Penataan Epik Roman Abramovich

Please log in or register to like posts.
News
Penataan Epik Roman Abramovich

Roman Abramovich datang ke Chelsea Football Club dengan semangat berlipat untuk tak lelah mengayuh perjalanan. Satu set perjalanan yang membuatnya berkesempatan untuk menciptakan sejarah baru. Penciptaan sejarah yang ditata dengan apik dan dijalankan dengan epik.

Sebagai pencipta sejarah baru, Roman memiliki keagungan laku. Keagungan bukan untuk menyombongkan diri pada liyan melainkan keagungan untuk mengatasi masalah yang pasti selalu muncul. Keagungan laku yang membuat Chelsea tumbuh sebagai klub agung.

Setiap masalah yang muncul bisa diatasi. Semua masalah ada solusinya meski semua solusi itu ada masalahnya juga. Ragam macam permasalahan yang bisa diatasi membuat Roman dengan gagah berada dalam jiwa—sedikitnya—pendukung Chelsea.

Pilar-pilar ketertaan Chelsea berhasil dibangun dengan malar oleh keperkasaan lelaki Rusia ini. Sebagai penata, Roman juga sekaligus terlibat sebagai pengatur. Pengaturan tatanan yang membuat Chelsea mempunyai antisipasi dalam setiap ketidakstabilan yang dialami.

Sebagai pemimpin generasi baru bagi Chelsea, Roman memiliki kelihaian memahami segala kondisi yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui. Pemahaman yang menumbuhkan jiwanya sebagai pengasih dan penyayang.

Kasih-sayang yang ditumpahruahkannya tanpa pilih kasih hingga terjalin satu ikatan cinta yang tulus dalam lingkaran The Blues. Sebuah ikatan yang membuat Roman mendapat semat sebagai kaisar tanpa pernah meminta dengan penuturan kata maupun aksara.

Roman, yang tak cuma sekali gagal berkeluarga dan berumah tangga, menjelma sebagai sosok yang menjalankan sesuatu seperti biasa tanpa dilandasi kecenderungan maupun kepentingan yang melawan nurani liyan.

Penjelmaan yang membuatnya mudah menjadi penebar keselamatan hingga sanggup menjadi pembangun kepercayaan. Kepercayaan yang membuat bangunan angan Roman menjadi teratur.

Roman sanggup menjadi seorang yang bisa mengatur dirinya sendiri maupun membangun lingkungan agar teratur. Keteraturan membuat manusia bisa makan enak dan tidur nyenyak. Seperti prinsip luhur yang dituturkan oleh leluhur bangsa Jawa, “mangan enak turu kepenak”.

Keteraturan sebagai seorangan maupun kerumunan membuat suasana lingkungan menjadi harmonis. Lingkungan yang membikin orang lain saling menyapa satu sama lain lantaran memiliki rasa sama.

Rasa sama membikin manusia terikat dengan liyan dan lingkungan sehingga segala yang dilakoni tak merisak nurani. Kosok bali dari rasa beda yang rentan memantik gairah pertikaian maupun ketidakpedulian hingga membuahkan perilaku meresahkan.

Seperti ‘Alī Dan Ā’isha

Roman menjalani keseharian seperti ‘Alī bin Abī Thālib dan Ā’isha bint Abī Bakr. Mereka sama-sama menjadi sosok yang sangat dicintai oleh sekerumunan sekaligus begitu dibenci oleh sekerumunan lain. Satu sisi Roman sangat dicinta laiknya Mûsâ bin Amram saat berhasil menyelamatkan muruah bangsa Israel setelah diinjak bangsa Mesir. Satu sisi dia begitu dibenci seperti Fir’aun era Mûsâ sebagai pencetak catatan kelaliman luar biasa.

Sebagai sosok yang begitu dicinta serta dinista sedemikian rupa, Roman sanggup membuat manusia saling menyapa satu sama lain lantaran memiliki rasa sama. Tak jadi soal rasa sama itu rasa cinta atau benci. Cinta dan benci sama-sama memiliki tempat melekat abadi di hati manusia.

Satu perjalanan yang patut diapresiasi. Saling menyapa adalah satu cara jitu untuk merawat rasa sama antar manusia. Seperti dituturkan oleh nama besar sebelum Roman, Muhammad. Master Mister Immortal Commander bertutur bahwa menyapa adalah senjata manusia beriman «الدعاء سلاح المؤمن». Satu penuturan yang diabadikan oleh Madonna melalui Like a Prayer.

Saling menyapa pula yang membuat manusia tak lelah berusaha untuk mendapat cinta dari Allah (الله‎). Melalui buku mulia «القرآن الكريم» untuk seluruh ummat manusia, Allah bertutur bahwa Dia siap menjadi mitra interaksi manusia:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

«القرآن الكريم سورة المؤمن : ٦٠»

Dengan tak lelah menyapa Allah, manusia mampu menjalani keseharian biasa saja menuju Allah (Jawa: ngalah). Manusia diciptakan dari Allah dan menuju (Jawa: ngo) ke Allah (Jawa: Alah), bukan kembali karena kembali tak dimungkinkan secara waktu. Dalam waktu, pergerakan tak bisa dilakukan mundur namun terus maju.

Karena posisi awal dan akhirnya sama, maka tidak terjadi perpindahan. Tidak terjadi perpindahan bukan berarti tidak menempuh perjalanan. Pandangan fisika menuturkan bahwa jarak tempuh sejauh apapun ketika posisi akhir sama dengan posisi awalnya, dapat disebut tidak terjadi perpindahan.

Seluruh ciptaan Ilahi-Rabbi tak bisa lepas atas pola mengikuti serta berada dalam batas kelangsungan ‘dari’ ke ‘menuju’ dan berpuncak membentuk lingkaran «إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ». Entah lingkaran itu tersusun atas lurusan-lurusan atau lurusan-lurusan yang membentuk lingkaran, tak jelas. Yang jelas, manusia tak boleh lelah menyapa Sang Esa.

Dengan terus menyapa Allah, sembah rasa cinta pada Ilahi-Rabbi bisa terus menggelora. Gelora sembah rasa yang membuat manusia tak lelah berusaha agar dianugerahi setitik Cinta dari-Nya «مَرْضِيَّةً». Setitik Cinta yang bisa menjadikan makhluk berperasaan bercumbu dengan Sang Esa dengan sapaan mesra:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

«القرآن الكريم سورة الفجر : ٢٧ – ٣١»

Sapaan mesra yang membuat surga dan neraka tak lagi menjadi perkara penting. Sebab yang paling penting adalah berada dalam keadaan sepenuhnya terserap ‘hilang’ menjadi bagian Kirana, ‘satu perkara’ yang tak memiliki massa dan usia.

Kirana menjadi ‘satu perkara’ yang memperlihatkan batas keberlakuan ilmu fisika. Pandangan fisika menuturkan bahwa segala yang ada di semesta ini lambat laun akan hancur, sedangkan Kirana selalu ada sedari dini munculnya semesta. Satu-satunya cara semesta dan segala isinya agar tidak hancur hanyalah manunggal dengan Kirana, yang dituturkan oleh Sang Pencipta bahwa:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

«القرآن الكريم سورة النّور : ٣٥»

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *