Pengetahuan, Perasaan, dan Tindakan merupakan Karakter

Please log in or register to like posts.
News
karakter

Karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat (Damayanti, 2014, hlm. 11).

Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain (Lickona, 2013, hlm. 81). Berdasarkan hal tersebut, karakter tidak hanya mencakup bagaimana seseorang merespon secara nalar, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam bentuk tindakan. Berkaitan dengan hal ini, Thomas Lickona mengemukakan bahwa karakter yang baik mencakup tiga aspek karakter, yaitu Pengetahuan Moral (Moral Knowing), Perasaan Moral (Moral Feeling), dan Tindakan Moral (Moral Action).

Moral Knowing merupakan hal yang penting untuk diajarkan, Moral Feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada anak yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral, Sedangkan Moral Action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. Ketiga aspek tersebut diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral, yaitu untuk membentuk kedewasaan moral (Muslich, 2013, hlm. 133).

pengetahuan

Setiap aspek karakter dibentuk oleh beberapa komponen karakter sebagaimana disajikan berikut:

  1. Moral Knowing

  • Kesadaran Moral: Menggunakan intelegensi untuk melihat jika situasi meminta penilaian atau pertimbangan moral, dan kemudian untuk berpikir secara hati-hati tentang apa yang benar dari perilaku tersebut.
  • Mengetahui Nilai-Nilai Moral: Nilai moral tersebut antara lain: rasa hormat tentang kehidupan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keterbukaan, toleransi, kesopanan, disiplin diri, integritas, kebaikan, perasaan kasihan, dan keteguhan hati.
  • Pengambilan Perspektif: kemampuan untuk memberi pandangan kepada orang lain, melihat situasi seperti apa yang dilihat, membayangkan sebagaimana dia seharusnya berpikir, mereaksi dan merasakan.
  • Penalaran Moral: merupakan pengertian tentang apa dan dimaksud dengan bermoral dan mengapa kita harus bermoral.
  • Pengambilan Keputusan: kemampuan mengambil keputusan dalam menghadapi masalah-masalah moral.
  • Pengetahuan Diri: kemampuan untuk mengenal atau memahami diri sendiri, hal ini paling sulit untuk dicapai tetapi sangat diperlukan untuk pengembangan moral.
  1. Moral feeling

  • Hati Nurani: memiliki dua sisi, yaitu sisi kognitif adalah pengetahuan tentang apa yang benar, sisi emosi adalah perasaan wajib bertindak tantang kebenaran.
  • Harga Diri: Jika kita mengukur harga diri kita sendiri berarti kita menilai diri sendiri. Jika kita menilai diri sendiri, berarti kita merasa hormat terhadap diri sendiri. Dengan demikian, kita akan mengurangi penyalahgunaan pikiran dan badan kita sendiri. Harga diri atas nilai-nilai, seperti tanggung  jawab, kejujuran, dan kebaikan atas dasar keyakinan dan kemampuan mereka sendiri.
  • Empati: kemampuan untuk mengidentifikasi dengan atau seolah-olah mengalami sendiri apa yang dialami orang lain, dan dilakukan untuk orang lain.
  • Menyukai Kebaikan: Bentuk tertinggi dari karakter, termasuk menjadi tertarik dengan kebaikan yang sejati.
  • Kontrol Diri: kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri, dan hal ini diperlukan juga untuk mengekang kesenangan diri sendiri.
  • Kerendahan Hati: bagian dari aspek afektif dari pengetahuan terhadap diri sendiri yang merupakan bagian terpenting dari karakter yang baik.
  1. Moral Action

  • Kompetensi: kemampuan untuk menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dan perasaan dalam perilaku moral yang efektif. Untuk memecahkan konflik secara terbuka dan jujur, dalam hal ini diperlukan keterampilan praktis, misalnya keterampilan mendengar, berkomunikasi dengan jelas, dan memutuskan bersama suatu masalah yang dapat diterima secara timbal balik.
  • Kehendak: memobilisasi energi moral untuk bertindak secara baik dan benar.
  • Kebiasaan: Pengalaman yang diulang dalam melakukan kebaikan.
Pustaka

Damayanti, D. (2014). Panduan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah. Yogyakarta: Araska.

Lickona, T. (2013). Mendidik Untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Muslich, M. (2013). Pendidikan Karakter, Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *