Paul DeHart Hurd, Pelopor Literasi Saintifik

Please log in or register to like posts.
News

Pengungkapan pandangan melalui sebuah artikel berjudul Science Literacy: Its Meaning for American Schools menjadi jalan Paul DeHart Hurd menjelma sebagai sosok yang terus tetap lestari. Frasa Science Literacy yang diungkap memicu kajian meluas dan mendalam berkelanjutan tak berkesudahan di planet Bumi. Perubahan pengertian seiring waktu terus menghidupkan nama Paul alih-alih membuatnya mati.
Dalam linikala pembahasan Science Literacy, Paul berhasil menahbiskan dirinya sebagai pemula gelora. Sebagai pemula, Paul berhasil menyajikan frasa gubahannya sekaligus meletakkan pondasi pertama.
Beruntung Paul tak menikam jejak battling to invinity antara Isaac Newton dan Leibniz lantaran berhasil menjadi satu-satunya pemula gelora kajian Science Literacy. Beruntung juga, saat itu juga sedang marak-maraknya persaingan unjuk kebolehan antara Amerika Serikat (USA) dan Uni Soviyet dalam urusan ilmu alam (natural science). Wajar kalau Paul cepat mendapat perhatian.
Kelahiran Paul di Denver, Colorado, USA bertepatan dengan peringatan Natal versi popular warga setempat, 25 Desember 1905. Di tanah kelahirannya pula di memulai petualangan dalam dunia pendidikan. Petualangan berkelanjutan yang tak pernah terselesaikan hingga diwariskan.
Paul tercatat sebagai lulusan Manual High School, Denver, tahun 1925. Dari sana, petualangan berlanjut ke perguruan tinggi ilmu hayati (biology) di University of Nothern Colorado. Di perguruan tinggi ini, Paul menempuh dua jenjang perkuliahan, sarjana dan master. Kuliah sarjana dia selesaikan pada tahun 1929 di bidang Botani, sementara kuliah master dia selesaikan tahun 1932 di bidang ekologi tanaman.
Lama sekali menjeda kuliah, Paul akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah doktornya pada tahun 1949 di Stanford’s School of Education. Selain mendapatkan gelar dari kuliah yang ditempuh, Paul juga pernah mendapatkan gelar resmi lainnya sebagai apresiasi terhadap rekam jejaknya dalam berunjuk rasa. Gelar tersebut adalah doktor kehormatan dari Ball State University, Drake University, dan University of Nothern Colorado.
Unjuk rasa Paul dimulai dengan menjadi pendidik dan pengajar ilmu hayati di SMA sejak tahun 1929. Sepanjang satu dekade, selain mengajar ilmu hayati, dia juga menjadi pemandu departemen ilmu alam dan pemandu kebijakan kurikulum untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Greely, Colorado. Baru kemudian Paul meninggalkan Colorado untuk hijrah ke Stanford.
Di Stanford, Paul tetap mengajar ilmu hayati serta menjadi pemandu departemen ilmu alam di Menlo School and Junior College selama sebelas tahun sejak 1940. Peran tersebut dia tinggal dan tanggalkan pada tahun 1951 saat mendapat pinangan dari Stanford University School of Education.
Di Stanford University School of Education Paul mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan sertifikasi guru ilmu alam di SD dan SMP, mengajar dalam perkuliahan pendidikan ilmu alam di program doktor, serta memandu lembaganya dalam program pembekalan untuk guru kimia, matematika, dan fisika setiap musim panas. Setelah dua dekade unjuk rasa di Stanford University School of Education, Paul dinobatkan menjadi guru besar.
Paul adalah sosok sinting dalam pendidikan. Semangat unjuk rasanya disertai penampilan prima sepanjang unjuk rasa dibalut dengan semangat khidmah ilmiah untuk bisa membuat seluruh warga USA turut menikmati perkembangan keilmuan. Dari semangat ini, dia mengembangkan kurikulum dan praktik pembelajaran untuk mengajarkan keterampilan penalaran disertai fakta-fakta dalam penyelidikan ilmiah.
Selain menjadi pelaku di lapangan, Paul juga ikut serta berperan dalam menyusun kebijakan. Peran ini diperkuat kemauannya untuk terus menerus melakukan penelitian serta ikut berperan dalam mengembangkan kurikulum, ilmu pendidikan, dan melatih guru-guru. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan disertasinya tentang analisis pendidikan ilmu alam sepanjang paruh pertama abad keduapuluh.
Paul dikenal sebagai orang yang memiliki tata nalar kuat disertai keras kepala dalam berkeyakinan. Salah satunya ialah keyakinannya tentang keterkaitan antara pendidikan ilmu alam dan keseharian sosial. Paul yakin bahwa ilmu alam memiliki keterkaitan sosial bagi siswa sekolah dasar dan sekolah menengah. Dengan demikian, Paul berpendapat bahwa para siswa harus mendapatkan pengalaman dengan masalah ilmiah sepanjang masa-masa mereka di sekolah.
Pandangan Paul memang tampak klise yang telah diafdruk berulang kali untuk saat ini. Hanya saja saat itu ilmu alam cenderung lebih menjadi mata pelajaran yang dogmatis dan kurang memberikan pengalaman penalaran. Kecenderungan ini kemudian mengilhami Eric Mazur dalam menulis Peer instruction: A user’s manual. Kecenderungan ini pula yang membuat Paul mengungkapkan pandangannya. Pandangan Paul sendiri kemudian membuat dirinya mendapatkan reputasi global dan nasional.
Global dan nasional perlu diungkapkan lantaran kadang ada sosok yang memiliki reputasi global namun tak terlampau diapresiasi di kancah nasional. Ada pula yang kosok bali, mentereng di nasional namun melempem di global. Kita tak bisa lari dari fenomena Liverpool dan Manchester United serta AC Milan dan Juventus. Dua kasta tersebut sanggup dijamah dengan menawan oleh Paul, seperti Real Madrid.
Pengaruh Paul ini yang sudah mulai meluruh saat itu dengan peran yang dia emban dilengkapi kemauan dalam menulis. Beberapa abad belakangan, unjuk rasa melalui artikel lebih banyak dipakai lantaran cocok dengan kemampuan manusia yang berada pada masa ini. Paul sendiri sepanjang menjalani keseharian telah menulis sembilan buku mengenai sisi historis dan filosofis ilmu alam.
Selain mengulas pendidikan ilmu alam secara umum, Paul juga mengungkapkan ulasannya mengenai pendidikan ilmu hayati di Amerika Serikat dalam rentang waktu tahun 1890-1960. Kemauannya untuk menulis semakin menggelora sesudah dia berhenti unjuk rasa secara resmi pada tahun 1971.
Paul tak pernah benar-benar berhenti unjuk rasa. Sesudah berhenti resmi pada tahun 1971, dirinya tetap aktif dalam ilmu alam hingga sesaat menjelang pindah alam pada usia 95 tahun. Keaktifannya tersebut lebih banyak terkait dengan harapan terhadap arah langkah pendidikan ilmu alam pada pergantian milenium. Lebih dari 200 artikel scholar berhasil dia terbitkan.
Pengaruh kelihaian Paul dalam pendidikan ilmu alam selama resmi aktif setengah abad diakui dan mendapat banyak apresiasi. Artikelnya yang tumbuh subur merangsang pemikiran pendidik ilmu alam di seluruh wilayah AS. Paul juga menjadi sosok penting di belakang layar dalam perumusan kebijakan pendidikan ilmu alam ketika perhatian pada pendidikan ilmu alam mulai muncul lebih banyak di awal dekade 1980-an.
Paduan wawasan sejarah serta pengalaman pribadi yang luas dan dalam menambah daya pikat Paul dalam menghubungkan pendidikan ilmu alam dengan masalah kepedulian lingkungan dan pemanfaatan teknologi baru.
Paul memiliki kecakapan kelas atas, walakin dia bukanlah ‘cerdik-cendekia gabus’ yang hanya ‘ngambang’ di atas. Da’wah ilmu alam yang dilakukannya membuatnya gemar menggunakan penuturan picisan yang terkesan bukan bahasa cerdik-cendekia. Paul memang kaku dalam berkeyakinan namun lentur dalam terlibat pergaulan. Kelihaian dalam kajian keilmuan yang tangkas disertai kegemaran menggunakan bahasa pasaran untuk menyampaikan pandangan membuatnya menjadi sosok favorit yang dilirik media massa. Terlebih dirinya ikut serta dalam menyusun kebijakan.
Wajar kalau Paul menjadi penasihat National Academy of Science dan National Science Foundation, terutama untuk bidang studi kurikulum ilmu hayati, dan mendapat kepercayaan untuk berperan resmi di banyak komite negara bagian sepanjang 1960 hingga 1995. Apresiasi resmi lainnya yang pernah dia terima antara lain:
1. Distinguished Service to Science Education Citation dari the National Science Teachers Association (1969);
2. the Apollo Award from the National Aeronautics and Space Agency (1970);
3. the Robert H. Carleton Award untuk National Leadership in Science Education (1979);
4. mendapat kepercayaan memandu the National Association for Reserch in Science Teaching (1970-1971);
5. the Distinguished Contribution to Science Education Research Award dari the National Association for Research in Science Teaching (1987);
6. anggota the American Association for the Advancement of Science; dan
7. memegang status anggota kehormatan di eight professional societies.
Paul DeHart Hurd adalah salah satu assabiquna al-awwaluna yang menggemuruhkan kebutuhan pendekatan baru yang dikenal dengan sebutan pendekatan post-modern untuk pendidikan ilmu alam sebelum jenjang perguruan tinggi, perkembangan remaja awal dan makna pentingnya untuk kurikulum ilmu alam tingkat menengah.
Hasrat dan minatnya agar jurang kesenjangan antara ilmu alam, teknologi, dan masyarakat, menghentak khalayak. Barangkali Paul menginginkan perubahan pandangan untuk menghadapi perubahan. Ungkapannya, “Not just hands-on, but minds-on,” adalah ungkapan mengesankan yang tak lekang oleh ruang dan zaman.
Sebagai pendidik bidang ilmu alam, Paul memiliki visi sosial berupa peran ilmu alam untuk meningkatkan keseharian individu dan memperkaya budaya. Wajar jika dia sangat dihormati oleh rekan-rekannya dan sangat dikagumi oleh siswa-siswanya. Sengaja atau tidak, Paul akan tetap berada di sepanjang masa.
Sosok yang berhasil menyuarakan grenengan untuk memperkaya—bukan cuma meramaikan—khazanah pendidikan ilmu alam sepanjang pertengahan abad keduapuluh akhirnya berpindah dimensi alam setahun sesudah pergantian milenium. Tepat dua hari sebelum dia genap 96 tahun, 23 Desember 2001, dia menghembuskan nafas terakhir.

Paul DeHart Hurd, Pelopor Literasi Saintifik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *