Scholaristi, Meniti Ilmuwati

Please log in or register to like posts.
News
Scholaristi, Meniti Ilmuwati

“Ada prinsip baik yang telah menciptakan keteraturan, kecerahan, dan lelaki, serta ada prinsip buruk yang telah menciptakan kekacauan, kegelapan, dan perempuan.”

— Pythagoras

Nama Sabrina Gonzalez Pasterski mendadak meriak. Karya perempuan kelahiran 03 Juni 1993 yang menekuni ilmu alam  (natural science) ini berhasil menghentak khalayak. Forbes memasukkan nama Sabrina ke dalam urutsan ke-23 daftar 30 Under 30: Science pada 2015. Satu catatan yang membuatnya berada pada jajaran sosok papan atas. Laura Dang menulis sekilas dengan menegaskan bahwa Sabrina sebagai the Next Einstein. Satu penegasan yang tak main-main.

Belum redup kabar Sabrina berdegup, muncul nama Kára Deidra McCullough, menggegerkan pentas kecantikan. Perhatian lebih terhadap Kára diberikan lantaran dirinya memiliki latar belakang ilmu alam. Satu kabar yang layak menghiasi dunia hiburan. Meski karya Kára tak semenawan Sabrina, namun semat sebagai Miss USA 2017 cukup menganyam namanya menjadi sanggam.

Dua kabar tersebut memiliki benang merah berupa perempuan dan ilmu alam. Sabrina banyak disorot lebih disebabkan oleh jenis kelaminnya ketimbang rekam jejak yang azam. Sementara Kára, mengalami peristiwa serupa. Andai Kára tak punya kelindan dengan ilmu alam, barangkali kabar mengenai dirinya terasa biasa.

Kelindan perempuan dan ilmu alam termasuk topik yang asyik diperbincangkan. Terlebih pada abad keduapuluh satu ini. Masa ketika perempuan malah bergerak mundur dengan menggemakan kesetaraan. Wajar memang, pasalnya tak dimungkiri banyak perempuan merasa nyaman dinikmati sebagai jajanan industri sementara peran mereka dalam kajian ilmu alam sedikit sekali dibanding lelaki.

Kalau peta sejarah perkembangan ilmu alam dibentangkan sekilas, tampak terjadi ketimpangan antara lelaki dan perempuan. Ketimpangannya ialah cerdik-cendekia (scholar) maupun ilmuwan (scientist) lebih didominasi oleh lelaki. Kehadiran perempuan dalam perkembangan ilmu alam kurang tampak dan cenderung diabaikan. Fenomena ini membuat ilmu alam terkesan lekat dengan lelaki. Benarkah demikian? Mari sejenak ditelusuri.

Satu Sisi Kelabu Yunani

Yunani kuno kerap dirujuk sebagai pemula gelora kajian ilmu alam. Dalam bentangan linikala peradaban lebih luas, hal ini tak tepat sepenuhnya. Tatkala derap kajian ilmu alam sudah menggelora di daratan Asia, Yunani masih temaram. Namun revolusi yang terjadi di Ionia seiring keberhasilan Thales menyuntikkan gairahnya, berhasil mengubah masa setelahnya. Dari Yunani kuno memang kajian ilmu alam mulai rapi dan rinci teranyam. Banyak kajian yang berhasil mereka wariskan senantiasa memperkaya khazanah keilmuan sampai saat ini.

Sayangnya, keadaan yang tampak mengesankan dengan warisan tak lekang menyisakan setitik perih untuk perempuan. Saat derap kajian ilmu alam mulai berjalan mengesankan, kaum perempuan masih dipinggirkan. Hal ini tampak dari kegiatan pelatihan buat perempuan yang diselenggarakan hanya ditujukan untuk mengasah keterampilan pekerjaan rumah tangga. Sementara lelaki mendapat kesempatan penuh untuk mengikuti pengajaran terkait kajian ilmu alam dan beberapa hal lainnya.

Tatanan politik saat itupun tak berpihak pada perempuan. Saat lelaki menikmati jaminan kesetaraan dalam demokrasi Yunani kuno, hak politik perempuan masih diabaikan. Pythagoras dalam satu ungkapan ringkas menunjukkan kecenderungan pandangan saat itu secara jelas. “There is a good principle that created order, light, and manand a bad principle that created chaos, darkness, and woman.” (Ada prinsip baik yang telah menciptakan keteraturan, kecerahan, dan lelaki, serta ada prinsip buruk yang telah menciptakan kekacauan, kegelapan, dan perempuan.)” tandas Phytagoras.

Beruntung umur pernyataan Phytagoras ini tak selama umur teorema yang disematkan padanya. Pasalnya selepas dia wafat, perempuan justru berperan penting terhadap keberlangsungan Komunitas Phytagoras. Selepas Phytagoras, komunitas yang banyak berperan dalam membangun matematika ini diasuh oleh Theano, istrinya. Alhasil perempuan ikut berunjuk peran yang tak bisa begitu saja dilepas.

Perempuan lain yang berperan penting pada masa Yunani kuno ialah Aspasia. Aspasia merupakan istri dari Pericles, sang pemimpin Athena, lingkungan tempat mereka berada. Namun Aspasia bukan menjadi mitra selakangan belaka. Aspasia turut berjuang menolak aturan yang meminggirkan perempuan.

Perjuangan Aspasia mewujud dengan mengkritik lembaga perkawinan Athena serta mendidik perempuan dan lelaki agar mengerti arti kesetaraan. Meski Socrates dari Athena menyebut Aspasia sebagai gurunya, kecenderungan lingkungan saat itu memandang perempuan dengan hina. Bahkan cinta antar sesama lelaki (gay) dianggap sebagai wujud kesempurnaan cinta.

Kala itu praktik homoseks biasa terjadi. Sementara lingkungan masih menunggulkan kaum lelaki. Bahkan saat itu perempuan dilarang bekerja sebagai bidan, yang sekarang boleh disebut lahannya perempuan. Konon kabarnya hal ini membuat Agnodice, sosok yang cukup terkenal pada masa itu, terpaksa menyamar sebagai pria ketika membuka praktiknya sebagai bidan.

Kekaisaran Romawi, Kebebasan Perempuan, Dominasi Lelaki

Pengekangan yang dialami perempuan Yunani tak menimpa Romawi. Nasib mereka terbilang lebih mujur di sini. Para perempuan mendapatkan lebih dari sekadar pelatihan, bahkan sebagian turut menjadi ilmuwan (scientits) meski lelaki masih mendominasi.

Hypatia adalah contoh bagus dalam hal ini. Theon, ayahnya, merupakan cerdik-cendekia yang turut membangun lingkungan melalui pendidikan. Seni, sastra, ilmu alam, dan filsafat, adalah beberapa perkara yang diajarkan. Tak hanya pada lelaki, pula bisa dinikmati perempuan.

Hypatia sebagai putrinya pun mendapatkan berkahnya. Lahir dan tumbuh dengan keadaan demikian membuat Hypatia menjelma sebagai ahli filsafat dan matematika. Tak hanya menguasai kajian keilmuan, Hypatia juga perkasa dalam olah raga. Berenang, mendayung, menunggang kuda, dan mendaki gunung adalah beberapa cabang yang bisa dikuasainya.

Sayang Hypatia enggan menerima ajakan menikah. Buatnya, kajian keilmuan sudah cukup memberinya gairah membuncah. Sayang juga nasib Hypatia berakhir tragis setelah dianggap menistakan agama. Sekelompok orang religius dengan tega melakukan beragam upaya menghabisi Hypatia hingga menemui ajalnya. Sayangnya lagi, peristiwa inilah yang lebih menggema dalam lintasan sejarah. Gema yang membuat peran dan karya Hypatia nyaris seperti dirasuah.

Kajian keilmuan yang ditekuninya membuahkan beberapa karya, seperti astrolab yang bisa digunakan untuk menentukan lokasi dan memprediksi posisi matahari, bulan, planet, dan bintang; menentukan waktu lokal (dengan diketahui letak bujur dan letak lintang); serta proses mencari koordinat dan jarak sebuah titik dalam ilmu ukur ruang. Katalog bintang, alat penyaring air, serta alat penentu massa jenis cairan, adalah karya lain yang juga berhasil dia sumbang. Tiga buah buku yang ditulisnya, ialah A commentary on the 13-volume Arithmetica by Diophantus, A commentary on the Conics of Apollonius of Perga, dan The Astronomical Canon, membuat Hypatia mendapat penghormatan dari banyak orang.

Nasib perempuan dalam kajian keilmuan terbilang masih terpinggirkan hatta abad gelap menggurita di Eropa memasuki millenium kedua masehi. Sampai pada lintasan ini, peran dan karya perempuan dalam kajian keilmuan masih kalah dibanding lelaki. Tentu hal ini tak serta merta membuat perempuan dianggap tak memiliki daya dan upaya sama sekali. Mungkin perempuan bisa saja memiliki prestasi lebih gemilang, andai tak dipandang rendah dari lelaki.

Eropa Tatkala Gereja Berkuasa

Kajian keilmuan memang sempat mengalami masa suram pada abad pertengahan. Pusat-pusat kegiatan kajian dikuasai oleh geraja, tak hanya menguasai tempat melainkan juga pandangan. Ilmu alam adalah salah satu korban dari keganasan gereja pada masa ini. Geometri, aritmatika, astronomi, adalah beberapa cabang yang tetap diajarkan. Ahli kimia juga ikutserta menghasilkan karya yang berguna secara praktis buat lingkungan. Namun tanpa ada terobosan berarti kajian keilmuan terbilang mati suri.

Kegiatan pembelajaran dan kajian banyak dilaksanakan di biara. Beberapa biara untuk perempuan yang dipimpin oleh para abesse (pemimpin biara) berkemauan keras, namun hanya menyediakan kesempatan terbatas. Perempuan berstatus sosial rendah terbilang diabaikan begitu saja. Sedangkan perempuan dengan status sosial tinggi saja yang bisa mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan menggali kreativitas.

Hildegarde, abesse yang berpengalaman sekira 30 tahun, menjadi wanita menghasilkan karya tulis mengenai alam. Sepertihalnya filosof Yunani kuno, Hildegarde mengajukan pertanyaan umum mengenai alam semesta dan membincangkan kosmologi, alam, manusia, kelahiran dan kematian, jiwa, dan Tuhan. Wawasan luas dan beberapa gagasan yang didalami membuat Hildegarde menjelma menjadi sosok azam. Hildegarde menyadari bahwa bintang memiliki perbedaan ukuran dan kecerlangan yang menginspirasi dirinya untuk menyusun perbandingan antara pergerakan bintang dan pergerakan darah di pembuluh darah, jauh sebelum kajian tentang peredaran darah mulai digelorakan.

Gagasan tersebut banyak dikaji lebih serius kemudian. Gagasan lain dari Hildegarde ialah mengenai letak matahari di tengah cakrawala dan perbedaan musim di planet Bumi. Pendapat bahwa kalau satu sisi di planet Bumi mengalami musim dingin, maka sisi lain harus mengalami musim hangat, adalah satu gagasan mengagumkan. Kecakapan dalam bidang perawatan dan pengobatan juga membuatnya menarik banyak perhatian di seluruh penjuru negeri.

Sayang, derap lumayan di Jerman tak terjadi di Inggris. Penindasan yang dilakukan oleh Henry VIII terhadap pada perajin gereja mengubah arah pendidikan. Kesempatan perempuan mendapat pendidikan setara dengan pria mulai terkikis. Dampaknya, pusat pembelajaran beralih ke Oxford dan Cambridge, yang memanjakan lelaki sedangkan pada saat yang sama perempuan diabaikan.

Keadaan lain terjadi di Italia. Perempuan memang tidak diijinkan untuk mengikuti pembelajaran medis laiknya lelaki, walakin diberi pelatihan untuk mendapat ijin praktik seperlunya. Hampir semua perempuan yang mengikuti pelatihan medis ini termasuk anggota keluarga dokter lelaki. Ironisnya, keadaan yang tampak bagus ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa diijinkannya perempuan gara-gara kurangnya keluarga dokter memiliki anak lelaki.

Walau tak begitu menggembirakan, keadaan tersebut memunculkan sosok Trotula yang sanggup meningkatkan reputasinya sebagai ahli bedah mengagumkan pada paruh kedua abadi kesebelas. Metode penjahitan dan penggunaan benang sutra baru yang dicetuskan olehnya adalah gagasan cerdas dan bernas.

Sebagian besar perempun Eropa pada masa suram memang banyak berperan di bidang kesehatan. Penengetahuan dan pengalaman melakukan aborsi, meramu dan membudidayakan obat-obatan, hingga melahirkan bayi menjadi kerap bahan perbincangan. Perbincangan yang turut berguna untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sayang, tatkala pekerjaan kesehatan pria mendapat perlindungan kalangan bangsawan, para perempuan berpengetahuan dan berpengalaman banyak mengalami penindasan. Alasan bahwa praktik mereka tak dilakukan secara formal membuat praktik sihir menjadi bahan pembenaran yang dituduhkan.

Warisan abad kegelapan Eropa masih banyak berpengaruh sampai saat ini. Tak hanya warisan yang layak dilantan, juga warisan pandangan bahwa perempuan tak setara dengan lelaki. Satu hal yang patut disayangkan. Pasalnya pada masa itupun perempuan ikutserta memberikan sumbangan.

Kebangkitan Pendidikan Perempuan

Masa suram Eropa perlahan sirna tatkala Renaissance mulai bergelora. Gelora Renaissance memunculkan karya mengesankan dengan hasil banyak membanting kajian yang lama mengakar. Johannes Kepler, dan Galileo Galilei, dan René Descartes adalah beberapa nama yang tak mudah untuk dilupa. Pada masa itu pula pendidikan perempuan menjadi bahan perbincangan yang ramai terdengar.

Perbincangan tersebut menjadi ramai lantaran menimbulkan beragam perdebatan. Beberapa perguruan luhur mulai membuka pintu untuk perempuan dari kalangan bangsawan. Seiring pembaruan gagasan dalam kajian ilmu alam dibangun, beberapa perempuan ikutserta menenun sebagai sumber inspirasi dan motivasi para cerdik-cendekia dari kalangan lelaki.

Maria Celeste, putri Galileo misalnya, yang sebelas tahun ikut menenun karya ayahnya secara rinci. Dukungan sang putri memungkinkan Galileo untuk terus berkarya tatkala rasa putus asa menghampiri. Kematian Maria memberi pukulan telak yang berdampak panjang pada Galileo hingga sang magnifico berpindah dimensi. Barbara Müller, istri Kepler, adalah sosok penting dalam menjaga semangat sang suami dalam berkarya. Elizabeth Stuart menjadi sumber inspirasi yang tak habis digali oleh René Descartes hingga lelaki ini mempersembahkan karyanya untuk perempuan asal Bohemia.

Lembaga pendidikan khusus untuk perempuan mulai dibuka di Prancis pada 1686. Maison royale de Saint-Louis menjadi lemabaga yang mencatat sejarah ini. Sayang kedangkalan kurikulumnya dengan cepat tampak ke permukaan: tidak ada pengajaran yang membahas tentang filsafat dan ilmu alam. Walau begitu, sebagai pemula, Maison royale de Saint-Louis berhasil memiliki kapling sejarah tersendiri.

Gabrielle Émilie Le Tonnelier de Breteuil, Marquise Du Châtelet (Émilie du Châtelet) menjadi perempuan asal Prancis yang patut dicatat. Alihbahasa disertai tambahan komentar (شرح) yang dilakukan oleh Émilie pada Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica karya Isaac Newton membuat kajian terhadap karya agung ini menggeliat kuat. Karya Émilie inilah yang berperan penting dalam membangun sikap spektis. Dampak karya Émilie kelak menjadi pemantik Revolusi Prancis. Emile memilih membangun kastilnya sendiri di Cirey untuk ditinggali bersama François-Marie Arouet (Voltaire), suami. Sang suami banyak membantu sang istri dalam melakukan kajian mandiri, yang banyak mengamati tentang api.

Di lingkungan Eropa saat itu, terdapat kecenderungan mengikuti pandangan Francis Bacon. Pandangan yang digagas oleh Bacon cukup bagus dalam mengubah tatanan agar tak terlampau monoton. Kala itu berlaku pandangan yang menganggap bahwa alam merupakan musuh yang perlu dikendalikan dengan satu set cara. Satu set cara yang dikenal dengan natural science (ilmu alam) ini digunakan untuk “memulihkan martabat yang hilang” dari manusia.

Natural science (ilmu alam) dan wisdom (kebijaksanaan) menjadi muatan utama kegiatan pembelajaran yang banyak dilakukan terhadap lelaki. Pembelajaran sendiri ditujukan untuk membimbing masyarakat agar bisa memaksimalkan potensi diri dan bumi yang mereka huni. Pada masa ini mulai muncul lembaga penelitian seperti Royal Academy dan Royal Society. Keanggoataan dalam lembaga penelitian tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan ilmiah seseorang diakui.

Sayangnya, lembaga penelitian yang ada tak ramah buat perempuan. Padahal saat itu terdapat sosok menonjol, antara lain, Maria Gaetana Agnesi dan Marie-Sophie Germain. Maria Agnesi memiliki reputasi yang luas hingga Perguruan Luhur Bologna memberikan peran sebagai pengajar kehormatan. Sayang Royal Academy memiliki anggapan lain. Ketika Maria Agnesi dicalonkan sebagai anggota lembaga penelitian, dirinya justru mendapat penolakan. La tradisi ne veut pas dAkademisi (tradisi tidak menginginkan pelajar perempuan) menjadi ungkapan penolakan yang cukup merisak batin.

Marie-Sophie sendiri menenun bertahun-tahun dan bekerjasama dengan Johann Carl Friedrich Gauss dalam topik-topik matematika dengan menyembunyikan personalitas sebagai perempuan. Marie-Sophie menggunakan nama M. LeBlanc ketika bekerja sebagai jalan keluar menghindari cemoohan yang melekat pada perempuan. Pada masa ini perempuan memang cenderung dipandang rendah oleh lelaki meski laju kajian keilmuan sedang kencang sekali. Bahkan karya Marie-Sophie tentang getaran bidang elastis yang mendapat apresiasi resmi tak cukup untuk membuatnya menjadi anggota Royal Academy.

Keadaan serupa terjadi di seberang benua Eropa. Kegiatan pendidikan yang mulai bergelora pada tahun 1642 di Boston, Amerika Serikat, tak menerima perempuan untuk ikutserta dalam kelas. Baru pada tahun 1789 perempuan mendapat kesempatan, itupun masih terbatas pada pengajaran dasar saja. Hanya perempuan berstatus sosial kelas atas yang mendapat pengajaran lebih luas.

Kesempatan terbatas tak membuat perempuan mangkrak dalam mengembangkan diri. Berkat ketekunan dan kepedulian Emma Hart Willard, perempuan mulai mendapat perhatian. Emma mendirikan Troy Female Seminary. Lembaga yang kini bernama Emma Willard School didirikan dengan tujuan utama untuk mendidik perempuan.

Guna menyampaikan muatan pelajaran secara maksimal, Troy Female Seminary cukup perhatian terhadap cara mengajarkan. Misalnya untuk pengajaran fisiologi. Gara-gara banyak pelajar yang merasa gugup dan malu ketika diminta menggambar peta tubuh manusia di papan tulis, mereka kemudian diberi selembar kertas tulis. Kertas tulis dengan ukuran tebal disediakan untuk ditempel pada buku acuan yang mereka pelajari. Melalui cara ini rasa gugup dan malu cukup terkikis.

Ketika permintaan akan pendidikan gratis mulai menggelora di Amerika Serikat, perempuan belum banyak terlibat lantaran kurang mendapatkan kesempatan. Permintaan ini banyak dilatarbelakangi oleh alasan bahwa pemilik hak suara dalam pemilihan umum (pemilu) harus bertanggung jawab dan cerdas dalam menilai dan membincangkan informasi. Hanya saja hak suara dalam pemilu tak dimiliki oleh perempuan. Hal inilah yang membuat permintaan akan pendidikan gratis hanya dituruti untuk lelaki.

Setelah Troy Female Seminary, lembaga pendidikan yang membuka pintu untuk perempuan ialah Oberlin Collegiate Institute pada tahun 1833. Sayang anggapan bahwa perempuan adalah konco wingking (mitra yang lebih terbelakang) untuk lelaki masih berlaku di sana. Muatan pembelajaran yang diberikan pada perempuan juga baru terbatas untuk menyiapkan mereka sebagai ibu rumah tangga.

Deklarasi prinsip yang disahkan dalam pertemuan para feminis di Seneca Falls pada tahun 1848 memberi angin segar buat perempuan. Ketiadaan perempuan di bidang kedokteran, hukum, dan teologi mendapat perhatian. Dampaknya muncul Ellen Henrietta Swallow Richards, perempuan pertama yang menerima gelar Bachelor of Science pada tahun 1873 dari Massachusetts Institute of Technology memiliki peran dalam bidang ilmu lingkungan. Karyanya mengenai kimia sanitasi membuat namanya tak mudah diabaikan dan dilupakan.

Keberanian Ellen membuatnya menjadi sosok kontroversial di lingkungan konservatif. Dalam mengungkapkan perasaan, dirinya memang terbilang aktif. Ellen kerap berungkap bahwa lingkungan harus diperhatian ketika pembangunan dilakukan. Hal ini agar perilaku kriminal yang banyak terjadi akibat kemiskinan bisa ditekan. Ellen percaya bahwa semua orang, lelaki dan perempuan, dapat diajari untuk berpikir kritis dan tetap etis sebagai bagian lingkungan. Melalui survei yang dilakukan, Ellen  berhasil menyanggah anggapan bahwa pendidikan berbahaya bagi perempuan.

Pengakuan Peran Perempuan

Peran perempuan dalam menganyam kajian keilmuan mulai mendapatkan pengakuan luas tatkala Marie Skłodowska Curie menerima Hadiah Nobel pada 1903. Marie memang menerima apresiasi resmi ini bersama Antoine Henri Becquerel dan Pierre Curie. Hanya saja dirinya sanggup menunjukkan bahwa perempuan ada dan bisa berperan penting juga. Peran penting tak melulu hanya bisa diberikan oleh lelaki.

Marie mudah dikenal oleh rekan-rekan bukan hanya lantaran dirinya adalah perempuan. Ernest Rutherford yang pernah menulis tentang Marie di majalah Nature menganggap bahwa perempuan ini terbilang malang. Ernest menyebut malang gara-gara Marie cenderung pendiam, tidak mampu berbasa-basi, dan spaneng (serius tanpa bisa santai) ketika terlibat perbincangan. Namun begitu, melalui karyanya dirinya bisa berbicara lebih gamblang. Kemalangan sebenarnya buat Marie adalah dirinya ditolak menjadi anggota Royal Academy. Karena lembaga ini belum memiliki anggota perempuan, Marie ditolak atas nama pelestarian tradisi.

Rekam jejak azam Marie menginspirasi perempuan untuk tak ragu beradu dengan lelaki dalam bidang kajian. Puncaknya, pada tahun 1920, jumlah cerdik-cendekia dari kalangan perempuan mengalami peningkatan paling tajam sepanjang linikala peradaban. Sayang perang dunia kedua “mengembalikan” perempuan ke “habitat asli”. Hanya dalam kurun waktu 3 dekade saja, keadaan perempuan menjadi kosok bali.

Seiring perubahan drastis yang terjadi, lelaki tetap menegaskan dominasi dalam bidang kajian. Sementara perempuan, selain kembali ke “habitat asli”, lebih banyak menggeliat kuat dalam ranah hiburan. Kehadiran Norma Jeane Mortenson (Marilyn Monroe) sebagai penghibur barangkali menjadi moment penting. Moment untuk menahbiskan kejayaan perempuan di dunia hiburan, sedangkan dari ranah kajian mereka banyak yang berpaling.

Tapi tak mengapa. Kajian dan hiburan sama saja. Sama-sama menjadi sarana untuk menghibur ketika lara dan mengingatkan saat mapan. Sarana yang bertujuan untuk membangun lingkungan. Agar keadilan bisa dirasakan oleh seluruh kalangan dan ketimpangan bisa ditekan, andai tak bisa disirnakan.

References

  1. Bayon, H.P. (1940).Trotula and the ladies of salerno: a contribution to the knowledge of the transition between ancient and mediæval physick. Dalam Proceedings of the royal society of medicine, 33 (8), 471-475. [lihat]
  2. Beard, M.R. (1946). Woman as force in long history. Dalam Woman as a force in history: a study in traditions and realities. New York City : Macmillan Publishers. [lihat]
  3. Dang, L. (2016, 15 Januari). Meet the 22-year-old physics genius that harvard believes is the next einstein. NextShark. [lihat]
  4. de Beauvoir, S. (2010). Le deuxième sexe (alihbahasa inggris oleh constance borde dan sheila malovany chevallier). New York City: Random House, Inc. [lihat]
  5. Ehrenreich, B. & English, D. (2010). Witchcraft and medicine in the middle ages. Dalam Witches, midwives, & nurses (second edition): a history of women healers. New York City : The Feminist Press. [lihat]
  6. Flexner, E. & Fitzpatrick, E.F. (1996). Early steps toward equal education. Dalam Century of struggle: the woman’s rights movement in the united states. Cambridge: Harvard University Press. [lihat]
  7. 2015 30 under 30: science. Forbes. [lihat]
  8. Heil, E. (2017, 16 Mei). Nuclear chemist kara mccullough wins miss usa. Stuff. [lihat]
  9. Horton, S. (2008, 06 Januari). The vision of hildegard of bingen. Harper’s Magazine. [lihat]
  10. Minardi, C. (2008). Hypatia of alexandria. Dalam Graduate english association new voices conference 2008. Atlanta: Georgia State University. [lihat]
  11. Osen, L.M. (1974). Women in mathematics. Cambridge: MIT Press. [lihat]
  12. Setiawan, A.R.. (2016, 22 Januari). Dari mesopotamia ke mesopotamia. Kirana Azalea. [lihat]
  13. Setiawan, A.R. (2016, 09 Maret). Ionia. Kirana Azalea. [lihat]
  14. Singer, C. (2005). The visions of hildegard of bingen. Dalam The yale journal of biology and medicine, 78(1), 57-82. [lihat]
  15. Steinem, G. (2006, 19 Juli). Marilyn Monroe: Still Life. Public Broadcasting Service. [lihat]
  16. Zahm, J.A. (1913). Women in physics. Dalam Woman in science. New York City: D. Appleton & Company. [lihat]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *