Pendakwah yang Ditentang Umat Islam

Please log in or register to like posts.
News
Meyda Sefira: Hijabku Impianku

Sejumlah pendakwah Islam, baik yang dinilai ‘konservatif’ maupun ‘liberal’ ditolak berdakwah di beberapa tempat di tanah air oleh kelompok umat Islam tertentu.
Oleh karena itu dua cendekiawan Muslim menyarankan agar para ulama ‘mengontrol diri’ dan tidak berpandangan ‘hitam-putih’ saat menyampaikan ceramahnya.
Yang terakhir ramai dibahas adalah kasus Ustad Abdul Somad yang ditolak berdakwah oleh sekelompok warga di Bali -antara lain oleh Pondok Pesantren Soko Tunggal Abdurrahman Wahid, Jumat (08/12).
“Di Youtube beredar pernyataan dia (Somad) mengatakan (bahwa) umat lain kafir. Dia selalu bicara soal dukungan pada pembentukan kilafah. Padahal masyarakat sudah sepakat untuk mendukung Pancasila dan NKRI,” kata Gus Yadi, Ketua Pondok Pesantren Soko Tunggal Abdurrahman Wahid, kepada BBC Indonesia.
Namun setelah dimediasi oleh Kapolresta Denpasar, Kombes Pol. Hadi Purnomo, Ustad Somad akhirnya dibolehkan berceramah setelah ‘melantunkan Lagu Indonesia Raya dan mencium bendera merah putih’ sesuai permintaan penentangnya.
Tidak hanya kepada penceramah yang dinilai ‘konservatif’, penolakan juga terjadi pada pendakwah Islam yang dianggap ‘liberal’, seperti yang dialami penulis berbagai buku tentang Islam, asal Kanada, Irshad Manji, pada Mei 2012 lalu.
Diskusi buku Manji yang berjudul Allah, Liberty and Love , di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, kala itu ditetang oleh sejumlah ormas, di antaranya Front Pembela Islam (FPI), yang menuding Irshad Manji sedang mengampanyekan LGBT.
Manji adalah seorang Muslim lesbian.
“Tetapi diskusi waktu itu adalah soal bukunya, tentang penafsiran bagaimana Islam yang lebih ramah dan humanis. Tidak ada kampanye soal LGBT,” tegas Lanny Octavia, cendekiawan peneliti soal Islam dan gender yang hadir dalam acara itu.
“Namun, diskusi dihentikan karena sudah tidak kondusif. Ada yang bawa balok, melempar.”
Penolakan terhadap ulama Islam tercatat juga pernah dialami oleh Ulil Abshar Abdalla, Felix Siauw, Rizieq Shihab, Nuril Arifin Husein atau Gus Nuril, Bachtiar Nasir bahkan mendiang Abdurrahman Wahid.
Persoalan di ulama?
Peneliti Islam Lanny Octavia menegaskan tidak setuju dengan penolakan terhadap ustad, baik yang liberal maupun konservatif oleh berbagai kelompok masyarakat dengan alasan bahwa langkah itu “adalah pelanggaran terhadap HAM, hak berserikat dan berpendapat.”
Hal senada disampaikan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP), Syafiq Hasyim, yang sekaligus mengindikasikan penolakan terhadap dakwah sejumlah ulama itu karena ‘kurang adanya kontrol diri’ dari para ustad sendiri.
“Misalnya Abdul Somad atau Felix Siauw. Dia harus punya mekanisme diri untuk tidak melakukan pembicaraan yang bersifat menghasut atau menimbulkan kebencian,” jelasnya. Pasalnya, jika tidak bisa mengontrol isi dakwah, maka masyarakat juga berhak menolaknya.
“Apalagi Indonesia juga menerapkan undang-undang ITE, pasal yang mengatur ujaran kebencian, undang-undang soal Ormas dan lain sebagainya. Kalau tidak bisa mengontrol diri, maka mereka berpotensi dipolitisasi pihak yang tidak senang,” tutur pengurus MUI tersebut.
Meskipun begitu, dalam beberapa penolakan terhadap pendakwah, maka penyelesaian ternyata tidak menerapkan hukum dan aturan yang disebutkan Syafiq.
Untuk kasus Irshad Manji yang ditolak FPI, diskusinya dibubarkan karena kepolisian kala itu menyebutnya sebagai ‘tokoh lesbi’ sedangkan terkait penolakan Ustad Somad di Bali, polisi menempuh upaya mediasi.
Sementara dalam kasus Bahtiar Nasir -seorang ulama di balik Aksi 212, yang ditolak PBNU untuk mengisi acara MTQ di Cirebon pada Oktober lalu- polisi mengklaim ‘tidak menolak, tetapi hanya memberi surat imbauan pada Pemkot’ untuk tidak menghadirkan Bahtiar.
‘Tidak melihat hitam-putih’
Lanny Octavia menegaskan keberagaman budaya dan suku di Indonesia seharusnya menjadi pertimbangan bagi ustad sebelum berdakwah karena berbagai perbedaan berpotensi menimbulkan banyak penafsiran dalam beragama.
“Bagi pendakwah jangan berpandangan hitam putih. Dalam arti jangan klaim kebenaran tunggal, dan yang di luar pemahaman dia itu berarti salah, karena bisa menimbulkan friksi, perpecahan,” kata Lanny.
Lanny mencontohkan saat seorang habib yang berkomentar soal Natal, yang jika dilihat dari sisi kebebasan beragama maka bisa jadi benar karena sesuai dengan keyakinan agamanya.
“Namun, kalau disampaikan di hadapan publik, didengar banyak orang, jadinya kan menyinggung kaum berbeda,” jelasnya.
Dalam kata lain, cendekiawan Islam perempuan ini menekankan bahwa ‘berdakwah harus punya sensitivitas terhadap orang yang didakwahi’.
Lebih jauh lagi, Lanny juga meminta ‘umat untuk bijak, tidak asal gerebek’ namun membahasnya lebih dulu.
“Jangan ketika ustad-nya sudah sampai baru ditolak. Ketika tahu si ustad akan datang, coba tanya, konfirmasi masalahnya. Bisa saja hal buruk yang disangkakan, tidak benar adanya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *