Ragam Kata Manusia Dalam Penyebutan Alquran

Please log in or register to like posts.
News
Ketika Manusia Disebutkan Alquran

Ragam Kata Manusia Dalam Penyebutan Alquran

Allah telah menciptakan manusia untuk menjadi Khalifah «خليفة» Allah  sebagai pengelola di Bumi, seperti disebutkan dalam Alquran «القرآن»:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

«القرآن سورة البقرة : ٣٠»

yang dapat diartikan kira-kira:

“Dan ingatlah ketika Dia bersabda kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku menjadikan Khalifah di bumi!’ Mereka pun bertanya: ‘Apakah akan Kau jadikan di bumi orang yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah sedangkan kami senantiasa memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Dia berkata: ‘Aku tahu apa yang kalian tak tahu.’”

(Alquran Surat al-Baqarah : 30)

Kita semua sering membaca, mendengar, atau menyimak kata dalam Alquran yang dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘manusia’. Seakan hanya ada satu kata saja yang dipakai untuk menyebut manusia, seolah tak ada perbedaan apapun saat kata-kata yang dialihbahasakan itu diungkapkan.

Padahal kalau kita mau cermati kurang gawean, terdapat tiga kata yang dipakai untuk menyebut ‘manusia’. Masing-masing penyebutan memiliki penekanan tersendiri yang menyiratkan bahwa manusia memiliki beberapa sisi.

Tiga Kata Bermakna Manusia dalam Alquran

Pertama, ‘manusia’ disebut dengan ‘al-basyar’ «البشر», seperti dapat ditemukan antara lain dalam ayat:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

«القرآن الكريم سورة فصلت : ٦»

Penyebutan seperti ini bermakna ‘manusia’ sebagai makhluk individual dalam dimensi jasmani, ialah makhluk yang memiliki badan.

Kedua, ‘manusia’ disebut dengan sebutan ‘al-insan’ «الإنسان», seperti dapat ditemukan antara lain dalam ayat:

وَالْعَصْرِ ۞ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۞ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ۞

«القرآن الكريم سورة العصر : ٣-١»

Penyebutan seperti ini bermakna ‘manusia’ sebagai makhluk individual dalam dimensi ruhani, ialah makhluk yang memiliki perasaan.

Ketiga, ‘manusia’ disebut dengan sebutan ‘an-naas’ «الناس», seperti dapat ditemukan antara lain dalam ayat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

«القرآن الكريم سورة الحجرات : ١٣١»

Penyebutan seperti ini bermakna ‘manusia’ sebagai makhluk sosial, ialah makhluk yang memiliki kecenderungan berkumpul atas dasar kesamaan jasmani dan/atau ruhani.

Ajakan Alquran untuk Menyadari Sisi Manusia

Dalam pemahaman seperti ini, Alquran mengajak kita untuk menyadari sisi-sisi manusia yang kita miliki. Melalui kesadaran tersebut, kita dituntun untuk mengelola bumi dengan memperhatikan sisi individual (jasmani dan rohani) maupun sosial seutuhnya tanpa mengutamakan atau meminggirkan salah satunya. Dengan demikian, setiap perbuatan yang dilakukan tidak memberatkan diri sendiri dan orang lain.

Mungkin setiap manusia terlihat berbeda ketika dilihat melalui penerapan yang tampak. Bisa jadi satu sisi lebih terlihat jelas ketimbang sisi lainnya. Hanya saja perbedaan ini hanya pilihan yang diambil sesuai keadaan yang dialami dan kenyamanan yang dijalani.

Inilah kita, manusia, yang diciptakan untuk menjadi ‘pengganti’ Allah sebagai pengelola di Bumi. Marilah kita laksanakan tugas yang diberikan oleh Allah kepada kita, sejak penciptaan manusia baru direncanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *