Merangkul Liyan untuk Membumikan Ajaran

Please log in or register to like posts.
News
Merangkul Liyan untuk Membumikan Ajaran

Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan sapaan Cak Nun merupakan intelektual yang lahir tanggal 27 Mei 1953 di Jombang Jawa Timur, beliau anak keempat dari lima belas bersaudara. Beliau menempuh pendidikan formal di SD Jombang, SMP Muhammadiyah Jogjakarta, SMA Muhammadiyah Jogjakarta. Setelah lulus SMA beliau sempat menyicipi kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Meskipun hanya satu semester, karena memilih berkuliah di Universitas Malioboro, dibawah asuhan Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius.

Kecintaannya terhadap dunia sastra dan budaya yang membawanya ke dalam dunia tersebut. Sejak saat itu dunia seni menjadi lebih akrab pada pribadinya, hingga sebutan budayawan mulai disandangkan oleh media kepadanya. Melalui kreatifitas dalam menyampaikan syi’ar Islam banyak apresiasi yang diperoleh baik dari masyarakat Indonesia maupun kalangan Internasional. Namun,  tak jarang juga metode dakwah yang dikenalkannya mengundang perdebatan bahkan pertentangan publik. Pada tahun 2010, pemerintah memberikan penghargaan “satyalancana kebudayaan” kepada dirinya sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas dedikasi tinggi terhadap dunia seni, mampu memelihara kebudayaan daerah, serta berhasil mengawinkan  estetika seni  dengan inti-inti ajaran islam.

Melalui tangan dingin dan jiwa seni yang dimilikinya lahirlah kelompok musik Kiai Kanjeng yang cikal bakalnya berangkat dari Komunitas Pak Kanjeng dari pertunjukan teater dengan tema Pak Kanjeng yang di-bredel dibeberapa tempat. Sehingga bertransformasi menjadi kelompok musik Kiai Kanjeng hingga saat ini terus bertahan, dan sudah menjalani pagelaran lebih dari 3.581 kali di dalam maupun di luar negeri. Kiai Kanjeng sebenarnya bukanlah kelompok musiknya, melainkan nama dari peralatan gamelan yang digunakannya. Berawal dari mengkombinasikan berbagai macam unsur budaya yang berbeda menjadi suatu pertunjukan yang apik dan sarat akan pesan moral.

Terus Berkeliling Menemani Masyarakat

Cak Nun sendiri hingga saat ini masih terus berkeliling menemani masyarakat di berbagai daerah “blusukan” lebih dari 40 tahun, menyelesaikan permasalahan sosial dimasyarakat, juga konflik-konflik dimasyarakat, seperti kasus Kedungombo, pertikaian di Poso, konflik antar Petambak Udang, dan masih banyak kasus-kasus yang beliau selesaikan. Selain itu, beliau juga mengasuh beberapa forum rutin di lima kota di setiap bulannya, seperti Padhangbulan diadakan setiap malam bulan purnama di Jombang yang sudah berjalan 21 tahun, Kenduri Cinta setiap jum’at minggu kedua di Jakarta yang sudah berjalan 14 tahun, Mocopat Syafaat setiap tanggal 17 Masehi di Yogyakarta yang sudah berjalan 18 tahun, Gambang Syafaat setiap tanggal 25 Masehi di Semarang yang sudah berlangsung 10 tahun, Bangbang Wetan setiap sehari setelah Padhangbulan diadakan di Surabaya yang sudah berjalan 7 tahun, juga Papperandang Ate di Mandar.

Forum ini diselenggarakan mandiri tanpa campur tangan pihak pemerintah maupun sponsor, kemandirian yang membuat forum tersebut berjalan hingga saat ini, pada setiap forumnya berjalan sekitar 7 hingga 8 jam. Format pada forum yang diasuh oleh Cak Nun tersebut merupakan perpaduan diskusi, pendidikan politik, seni, dan budaya, dengan tampilan yang sederhana. Forum sangat terbuka. Siapapun berhak untuk berbicara pada forum tersebut, panggung pun hanya dibuat setinggi mata kaki, sehingga interaksi terhadap yang hadir terbangun dengan cepat dan spontan. Dengan terbukanya forum tersebut sangat mungkin berbagai hal muncul secara spontan dengan tema beragam, sehingga berbagai topik menjadi materi diskusi yang mengasikkan. Tidak hanya itu, tetapi seni dan budaya juga disuguhkan pada setiap forum. Berbagai musik dari tradisional hingga musik modern, salah satunya bergenre jazz, juga seni tari ditampilkan, juga puisi yang dikemas sedemikian rupa hingga dapat menciptakan keindahan tanpa melupakan esensi implisit yang harus tersampaikan kepada siapapun yang mendengarkannya.

Multikulturalisme dan Pluralisme Dalam Dakwah

Multikulturalisme dan pluralisme tercermin jelas dalam setiap dakwah yang disampaikan. Hal inilah yang kerap dilupakan oleh bangsa Indonesia sekarang. Pola pandang yang sempit dalam mengartikan dakwah telah membentuk pemahaman yang kurang  tepat. Dakwah hanya diasumsikan dengan khutbah dan mimbar, padahal ketika kita mengacu pada nalar “Orang yang berbuat baik berarti sudah berdakwah.” Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan bentuk aplikatif  melalui perilaku dan perbuatan. Salah satu yang membuatnya prihatin adalah dunia dakwah yang saat ini dianggapnya sudah terpolusi oleh politik maupun sekadar mencari makan. Akibatnya, saat ini sudah tidak ada parameter lagi siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah.

Adanya polusi yang menyertai dunia dakwah sekarang, membuatnya lebih senang jika kehadirannya bersama dengan Kiai Kanjeng tidak disebut sebagai “dakwah” melainkan sebagai upaya pelayanan yang semestinya tidak hanya dilakukan secara vertikal antara manusia dengan Tuhannya, tapi juga secara horizontal antara manusia dengan sesamanya. Dengan semangat melayani itu pula “tegur sapa budaya” sering diselenggarakan di penjuru tanah air.

Menjadi ciri khas dari sosok seorang Emha Ainun Nadjib, ia selalu hadir dan membaur di kalangan masyarakat, ikut bersatu dan berintegrasi dengan mereka bukan hanya sebagai pemikir dan pencipta gagasan. Kegiatan hidupnya selalu mengandung dimensi sosial  dan spiritual. Pemikiran beliau unik dan kadang terkesan kontroversional. Namun, itulah Cak Nun dengan segenap potensi intelektual yang luar biasa.

“Berjamaah itu hakikat hidup karena manusia tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Kalau cabe tidak mau dicampur dengan terasi, garam, dan bawang, dia tidak akan laku. Siapa saja yang tidak mau berjamaan akan terlempar, akan tidak laku, dan akan menderita.” Begitulah tutur Emha menekankan pentingnya sebuah kebersamaan atau sering beliau sebut Maiyah.

Beliau selalu sempatkan berkumpul bersama para penggiat Maiyah, diskusi ringan terkait berbagai hal mulai dari sekadar candaan hingga problematika politik yang ada di republik ini. Kesederhanaan  dan sikap terbuka  terlihat ketika Emha sudah berada di hadapan masyarakat. Tidak ada perbedaan kelas maupun status. Cara beliau memberikan pemahaman kepada masyarakat umum adalah mendidik, bukan menggurui. Dengan bahasa ringan yang mudah ditangkap esensi dakwah disampaikan, bukan berupa konsep yang muluk-muluk dan dalil-dalil panjang, namun secara langsung beliau mengemukakan contoh aplikatif yang benar benar terjadi dalam hidup. Di situlah berbagai elemen yang bertolak belakang diintegrasikan, bukan untuk diperselisihkan, melainkan untuk dipersatukan demi terwujudnya keindahan dan kemanfaatan. Merupakan hal yang menarik ketika sholawat dipadukan dengan musik jazz, dan didalamnya dimasukkan  nilai-nilai dakwah. Bentuk kombinasi luar biasa itulah yang terlihat saat dalam acara Kenduri Cinta.

Ketika kita melihat problematika bangsa kita sekarang yang kerap disibukkan dengan konflik  dan perselisihan, sosok Cak Nun dapat dijadikan percontohan. Akan jauh lebih baik ketika kita bersatu untuk kemajuan bangsa ini, bukan terlena dengan konflik, terlalu sibuk memerhatikan perbedaan yang ada, yang pada akhirnya akan memicu permusuhan yang justru akan melemahkan kekuatan bangsa ini.

*) ditulis bersama Malikatul Ma’munah, Sri Purwanti, dan Iqbal Syauqi, versi lain catatan ini bisa dibaca melalui Majalah SANTRI vol. 6 (Oktober 2015), halaman 62-63 [lihat].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *