Rumah Belajar Anak, Wujud Rasa Peduli pada Anak Berkebutuhan Khusus

Please log in or register to like posts.
News
Rumah Belajar Anak, Wujud Rasa Peduli ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

Setiap orangtua tentu berharap memiliki buah hati yang dilahirkan secara prima. Namun tak semua harapan bisa mewujud begitu saja. Beragam keadaan tidak prima bisa terjadi, mulai dari fisik yang tidak prima hingga gangguan tumbuh kembang yang dialami oleh anak. Saat dilahirkan anak tampak seperti normal namun seiring waktu muncul berbagai masalah seperti belum bisa bicara, anak cenderung hiperaktif, gangguan perilaku, asik dengan lingkunganya sendiri, dan sebagainya.

Butuh waktu bagi orangtua untuk menerima dan mengerti keadaan anak seperti ini, yang biasanya diistilahkan dengan ABK (ABK). Berbagai tanggapan psikologis orangtua akan muncul mulai dari penolakan, perasaan marah, sedih, saling menyalahkan , frustasi, bahkan depresi mungkin saja terjadi. Tanggapan psikologis yang dialami oleh orangtua merupakan suatu hal yang wajar karena mereka perlu waktu untuk beradaptasi secara fisik dan psikologis untuk menerima kehadiran ABK.

Memiliki ABK menjadi sarana belajar dan tantangan  bagi orangtua. Orangtua belajar untuk lebih sabar dalam menangani dan mengasuh anak karena orangtua di tuntut untuk mampu memahami, mengenal, menggali, mengarahkan  dan mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak.

Beri Ruang dan Kesempatan pada ABK

Rumah Belajar Anak, Wujud Rasa Peduli ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

Setiap ABK adalah unik, mereka memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lainnya dan memiliki kemampuan yang sangat baik di beberapa bidang seperti bermain musik, menggambar, komputer, bahkan kemampuan intelektual di atas rata-rata sehingga beberapa anak mampu menyelesaikan pendidikan sampai pada jenjang perguruan tinggi. Untuk itu orangtua dituntut untuk mampu mengenal dan menggali setiap potensi yang dimiliki anak serta berusaha untuk mengatasi berbagai kekurangan dan keterbatasan pada anak dengan menjalani berbagai terapi.

Orangtua yang belum memahami kondisi anak dan belum bisa menerima kehadiran anak dengan berkebutuhan khusus tentu akan menjadi suatu masalah yang akan berdampak pada kualitas hidup anak. Adanya perasaan malu memiliki ABK, pandangan sebelah mata dari masyarakat terhadap keluarga yang memiliki ABK menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga dalam membesarkan anak.

Orangtua seharusnya tidak perlu malu dengan kondisi anak, sebaliknya peran orangtua, kasih sayang dan perhatian dari orangtua dan anggota keluarga lainnya  sangat penting terhadap kualitas hidup anak kedepanya.

Orangtua  harus mampu  mengajarkan ABK untuk mandiri sesuai dengan kemampuan anak terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari seperti pemenuhan kebutuhan dasar, kebersihan diri, memenuhi hak anak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hak untuk hidup, hak mendapatkan perlakuan yang sama dengan saudara lainya serta  hak untuk berkembang. Selain itu orangtua juga berkewajiban untuk mendampingi anak dengan meluangkan waktu bersama anak, mengawasi pola serta tingkah laku anak, serta memberikan pola asuh yang tepat bagi ABK.

ABK harus diberi ruang dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan bakat dan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga mereka mampu mengembangkan kreativitas, sadar dan peduli  akan lingkungan luar. Namun kenyataanya masih terdapatkan beberapa diskriminasi  baik dari keluarga, maupun masyarakat. Diskriminasi akibat keterbatasan dan ketidakmampuan (discrimination base on disability) yang mereka alami dan diskriminasi sosial.

Beberapa contoh diskriminasi yang masih dialami seperti dibatasi dari kehidupan sosial, risakan,  dikucilkan oleh kelompok sebaya, ditelantarkan oleh kedua orangtua bahkan ada yang menjadi korban kekerasan. Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia. Setiap anak memiliki hak dan kesempatan yang sama, hak untuk hidup, berkembang dan berpartisipasi dalam pembangunan.

Orangtua selaku orang yang paling dekat secara fisik dan psikologis dengan anak, diharapkan dapat memberikan perhatian khusus, dukungan, kasih sayang, mampu mengarahkan anak untuk mendapatkan pendidikan yang tepat, dan menerima anak dengan segala kelebihan dan kekuranganya.

Orangtua harus sadar bahwa anak merupakan suatu amanah yang diberikan oleh Pencipta Alam Raya. Oleh karena itu, orangtua harus mampu menjalankan amanah tersebut dengan menjalankan peran dan fungsinya secara baik sebagai orangtua. Jika orangtua saja menolak kehadiran anak hanya karena ada suatu keterbatasan bagaimana anak akan dapat tumbuh dan berkembang secara baik, bagaimana anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki?

Masyarakat juga harus semakin peduli dan sadar bahwa ABK ada disekitar kita dan mereka memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Masyarakat harus dapat menerima kehadiran mereka dengan segala keunikanya, kemampuannya, kelebihan dan keterbatasanya.

Selanjutnya diharapkan tersedianya pelayanan publik yang lebih baik lagi dengan peningkatan sarana dan prasarana, adanya pengembangan serta kombinasi  kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kebutuhan akademik saja namun juga pada pengembangan ketrampilan anak, dan tersedianya beasiswa bagi yang kurang mampu dan berprestasi. Sehingga anak dan orangtua merasa dihargai dan tidak dikucilkan serta keberadaan mereka diterima oleh masyarakat.

Rumah Belajar Anak, Wujud Rasa Peduli ABK (Anak Berkebutuhan Khusus)

Rumah Belajar Anak, Menyediakan Pelayanan untuk ABK

Salah satu lembaga yang menyediakan pelayanan tersebut ialah Rumah Belajar Anak (RBA), tempat terapi bagi ABK dan juga bimbingan belajar untuk umum. Lembaga yang berlokasi di Mlati Lor, RT/RW 002/002 No. 187, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ini memberi terapi tanpa perlu bolak-balik control teratur ke rumah sakit, rontgen, serta mengonsumsi obat-obatan.

RBA melatih perkembangan motorik kasar dan halus anak, dengan harapan agar mereka tak merasa terpinggirkan dari lingkungan. Seperti ungkapan yang senantiasa digelorakan, “Aku Sama Denganmu”, RBA berupaya agar perbedaan takdir tak membuat rasa sama harus langsir.

Program yang diberikan pada siswa RBA antara lain: fine motor skill, gross motor skills, edukasi, senam otak, outdoor learning, religious education, fisioterapi, terapi wicara, ADL (the activity of daily living), hasta karya, home visit, shadow teacher ke sekolah, dan tes psikologi. RBA juga membuka program lain berupa kelas reguler dua jam dan seharian, kelas hobi yang meliputi seni rupa dan seni tari, serta kelas Bahasa Inggris dan Matematika.

Salah satu ABK yang menimba ilmu di tempat tersebut Arsa (Aca), yang mengikuti terapi wicara di sini. Oleh keluarganya, RBA disebut dengan ‘sekolah sore’. Sakit radang otak yang dulu menyerang menyebabkan Aca mengalami terlambat bicara (speech delay). Pada usia 2 tahun, kosakata Aca masih sangat sedikit.

Setelah konsultasi, disarankan memang harus terapi wicara. Ada beberapa alternatif terapi wicara, semuanya di rumah sakit yang berbeda. Keputusan orangtua saat itu adalah tidak untuk rumah sakit (lagi). Aca melalui tahun pertama hidupnya dengan bolak-balik masuk rumah sakit, rontgen, obat-obatan, serta control teratur setiap dua pekan. Ibunga sungguh tidak ingin Aca melalui hal itu lagi. Stop.

Lantaran pencarian melalui daring, sang ibu menemukan beragam artikel tentang speech delay, terapi-terapinya, sampai kemudian tahu kalau di Kudus ada tempat terapi juga yang bukan rumah sakit, yakni di RBA. Akhirnya, DIputuskan Aca terapi wicara di RBA, yang sepenuh hati menerimanya. Sebenarnya bukan khusus terapi wicara saja, terapi untuk perkembangan motorik kasar dan halusnya Aca juga dilatih, mengingat Aca memang lemah dalam hal ini.

Sejauh ini, Aca sudah semakin bagus perkembangan bicaranya. Sudah mulai banyak ngomong sendiri, sudah mulai mau menirukan kata-kata baru, sudah jauh lebih bagus kemampuan komunikasinya. Sudah bisa membaca dua suku kata. Motorik kasar dan halusnya juga sudah semakin meningkat.

Role Model Women Era Now : Eny Rochmawati Octaviani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *