Menyingkap Cerita Jilbab Laila

Please log in or register to like posts.
News
Menyingkap Cerita Jilbab Laila

Menyingkap cerita jilbab Laila adalah hikayat yang menunjukkan bahwa jilbab tak perlu peraturan kalau memang berkaitan kesadaran dan keyakinan. Sehinga pemakaian jilbab bisa dimengerti sebagai ekspresi kesadaran dan keyakinan, yang patut dihormati dan diapresiasi. Laila Fariha Zein adalah salah satu Muslimah yang mengenakan jilbab sebagai pilihan semacam ini.

Cerita Laila terbiasa mengenakan jilbab berawal dari peraturan sekolah yang sedang menjalankan program pesantren Ramadhan. Meski berawal dari peraturan, Laila tak terpaksa mengenakan. Pasalnya dirinya juga termotivasi oleh gaya busana yang dikenakan oleh para pesohor tanah air. Buat Laila saat itu, perempuan bisa tetap cantik dengan busana tertutup seperti jilbab. Apalagi lingkungan keluarganya sangat mendukung. Semua ini membuatnya mantap.

Cerita datar-datar saja dari Laila berbanding terbalik dengan tanggapan lingkungan terhadap pilihannya. Pilihan mantap disertai dukungan yang banyak tidak lantas jauh dari cobaan, karena segala tindak memiliki dampak dan setiap aksi ada reaksi. Keluhan panas karena kain jilbab sering terlontar tanpa sadar. Kekhawatiran tinggi dijauhi teman, perasaan ragu dan terpaksa pun kerap kali datang tanpa henti.

Di sisi lain, ada hal yang membuat Laila semakin tertantang menunjukkan keteguhan dalam mengenakan jilbab. Salah satunya adalah celetukan dari seorang teman yang mengatakan bahwa percuma berprestasi di kelas tapi usia baligh tidak memakai jilbab. Ucapan tersebut menjadi pemacu Laila untuk selalu tahan terhadap pilihan menjadikan jilbab sebagai gaya busananya.

Beranjak ke Bangku Sekolah Menengah

Laila masuk ke sekolah swasta yang berada dalam naungan yayasan pesantren. Hal ini membuat tantangan berjilbab sedikit terminimalisir, meskipun hanya lingkungan di sekolah saja gaya berjilbab menjadi trend. Pengalaman selama di sekolah menengah sempat terhempas kala Laila keluar sangkar untuk masuk bangku sekolah tinggi. Lingkungan heterogen segera dialami.

Lingkungan yang berbeda nyaris 180 derajat membuat rasa takut untuk bergaul kembali muncul dalam benak Laila. Belum masanya jilbab menjadi prayojana dalam berbusana, juga anggapan lingkungan terhadap perempuan berjilbab cenderung merisak ruang rasa. Para perempuan yang berjilbab rentan mendapat anggapan sebagai makhluk tertutup yang ‘hidup di dunianya sendiri tanpa memiliki rasa peduli’. Laila, yang memilih jilbab sebagai gaya berbusana, berusaha untuk menyangkal anggapan ini.

Laila berusaha untuk tetap mengenakan jilbab disertai sikap terbuka. Dirinya tak ragu untuk membaur tanpa perlu melacur. Tak ada diskriminasi terhadap rekan yang dia jumpai. Melalui sikapnya, Laila hendak menunjukkan bahwa perempuan bejilbab tidak sekaku yang dibayangkan. Supel, ramah, serta adaptatif, adalah sifat yang sewajarnya dilakukan tanpa perlu mengaitkan dengan busana yang dikenakan.

Laila meyakini bahwa Islam hadir membawa risalah bukan sebagai pemicu perselisihan, melainkan pencipta kedamaian, termasuk keberadaan muslimah berjilbab di lingkungannya. Suatu ketika, Laila ingin membuktikan bahwa jilbab bukan penghalang dalam bergaul, berkarya, dan berperan dalam lingkungan.

Jilbab Merupakan Mahkota Keindahan

Yang hanya bisa dipakai oleh perempuan sebagai bentuk ketaatannya terhadap Sang Pencipta. Untuk membuktikan keyakinan tersebut, Laila pernah berperan dalam gelaran pemilihan Duta Jilbab di tingkat perguruan tinggi. Dengan modal nekat dan bekal ilmu yang pernah didapatkan, Laila memberanikan diri untuk menjadi peserta gelaran tersebut hingga akhirnya menuai hasil sebagai bagian juara.

Laila sangat bersyukur bahwa kebiasaannya memakai jilbab turut merangsang dirinya agar menjadi lebih laras ketika terlibat pergaulan. Penampilan serta perilaku pantas mulai Laila biasakan dengan penuh kegembiraan. Terlebih lingkungan memberi apresiasi terhadap dirinya. Rekan-rekannya sangat menghormati Laila tanpa takut bergaul dengannnya. Tak jarang pula yang mengungkapkan pujian padanya.

Laila Tak Mengharapkan Apresiasi dan Penghormatan Apalagi Pujian Semacam itu

Malahan dia merasa bahwa di balik perlakuan apik yang dialami, terdapat ujian yang sedang dijalani. Seiring berjalannya waktu, Laila mulai terbiasa mengenakan jilbab. Sekadar mengenakan sebagai pilihan berbusana tanpa merasa sebagai perempuan paling shalihah di dunia dan merendahkan perempuan lainnya.

Terkait jilbab, Laila memiliki pandangan dinamis sepanjang mengenakan. Awalnya, dia hanya memahami bahwa berjilbab adalah kewajiban menaati aturan. Ketaatan yang juga menambah kecantikan. Namun lambat laun, dia menyadari bahwa jilbab bukan sebatas penggugur kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan buat perempuan.

Perempuan tercipta sebagai seni hidup yang identik dengan kecantikan. Kecantikan yang terpancar dari perempuan kadang menjadi pemicu perselisihan. Karena itu, keduanya perlu sedikit ditutupi. Bukan semata sebagai wujud perilaku mawas diri, melainkan untuk mencagah gairah tak biasa dari lelaki. Tak heran kalau Laila merasa terhentak dengan ungkapan, “berjilbab agar lebih cantik”. Justru dengan berjilbab, perempuan berupaya untuk menutupi kecantikan, agar tak diumbar, supaya tak memicu perselisihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *