Persoalan Perempuan dalam Islam

Please log in or register to like posts.
News
Persoalan Perempuan dalam Islam

Persoalan Perempuan dalam Islam, Al-Quran diturunkan untuk pertama sekali di lingkungan sosial-budaya Arab. Sebuah lingkungan yang hanya mengenal satu jenis kelamin manusia, yaitu lelaki. Saat itu, perempuan lebih tepat disebut sebagai barang yang dapat diperjual-belikan dan diperlakukan layaknya budak. Lebih parahnya lagi, mereka juga menjadi barang warisan yang dimiliki oleh anak tirinya yang tertua (yang berjenis kelamin lelaki), apabila suaminya meninggal. Inong dianggap sama dengan peng.

Al-Quran dan ajaran Islam hadir di tengah-tengah keadaan seperti itu, keadaan yang sangat patriarki dan diskriminatif bagi perempuan. Hal ini yang kemudian memicu beberapa kalangan untuk menyatakan bahwa ajaran Al-Quran itu dikriminatif terhadap perempuan. Beberapa kalangan lainnya tampak “menikmati” penafsiran seperti itu. Sebagian yang lain memilih lari dari perdebatan tersebut, dengan mengikuti berita seputar girl group Korea Selatan misalnya.

Ada satu kisah pada masa Rasulullah yang dapat menggambarkan bagaimana Islam ingin membangun kembali kedudukan lelaki dan perempuan dalam masyarakat yang kocar-kacir tersebut. Pada suatu ketika Asma binti Yazid datang menghadap Rasulullah, ia menguraikan isi hatinya, “Demi bapak dan ibuku, aku merupakan perwakilan dari utusan perempuan yang menghadap kepadamu. Tidak ada seorang perempuan pun yang ada di timur maupun di barat mendengarkan jalan keluarku ini kecuali mereka sama dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah telah mengutusmu (dengan kebenaran) kepada kaum lelaki dan perempuan, sehingga kami percaya kepadamu dan kepada Tuhan yang telah mengutusmu. Sesungguhnya kami kaum perempuan ini adalah orang-orang yang terbatas mengurusi persoalan rumah tangga kalian, menjadi tambatan berahi kalian dan orang-orang yang mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian, kaum lelaki, dilebihkan dari kami dengan bisa melakukan shalat jum’at, berjama’ah, dan menengok orang sakit. Sedangkan kami  menjaga harta kalian saat kalian meninggalkan rumah, kami menyulam baju-baju kalian dan kami merawat anak-anak kalian. Wahai Rasulullah, apakah kami boleh melakukan hal yang sama dengan yang kalian lakukan untuk mendapatkan pahala?” Mendengar penyataan ini, Rasulullah pun menjawab, “An-nisa’ syaqaiqu al-rijal” (perempuan adalah saudara laki-laki).

Berdasarkan uraian di atas, pada dasarnya Rasulullah ingin mengangkat derajat para perempuan untuk setara dengan lelaki, dengan cara menyebutkan mereka sebagai saudara lelaki. Layaknya saudara, maka kaum perempuan mendapatkan penghormatan yang sama sebagaimana kaum lelaki dan tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang dapat merugikan sebelah pihak.

Al-Quran Tidak Pernah Membedakan Antara Lelaki dan Perempuan

Semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai makhluk Tuhan. Sebagaimana dalam surat An-Nisa ayat 32 dan 124 serta dalam surat Ali-Imran ayat 195.

Dari pembacaan terhadap ayat-ayat Al Quran di atas, tidak ditemukan adanya indikasi bahwa Al-Quran melebihkan atau mengunggulkan lelaki daripada perempuan (diksriminatif). Lelaki dan perempuan disebutkan secara bersamaan. Siapapun yang melakukan kebaikan maka akan diberi pahala dan siapapun yang berbuat dosa maka akan dihukum. Keduanya memiliki potensi dan peluang yang setara untuk menjadi hamba ideal, yaitu menjadi pribadi yang bertakwa.

Namun, disadari atau tidak, ada beberapa ayat yang apabila diterapkan pada era sekarang “sangat rentan” memicu adanya pandangan diskriminatif. Sebut saja surat An-Nisa ayat 3 tentang kebolehan poligami, surat An-Nisa ayat 11 tentang warisan yang menyebutkan bahwa perempuan mendapatkan setengah dari lelaki, serta surat An-Nisa ayat 34 yang menyatakan bahwa lelaki pemimpin perempuan. Ketiga contoh ini terkesan menguntungkan sebelah pihak, yaitu kaum lelaki.

Ayat-ayat Yang Memicu Diskriminasi

Ini seharusnya dilihat dengan semangat yang ingin disampaikan dalam ruang lingkup saat itu. Adanya poligami misalnya. Pada tradisi Arab Jahiliah (Pra-Islam), poligami adalah suatu tradisi yang sudah mengakar kuat, bahkan tak ada batasan saat itu. Lelaki dengan seenaknya boleh berpoligami dengan banyak perempuan. Al-Quran, sebagai kitab petunjuk, ingin menghentikan tradisi tersebut. Namun, tradisi yang sudah mengakar kuat di tengah masyarakat Arab ini tidak bisa serta-merta dilarang secara tegas. Oleh sebab itu, Al-Quran memberikan batasan dalam berpoligami, yaitu hanya boleh beristri sampai empat orang, dengan syarat dapat berlaku adil terhadap istri-istrinya. Namun, Al-Quran kemudian menginformasikan mengenai ketidakmampuan suami untuk berlaku adil terhadap istri-istri mereka (Surat An-Nisa ayat 129). Berdasarkan dalil ini, beberapa cendekiawan muslim berpendapat bahwa ajaran Al-Quran, pada dasarnya, tidak menganjurkan untuk berpoligami, bahkan memerintahkan sebaliknya (monogami). Al-Quran ingin menghapuskan kebiasaan berpoligami dengan Pelan-Pelan Saja seperti lagu Kotak.

Mengenai Warisan

Yaitu perempuan mendapatkan separuh dari lelaki. Pada masa Arab Jahiliah para perempuan tidak mendapatkan warisan atau harta apapun, bahkan mereka dijadikan barang warisan (diwariskan). Islam datang ingin mendudukkan perempuan ditempatnya sebagai manusia. Jika lelaki mendapatkan warisan, maka tidak ada alasan untuk perempuan tidak mendapatkan warisan. Semangat penyerataan inilah yang harus dilihat dari persoalan ini. Perempuan yang dulunya dianggap sebagai barang warisan menjadi manusia yang mendapatkan warisan sebagaimana lelaki. Ini merupakan penghargaan yang begitu besar bagi para perempuan saat itu. Cara yang cukup revolusioner dan berbeda dengan “penghentian” poligami yang cenderung evolusioner. Sedangkan mengenai harta warisannya setengah dari lelaki karena memang saat itu lelaki memiliki peranan dan tanggung jawab sosial yang lebih besar daripada perempuan. Karena perempuan jika bersuami atau tidak, maka bagian itu untuk hidup sendiri. Tetapi lelaki yang mempunyai istri wajib memberi nafkah pada istrinya. Sistem ini yang berlaku di lingkungan Arab.

Adapun mengenai ayat ar-rijalu qawwamuna ‘ala an-nisa (lelaki adalah pemimpin bagi perempuan) itu bukanlah ayat superioritas lelaki atas perempuan, namun lebih kepada kewajiban lelaki untuk melindungi istrinya dalam segala hal. Budaya patriaki yang mengakar kuat dalam masyarakat Arab juga mempengaruhi turunnya ayat ini.

Tak hanya disitu saja jasa Al-Quran mengangkat derajat perempuan, Al-Quran juga mengabadikan kata “perempuan” dalam satu surat diantara 114 surat yang ada dalam Al Quran, yaitu surat ke-4, An-Nisa. Hal ini juga menunjukkan bagaimana Al-Quran sangat memperhatikan perempuan yang pada masa sebelumnya dihina, bahkan tidak dianggap sebagai manusia.

Al-Quran menyebutkan bahwa semua manusia memiliki kedudukan dan derajat yang sama, entah lelaki atau perempuan. Hanya ketakwaan saja yang dapat membedakan mereka di sisi-Nya (Surat Al-Hujurat ayat 13). Namun, ketika kenyataannya ditemukan banyak terjadi penyimpangan dari semangat yang ingin disampaikan oleh Al-Quran, itu murni dari sisi pemahaman dan penafsiran seorang mufassir. Al-Quran merupakan wahyu Allah, sedangkan tafsir adalah hasil pemikiran manusia.

Sebagai Kitab Petunjuk, ia Membawa Keadilan, Kesetaraan, dan Perdamaian

Unsur-unsur ini merupakan bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya keadilan, kesetaraan, dan perdamaian, kehidupan manusia akan menderita dan sengsara. Itu yang dialami oleh perempuan pada masa Arab Jahiliyah.

Kalau misi Al-Quran sendiri ingin terealisasikannya keadilan dan penyerataan antara lelaki dan perempuan, lantas kenapa kita harus sebaliknya? Sudah saatnya perempuan tak hanya berkutat dalam hal domestik. Mereka juga berhak untuk keluar rumah, berkarya, dan aktif dalam kehidupan sosial.

Belum lama berlalu terungkapnya skandal keuangan (korupsi, suap, dsb dst) dalam tubuh FIFA, organisasi sepak bola tingkat dunia. Skandal yang sudah lama berhembus mulanya baru sebatas rumor. Hingga akhirnya Loretta Lynch, Jaksa Agung Amerika Serikat berhasil memimpin penyelidikan untuk membongkar skandal tersebut. Sebelum menjadi Jaksa Agung, perempuan lulusan Fakultas Hukum Universitas Harvard ini dikenal sebagai pribadi yang tangguh, independen, dan sangat dihormati hingga mendapat julukan campuran “baja dan beludru”. Ia juga berani berjuang membela hak-hak sipil dan menuntut para penajahat kerah putih di Wall Street yang biasanya ditakuti oleh para praktisi hukum even lelaki sekalipun.

Angela Merkel juga demikian. Perempuan yang dulunya merupakan Ilmuwan Sains yang kemudian terjun ke kancah politik itu menjadi Kanselir Jerman. Ia membawa Jerman menjadi negara yang hebat yang mampu membuat Amerika Serikat dan Rusia sangat hormat. Merkel melanjutkan ketangguhan Girls’ Generation (generasi perempuan) yang mulai mengelora semasa Margaret Tatcher menjadi perdana menteri Britania Raya. Bahkan dalam pemilu Amerika Serikat 2016, kandidat terkuat diisi oleh perempuan, Hillary Rodham Clinton.

Di Dunia Islam Juga ada Sosok Perempuan “penjebol” Tradisi Monopoli Lelaki

Aisyah Abdur Rahman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bintu Syathi mungkin dapat dijadikan inspirator bagi kaum perempuan untuk dapat berkarya layaknya kaum lelaki. Walaupun ia hidup di Mesir yang pada saat itu (era 40-an) tidak mendukung perempuan untuk berkarya, namun keberaniannya tak pernah menyusut. Ia dianggap sebagai pelopor pembangkit emansipasi wanita di Mesir. Bentuk pemikirannya yang merujuk kepada pembebasan kaum perempuan telah ia curahkan sepenuhnya dalam bentuk sastra.

Tak hanya sampai disitu, Bintu Syathi juga meruntuhkan pandangan yang selama ini berkembang, yaitu seorang ahli tafsir hanya dari kaum lelaki. Ia maju menunjukkan pada dunia bahwa ia juga mampu seperti layaknya lelaki yang menuliskan kitab tafsir. Hingga akhirnya, ia menulis kitab tafsir yang berjudul Tafsir al-Bayani li al-Qur’an al-Karim sebanyak 2 jilid.

Kitab tafsirnya ini tak hanya mengagetkan dunia timur, namun juga dunia barat. Sebut saja J.J.G. Jansen, seorang orientalis yang menulis sebuah buku dari hasil penelitiannya terhadap tafsir modern yang berkembang di Mesir, yaitu The Interpretation of The Koran in Modern Egypt. Dalam bukunya itu, Bintu Syathi tercatat sebagai tokoh mufassirah (ahli tafsir Al-Quran) pertama di dunia yang menulis kitab tafsir Al-Quran.

Sikap berani “beda” ini patut untuk diapresiasi. Sudah saatnya, bagi para perempuan di Indonesia, untuk meneladani ketangguhan dan keberanian Lynch, Merkel, Tatcher, Hillary, serta Bintu Syathi melalui sepak terjang dan karya-karya yang monumental.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *