpinnya berasal dari anggota tim sebelumnya, Ufiq mendadak gaib dari arena pertemuan. Namun keinginan kedua, ialah ada anggota yang bertahan, bisa terwujud dengan bertahannya Dzaky Ahmada.

Dzaky merupakan anggota dari Universitas Mataram (Unram) angkatan 2010 yang sebelumnya nyantri di Pondok Pesantren Amanatul Ummah (AU). Mantan perokok ini menjadi reporter di SANTRI selama 2 periode. Di periode kedua, Dzaky berjumpa dengan kawan lamanya di pesantren, Rasyid Abdillah. Rasyid, lelaki yang menyebut rokok sebagai kehidupan ini, bergabung dengan SANTRI sebagai perwakilan dari ITS dengan menjadi layouter SANTRI bersama Rahmi Yuwan, kamulah satu-satunya saat itu dari ITB.

Pemilihan pemimpin SANTRI dilakukan melalui pemungutan suara tim baru setelah tak ada kesepakatan melalui musyawarah. Dua kandidat saat itu, Surotul Ilmiyah dan Noor Aflah, sama-sama mengungkapkan ke-emoh-annya memimpin SANTRI. Keduanya sama-sama memiliki alasan kuat yang masuk akal. Biar tak ribet dan bisa memaksa, dilakukanlah pemungutan suara itu.

Satu keajaiban terjadi seusai pemungutan suara. Ufiq, yang sesaat sebelumnya sempat gaib, tiba-tiba kembali ke arena dengan sehat, selamat, dan lengkap, disertai wajah cerah ceria, seperti Genie. Malahan Ufiq kemudian yang memimpin penghitungan suara tersebut. Kamprettt. Setelah seluruh suara dihitung, Ilmy unggul 1 suara atas Aflah, yang artinya Ilmy yang memimpin SANTRI selanjutnya.

Ketika terpilih sebagai pemimpin SANTRI, Ilmy masih perempuan lajang yang menjadi Pemred Denta. Meski belum menyelesaikan masa tugasnya di Denta, namun Ilmy sudah menyelesaikan tugas utama untuk menerbitkan majalah Denta. Majalah terbitan CSS MoRA UIN Syarif Hidayatullah inilah yang memakai nama yang sebelumnya direncanakan bakal dipakai sebagai nama majalah CSS MoRA Nasional.

Setelah seremoni penyerahan jabatan dari tim lama yang diwakili Ayu ke tim baru yang diwakili Ilmy, pertemuan selesai. Seremonial berlangsung dengan penyerahan majalah dari Ayu ke Ilmy dan ditutup pelukan antara keduanya, kayak Lala dan Po, penghuni belakang bukit nan jauh tempat Teletubbies bermain-main. Cuma Ilmy lebih langsing, dibanding sekarang.

Ilmy kemudian diberi kesempatan hingga masa pelantikan Pengurus CSS MoRA Nasional untuk menyusun formasi tim. Di masa penyusunan formasi ini, Ilmy mengirimkan pemberitahuan melalui pesan pendek pada seluruh anggota tim untuk menawari posisi. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penyusunan sekaligus agar anggota duduk di posisi yang sesuai minatnya, walau bukan bakatnya.

Serupa dengan Fadhli, Ilmy juga turut melakukan perubahan formasi tim SANTRI. Perubahan yang dilakukan sama seperti dilakukan Fadhli, dengan menambah beberapa posisi. Posisi yang ditambahkan adalah Fotografer, Ilustrator, dan Marketing.

Tugas utama Fotografer adalah bertanggung jawab terhadap konten gambar yang dimuat serta sampul majalah. Sedangkan Ilustrator bertugas untuk memberikan ilustrasi pada setiap rubrik yang memerlukan serta bertanggung jawab pada rubrik Teropong 2 yang berisi karikatur. Kedua tugas ini sebelumnya menjadi tugas Layouter. Sedangkan Marketing bertugas melakukan branding majalah yang diterbitkan agar bisa dipandang di pasaran.

Ketika memimpin SANTRI, Ilmy mulai merintis penjualan Majalah SANTRI ke pihak luar. Majalah SANTRI tak hanya dibagikan pada anggota CSS MoRA, Kementerian Agama RI, dan beberapa pihak lain seperti kontributor. Namun juga dijual untuk menambah pemasukan dan tak menggantungkan dana pada kas CSS MoRA Nasional saja. Karena itulah tim pimpinan Ilmy mengerjakan beberapa hal yang diperlukan agar pantas terjun ke pasaran sekaligus melakukan branding awal ketika dana dari kas CSS MoRA Nasional masih cukup melimpah.

Beberapa hal yang dilakukan adalah mematenkan nama Majalah SANTRI dengan motto ‘Beragama dan Berbudaya’. Pematenan nama ini diperlukan agar tak didahului pihak lain. Pasalnya selain Majalah SANTRI yang diterbitkan BSO (Badan Semi Otonom) SANTRI CSS MoRA, dapat ditemukan juga Majalah Santri yang diterbitkan pihak lain. Jika Majalah SANTRI terbitan BSO CSS MoRA tak segera dipatenkan, bisa jadi pada saat nanti terpaksa harus nama lantaran sudah dipakai pihak lain.

Nama Majalah SANTRI yang diterbitkan BSO SANTRI CSS MoRA berhasil didaftarkan ke Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII LIPI) pada Juni 2014, soal tanggal bisa di-nego pada rentang 20-an. Fuad Hilmi Sudasman yang melaksanakan tugas ini.

Sebagai perlengkapannya, dibuat Buku Poetih SANTRI yang isinya mengenai penjelasan rinci majalah. Penjelasan rapi dan rinci majalah yang dimuat dalam Buku Poetih SANTRI merupakan dokumen tertulis tentang tata laksana pengelolaan majalah yang mulanya belum tertulis. Buku Poetih SANTRI disusun oleh Rasyid dengan dibantu oleh Fera sebagai penulis materi.

Sayang upaya branding Majalah SANTRI tak sesukses upaya mematenkan nama. Branding majalah di arena pasaran sempat menunjukkan geregetnya di awal masa tugas tim ini, walakin lantaran beragam kendala yang dihadapi bersama, edisi selanjutnya telat terbit. Hal ini berimbas pada ikatan kerja sama BSO SANTRI CSS MoRA dengan beberapa pihak yang tak bisa dilanjutkan.

Beragam kendala yang diperkirakan bakal muncul sebenarnya sudah diantisipasi. Salah satunya dengan membuka pemagangan di Majalah SANTRI. Pemagangan ini juga bertujuan untuk membantu kerja tim redaksi yang mulai masuk ‘usia senja kuliah S1’ sekaligus sebagai alur kaderisasi tim redaksi. Jika sebelumnya regenerasi tim SANTRI berdasarkan perwakilan, pada saat ini regenerasi melalui alur kaderisasi antar periode memiliki kesinambungan. Persis dilakukan oleh Ken Bates dalam membangun Chelsea sejak era Gleen Hodle, lalu Ruud Gullit, hingga Gianluca Vialli.

Tim ini juga melaksanakan pengelolaan laman SANTRI yang masih ikut situs CSS MoRA Nasional. Laman yang dikelola tim ini beralamatkan di http://cssmora.org/category/majalah-santri/. Untuk pengelolaan laman, belum bisa dibilang sukses namun tak bisa juga dikatakan gagal. Awalnya tim ini menginginkan agar SANTRI memiliki situs sendiri yang terpisah dengan laman CSS MoRA Nasional. Rencana untuk memiliki situs sendiri mulai dijalankan dengan membuat desain situs. Desain situs sudah dibuat setengah jalan oleh Vivid Rohmaniyah namun tak diselesaikan, mungkin dia lelah dan jengah.

Selain menerbitkan majalah dalam bentuk cetak (print-out), tim ini juga menerbitkan majalah dalam bentuk digital. Majalah SANTRI edisi digital bisa diakses melalui http://issuu.com/majalahsantri. Di akun Issuu ini telah diunggah berkas digital Majalah SANTRI dari edisi ketiga hingga kelima dalam format PDF. Pada masa ini pula mulai dicetuskan pengembangan BSO SANTRI, berupa penerbitan jurnal ilmiah dan penyiaran melalui saluran YouTube.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *