Meyda Sefira: Rindu Ayah Ibu

Please log in or register to like posts.
News
Meyda Sefira: Rindu Ayah Ibu

“Muliakanlah orangtua, maka Allah, akan memuliakanmu.

Janganlah membuat diskriminasi untuk memilih lebih mencintai salah satunya. Rasulullah, dalam salah satu hadist menyatakan bahwa ibumu, ibumu, dan ibumu. Semata-mata menunjukkan ada 3 peran yang tidak dapat digantikan oleh Ayah kita tersayang, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui. Namun, bukan berarti karena hal itu kita menjadi tidak sayang. Bayangkan dalam darah kita yang kemudian berubah daging dan membentuk organ-organ tubuh dan menjadi sempurna seperti sekarang, ada kerja keras ayah kita, ada peluh keringat ayah kita, dan ada senyum yang terukir meski lelah tidak pernah dapat terukur. Cintailah keduanya dengan sepenuh hati, dengan segenap upaya untuk membahagiakannya, kirim doa untuk untuk keberkahan usia dan kesehatannya. Bila sahabat semua masih memiliki orangtua yang lengkap, sering-seringlah bersyukurlah kepada Allah, karena kedua orang tua merupakan pintu tengah dari surga yang kita rindukan selama ini.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orangtuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Bila orang tua kita telah tiada, birrul walidain tetaplah berlaku, karena ada 3 amalan yang membantu orang tua kita di alam kuburnya, salah satunya adalah doa anak yang saleh. Tetaplah bahagiakan dirinya meski kita berada dalam dimensi kehidupan yang berbeda.

Cintanya tak pernah pamrih

Aku tidak pernah menemukan cinta manusia yang sedemikian tulus selain cinta kedua orang tuaku. Aku bertumbuh, meraih beberapa pencapaian dalam hidupku, dan berharap ada sepatah kata meminta sesuatu dari mereka atas kerja penuh cintaku, tapi sampai hari ini aku tidak pernah menemukannya. Aku sering bertanya, apa yang mama dan papa inginkan dariku? Jawaban mereka, hanya ingin aku bahagia dalam hidup. Lagi-lagi, orientasinya hanyalah untuk kebaikanku,bukan untuk mereka.

Cintanya selalu setia, meski dunia berpaling

Pernahkah  merasa dilemahkan? tidak dianggap oleh yang lain, atau bahkan diremehkan? Ya, mungkin semua pernah merasakan hal itu. Tetapi, begitu kembali ke rumah, perasaan itu mendadak menguap, karena ada sepasang “malaikat” yang tersenyum tulus dan menguatkan. Aku pernah merasa dunia tidak adil padaku, semua seakan-akan menganggapku adalah makhluk kelas dua hanya karena sesuatu. Sepintar apapun aku menyembunyikan perasaan sedihku, mama dan papa pasti merasakan.

Hidupkan impian kita bersama restu dan doa kedua orang tua

Barang kali tanpa disadari, saat diri beranjak dewasa, kita semakin nyaman dengan kemandirian kita. Kita semakin nyaman dengan target-target hidup kita dan akhirnya terlupa, bahwa keberhasilan yang kita raih bukanlah semata mata kerja keras dan kerja cerdas kita saja. Di sana ada peluh keringat orangtua kita, ada tangisan dalam hening mereka saat bersujud meminta kepada Yang Mahakuasa untuk selalu melindungi kita.  Ada ikhtiar yang diusahakan mereka, agar kita senantiasa sehat dan siap menjemput mimpi kita tiap harinya. Atau mungkin kita merasa kesulitan hidup ini, hanya kita sendiri yang menanggungnya. Padahal tanpa kita sadari, bila rela berbagi sedikit saja informasi tersebut secara tersirat, maka orangtua

Setiap hendak bercerita dengan mereka, mendadak lidahku kelu karena banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tetapi, saking banyaknya yang ingin aku ceritakan, aku malah bingung untuk memilih kata mana yang pantas untuk diceritakan. Ternyata bukan hanya lidahku yang bermasalah namun juga pikiranku, mereka seakan akan berkongsi karena bingung dengan begitu banyaknya informasi yang harus diberikan.

Sementara aku berjauhan dengan suamiku, Bang Jusuf, aku diminta suamiku untuk tinggal bersama kedua orangtuaku. Orangtua tetaplah seorang ayah dan ibu. Meski sudah menikah, mama dan papa tetaplah memperlakukanku selayaknya gadis kecilnya dahulu yang masih harus dilindungi dari segala “duri”, yang masih terlihat rapuh sehingga perlu pengawasan. Ke mana pun aku pergi meninggalkan rumah, mama dan papa tetaplah bertanya secara detail tentang tujuan aku pergi, mau ke mana, dengan siapa, dan kapan akan pulang. Ada hal membuat “nyes” di hatiku, beliau-beliau ini senantiasa berupaya untuk mengantar atau menjemputku, iya sampai sekarang. Tidak memedulikan betapa lelahnya mereka. Aku pun terharu dengan wajah yang tidak pernah berubah yang ditunjukkan kepadaku, yaitu wajah yang bersemangat dan ceria bila putrinya senantiasa ada dalam pengawasannya.

Papaku tersayang, usianya memang tidaklah muda lagi, insya Allah tahun ini (2016) akan memasuki usia 66 tahun. Tapi bertambahnya usia beliau tidak mengurangi perhatiannya kepadaku. Laki-laki memang tidaklah terbiasa menggunakan kalimat verbal untuk menyatakan kasih sayangnya, begitu juga papa. Suatu hari aku teramat merasa terharu dengan papa, yang ternyata diam-diam mencatat jadwal kuliahku (aku sedang melanjutkan kuliah pasca sarjana di ITB, jurusan teknik lingkungan saat ini). Hal itu aku ketahui, saat aku pulang terlambat karena harus mengerjakan tugas di kampus bersama teman-temanku. Saat itu, aku khilaf karena lupa memberi kabar kepada papa dan mama. Papa langsung menghubungiku dan bertanya, kenapa sampai jam segini belum pulang, kemudian aku menjawab bahwa masih ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Setelah sampai di rumah, sambil tersenyum papa bilang bahwa aku tidak bisa berkelit bila pulang terlambat, karena beliau telah mencatat jadwal kuliahku secara diam-diam berdasarkan pertanyaan yang senantiasa beliau ajukan setiap pagi hari. Ya Allah, aku amat terharu dengan tindakannya itu, papa tidak pernah berubah. Tetap menjadi seorang papa yang teliti, disiplin.

Lain papa lain juga mama, tetap tulus menyayangiku dengan tindakan yang berbeda namun maknanya sama. Mama selalu diam-diam menyiapkan kudapan kecil tanpa aku sadari, saat aku bergelimpangan dengan tugas-tugas kuliah dan pekerjaan, sehingga menuntutku untuk berada di depan laptop dalam waktu yang cukup panjang. Saking fokusnya aku tidak sadar dengan keberadaan mama. Ia membawakanku makanan kecil atau hanya sekadar minuman hangat agar aku tetap sehat. Terima kasih Ma, sayang mama begitu berarti untukku. Mama tetaplah ibuku di masa kecil yang cerewet akan sarapan, aku tidak diperkenankan meninggalkan rumah dalam keadaan perut koson. Mama bilang supaya aku bisa fokus untuk belajar dan memberikan yang terbaik untuk umat dari ilmu yang aku jemput.

Setelah menikah aku memiliki tambahan orangtua yakni ibu mertuaku yang biasa aku panggil Mami. Beliau juga sama seperti mama, wanita sederhana yang sangat perhatian dengan anak-anaknya. Aku ingat suatu hari aku pernah tinggal bersama beliau di Bekasi, saat harus menyelesaikan proses syuting sinetron. Mungkin karena kelelahan, aku jatuh sakit, badanku demam, mual, dan pusing. Aku hanya mengatakan bahwa aku sakit kepada adikku, namun berita itu sampai ke telinga beliau. Saat itu, mami sedang berada di rumah yang berlainan namun tidak terlalu jauh. Dalam kedaan hujan rintik-rintik beliau datang bersama kakak iparku, Kak Iqbal, membawakan semangkuk bubur. Sebenarnya, aku tidak berselera untuk makan, tapi demi menghargai usaha beliau, aku mencoba memaksakan untuk makan. Kemudian beliau sibuk memasak di dapur untuk memasakkan makanan untukku yang sedang sakit. Mami yang memiliki darah Manado, kebetulan mendapat kiriman ikan cakalang dari saudaranya. Meski lelah dengan perjalanan, mami kemudian memasak makanan kesukaanku dan selera makanku pun terbit lagi. Oh iya ayah mertuaku telah meninggal dunia sebelum aku menikah dengan Bang Jusuf yaitu pada tahun 2012. Namun insya Allah aku senantiasa mendoakan beliau dalam doaku, karena aku percaya beliau bila masih ada adalah sosok yang baik hati juga.

Tidak ada hal yang lebih aku syukuri dengan keluarga yang baik dan senantiasa mendukungku. Rasanya tidak adil bahwa bila aku punya impian dalam hidup tidak menyertakan mama, papa, dan mami dalam ikhtiarku. Aku memiliki tiga orang yang begitu luar biasa, doa serta dukungannya. Sehingga aku selalu membiasakan untuk menyelaraskan impianku dengan mereka. Bahkan ketika menghadapi sesuatu, aku berupaya berkomunikasi dengan ketiganya, dan seperti biasa doa meluncur begitu mudah dari orang-orang yang kusayangi ini. Termasuk bila mendapatkan impianku ,tak lupa aku ucapkan terima kasih, karena apalah arti diri kita bila kita tidak memuliakan kedua orangtua kita. Kita yang sekarang adalah berkat peran beliau-beliau ini.

Mama, Mami, Papa, dan Papi, aku ingin meraih surga bersamamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *