Menjadi Pengikut

Please log in or register to like posts.
News
Menjadi Pengikut

Hidup selalu berada dalam keseimbangan, ada yang gagal, ada yang suskes. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ada yang memimpin, ada yang dipimpin. Apa pun dan di mana pun peran tersebut, kita bisa menjadi meraih sukses sejati jika saling bersinergi.

Dalam berbagai kisah dan pengertian yang sering kita dengar di masyarakat, ada banyak orang yang mendambakan menjadi seorang pemimpin. Ada yang mendambakan menjadi kaya dan selalu ingin jadi nomor satu. Tentu, itu merupakan sebuah hal dan tujuan besar yang sangat menantang untuk ditaklukkan. Dan, jika ditanya, hampir semua orang pasti menginginkannya.

Tapi, apakah semua orang mendapatkannya? Ini yang perlu kita kaji dan mengerti lebih mendalam. Sebab, tak selamanya kita akan duduk di puncak. Dan sebagaimana nomor, angka satu ya hanya satu saja, tak pernah dua atau tiga. Artinya, selalu akan lebih banyak orang berada di tataran “pengikut”.

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan menjadi pengikut, seseorang menjadi kalah, berada di bawah, dan selalu dalam posisi mengalah? Dalam sudut pandang harfiah bisa jadi yang di bawah memang selalu akan berada dalam posisi yang berat. Sebab, ia sedang menjadi bagian yang menopang yang di atas. Tapi, kalau dipikirkan lebih mendalam, bukankah tiang yang kokoh dari bangunan menjulang tinggi angkasa harus ditopang oleh fondasi yang kuat? Dan, bukankah sebuah perusahaan akan jadi hebat kalau pemimpinnya didukung oleh semua komponen—pengikut—yang mendukungnya?

Dalam pengertian ini, saya ingin menekankan bahwa sebenarnya, dalam posisi sebagai pengikut pun, kita seharusnya selalu memiliki jiwa seorang pemenang. Dalam kondisi berada di bawah, orang pun sebenarnya bisa memiliki nilai kesuksesannya sendiri. Lebih jauh lagi, untuk sukses, tak semata dilihat dari ukuran kasat mata berupa materi. Namun, kesuksesan akan “bicara” lebih banyak saat kita bisa menjadi manusia seutuhnya, saling menghargai, menjunjung toleransi, hingga saling membahagiakan.

Ada sebuah anekdot yang dulu pernah saya baca. Kalau negara Amerika Serikat menemukan sesuatu, mereka akan segera mengumumkannya. Sementara, kalau Rusia (dulu Uni Soviet), kalau menemukan sesuatu, akan diam-diam, hingga kemudian mengejutkan dunia. Penemuan-penemuan itu, oleh Jepang akan diperhatikan secara mendalam, kemudian dikembangkan dengan caranya sendiri untuk jadi barang hebat lainnya. Sementara oleh Tiongkok, penemuan itu akan dicontoh, ditiru, kemudian akan dibuat dalam bentuk massal untuk kemudian memetik keuntungan.

Meski sekadar anekdot yang mengundang senyuman, tapi kisah tersebut bagi saya adalah bagian dari pembelajaran. Pertama, memang ada yang “tercipta” sebagai yang pertama. Semua ada porsinya. Kedua, mereka yang kreatif, meski menjadi “pengikut”,  bisa jadi malah memetik keuntungan yang paling nyata. Ketiga, dengan cara masing-masing, kita sebenarnya punya potensi di area tersendiri di mana kita memang hebat di dalamnya.

Dengan pengertian tersebut, kita dapat memetik hikmah, bahwa tak salah untuk—“hanya”—menjadi seorang pengikut. Malah, di beberapa kondisi, kita bisa meraih sukses dengan cara kita masing-masing.

Tentu, jangan pula menjadi asal seorang pengikut. Jangan pula sekadar meniru mentah-mentah. Tapi, kita tetap harus menjadi “pengikut” yang punya karakter, kaya mental, hingga punya ciri tersendiri. Artinya, untuk meraih sukses sejati, seorang yang dalam posisi sedang “berperan” sebagai pengikut, tetap harus mampu menunjukkan jati dirinya. Ibarat dalam kejuaraan olahraga balap, meski sedang berada di belakang, kita tetap punya target juara. Maka, ketika akhirnya belum jadi juara pun, kita tetap punya sikap dan mental juara yang akan menjadikan kita meraih sukses sejati. Sehingga, saat berada di bawah, saat belum mencapai impian, saat sedang berjuang merangkak, kita tak pernah putus harapan. Masalah hasil hanyalah “bonus”. Justru, saat berproses itulah, kita sedang disiapkan menjadi insan-insan luar biasa.

Begitu pula ketika sedang berada di atas. Bukan berarti kalau sudah di puncak, tak lantas kita selalu jadi pemimpin. Bahkan sejatinya, pemimpin pun adalah seorang “pengikut”. Presiden misalnya, harus pula memperhatikan rakyat yang dipimpinnya. Bahkan, orang super miliarder sekelas Bill Gates yang sukses dengan Microsoft-nya pun, kalau tak memikirkan “pengikut”-nya, bisa jadi produknya akan ditinggalkan pengguna.

Di sinilah keseimbangan kehidupan terjadi. Tak ada pemimpin yang abadi, tak ada pula pengikut sejati. Semua saling melengkapi, semua saling bersinergi. Seperti ungkapan yang saya kutip dari Edith Wharton—seorang penulis pemenang penghargaan Pulitzer—di atas. Yakni, untuk menjadi cahaya, kita bisa menjadi dua hal. Lilin yang menyala atau cermin yang memantulkan sinarnya ke mana-mana. Artinya, hendak jadi apa pun, dengan peran apa pun, seharusnya kita sadar dan mengerti, bahwa kita hidup tak sendiri. Kita bisa menjadi “sang sumber” utama kesuksesan, atau menjadi “cermin pemantul” yang akan melipatgandakan sukses itu ke mana-mana. Di mana pun dan apa pun peran tersebut, jika kita jalani dengan ketulusan dan keikhlasan, maka sukses dan bahagia sejati, akan jadi milik kita.

Salam sukses, luar biasa!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *