Titik Balik Linkin Park

Posted on

Read More: Persoalan Perempuan Dalam Islam

Musik adalah sesuatu yang dinamis dan fleksibel. Genre hanyalah fondasi sebuah grup musik dan hal tersebut gampang diutak-atik bergantung pada konsep sebuah album. Grup musik asal Amerika Serikat, Linkin Park, berusaha untuk membuktikan hal tersebut melalui album studio ketujuh mereka, One More Light.

 

Sejak Linkin Park merilis singel “Heavy” sebagai promosi album One More Light, penggemar Linkin Park mulai menebak-nebak konsep album baru tersebut. Sebagian besar mereka meyakini bahwa Linkin Park akan tampil lebih kalem. Saat One More Light resmi dirilis pada 19 Mei 2017, pertanyaan tersebut terjawab sudah, Linkin Park menghadirkan album dengan konsep yang selama ini tidak pernah terpikirkan oleh para penggemarnya.

 

Linkin Park adalah sebuah fenomena dalam dunia musik. Pada tahun 2000, melalui album Hybrid Theory, Chester Bennington (vokal), Mike Chinoda (vokal, rap, kibor), Brad Delson (gitar), Dave “Phoenix” Farrel (bas), Joseph Hahn (programmer, DJ), dan Rob Bourbon (drum) telah membuka telinga penikmat musik dengan menyajikan musik ingar-bingar dengan sentuhan berbeda. Linkin Park bermain kencang dan gahar, tetapi menyajikannya dengan variasi suara yang dianggap tidak umum untuk musik metal. Mereka memasukkan unsur rap, bunyi-bunyian dari program komputer, dan atraksi permainan dari disc jockey (DJ). Karena itulah mereka mempunyai banyak atribut, sebagai grup musik nu-metal, rap metal, rock alternatif, atau rock elektronik. Apa pun titelnya, Linkin Park menjelma menjadi grup yang digemari dan menjadi tonggak musik cadas yang segar dan energik.

 

Mereka mempunyai permainan yang kolektif dan rapi serta didukung dengan atraksi vokal khas Chester Bennington dan rap menawan dari Mike Chinoda. Chester Bennington adalah sedikit dari vokalis bersuara tenor di musik heavy metal. Karakter vokalnya yang unik, tinggi, dan jernih membuat Chester menjadi ciri khas Linkin Park. Mungkin saja, tidak ada vokalis lain yang berteriak sebanyak Chester. Lantunan lantang Chester adalah benang merah perjalanan album Linkin Park.

 

Di album One More Light, Chester Bennington tampil berbeda. Dia menurunkan agresivitasnya dan coba mengeksplorasi karakter suaranya di zona yang nyaman. Tercatat, dia hanya sebentar saja menaikkan suaranya di lagu “Sharp Edges”, “Nobody Save Me”, dan “Good Goodbye”. Produser album ini, Mike Chinoda dan Brad Delson, membuat konsep album dengan merespons jenis musik yang beragam tetapi masih masuk ke gaya bermusik Linkin Park. Hasilnya, sepuluh lagu di album One More Light tampil ringan dan nge-pop. Keyakinan mereka kuat karena karakter suara Chester bisa nyetel di berbagai jenis lagu. Sebagian besar lagu di album One More Light berirama pelan, sesuatu yang tak pernah ada di album-album Linkin Park. Pendengar yang terbiasa menyimak Linkin Park seolah seperti sedang mengendarai mobil Bugatti Veyron, kini dipaksa untuk melaju dengan family wagon. Ini benar-benar album dengan kecepatan rendah.

 

Meski tampil baru, ciri khas Linkin Park masih sangat kental di album ini. Bunyi-bunyian dari program komputer masih menghiasi lagu, solo permainan DJ Hahn yang keren, seperti di lagu di “Invicible” dan rap-rap dari Mike Chinoda mendalamkan lagu. Di “Sorry for Now”, Chester Bennington dan Mike Chinoda bertukar peran. Mike menjadi penyanyi utama, sementara Chester nge-rap. Linkin Park juga menyelipkan gaya musik dansa elektronik (EDM) termutakhir seperti model musik The Chainsmokers dan Avicii.

 

Lagu “Battle Symphony” menjadi penanda album ini. Lagu ini adalah jembatan perjalanan musik Linkin Park. Semua unsur lama dan baru dari Linkin Park membaur di lagu ini. Sebuah musik yang paripurna. Di sisi lain, kolaborasi dengan penyanyi Kiiara di “Heavy” adalah lagu pop terbaik yang pernah dibuat Linkin Park.

 

Perubahan konsep bermusik ini menjadi hal yang penting untuk Linkin Park. Laman washingtonpost.com menulis bahwa setelah Linkin Park mengadakan audiensi dengan pihak Harvard Business School, mereka memutuskan bahwa Linkin Park harus tampil lebih beragam. Mencari pasar baru dan mengembangkan branding adalah hal yang penting dan segera. Kondisi bisnis musik dunia saat ini sedang turun sehingga sebuah grup tak bisa hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan album dan konser. Mencoba jalur musik pop adalah hal yang masuk akal karena pasar pendengarnya lebih besar.

 

Memutar haluan dengan konsep musik baru bukan hal yang tabu meski tanggapannya tidak selalu seperti yang diharapkan. Grup musik metal Korn pernah melakukan dengan kolaborasi musik metal dan dubstep di album The Path of Totality (2011). Saat itu, penggemar Korn mencibir habis album tersebut. Namun, di kemudian hari, album The Path of Totality dianggap sebagai salah satu album terbaik Korn.

 

Album One More Light membuat penikmat musik mendapatkan sajian segar dari Linkin Park. Album ini akan menjadi perdebatan yang tak berujung. Terlepas dan pro dan kontra, One More Light mendapat respons bagus dan berada di posisi pertama tangga album Billboard Top 200, hanya dua pekan setelah dirilis. Bagi Linkin Park, bermusik adalah berinovasi atau mati!

 

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media online