Mengemong Karya Nong Darol Mahmada

Please log in or register to like posts.
News
Mengemong Karya Nong Darol Mahmada

Mengemong Karya Nong Darol Mahmada

Berkali-kali kajian keilmuan dibuldoser dengan pandangan tertentu. Para pelaku buldoser itu berlaku seolah-olah Musa bin Amram menghujat Fir’aun era Musa. Meskipun mereka belum tentu seperti Musa, dan yang dihujat belum tentu seperti Fir’aun. Tentu dengan menggunakan cara semacam ini sulit untuk menciptakan keharmonisan lingkungan.

Biasanya para pelaku buldoser ini adalah manusia yang memiliki sikap fanatik terhadap pandangan sempit, sehingga manusia yang berbeda—apalagi berlawanan—dengan pandangannya disebut dengan ungkapan tak mengenakkan perasaan. Seringkali manusia seperti itu begitu membenci mereka yang disebut dengan ungkapan perisak ruang rasa. Tak jarang kebencian dilampiaskan dengan tindakan merusak. Rasa sama sebagai manusia telah luntur tergusur oleh lekatnya pandangan yang terlalu diyakini kebenarannya.

Nong Darol Mahmada telah banyak mengalami sendiri rasanya mendapat perlakukan oleh para pelaku buldoser itu. Perempuan yang mengagumi Fatima Mernissi ini juga terlanjur akrab dengan berbagai fitnah yang dialamatkan pada dirinya selalu. Setahu saya dan menurut pengakuannya, Nong adalah pemeluk Islam. Namun saya tidak tahu menahu dan tidak perlu mencari tahu seberapa besar kadar ke-Islam-an Nong.

Dalam kitab mulia al-Quran dituturkan:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

[القرآن الكريم سورة البقرة : ٢٠٨]

Kata كَافَّةً mungkin memiliki banyak penafsiran. Nong tentu memiliki penafsiran tersendiri tentang kata tersebut.

Menarik Perhatian Banyak Kalangan

Nong termasuk sosok yang menarik perhatian banyak kalangan, antara lain melalui catatan yang diterbitkan olehnya. Beberapa catatannya memantik semangat catatan lain untuk menanggapi guna memberi dukungan dan tolakan dengan cara yang sama dalam beragam bentuk yang tersedia. Sebagian lainnya menggunakan cara kejam dalam menanggapi, seperti berungkap semaunya dan bersikap tanpa memiliki rasa sama terhadap sesama manusia.

Bila menyempatkan waktu untuk sejenak membaca kemudian menelaahnya, catatan Nong tak terlampau megah dalam hal pembaruan gagasan. Namun melalui catatan yang ditampilkan, dapat dilihat keterkaitan pengalaman personal dan pergaulan sosial dengan wawasan keilmuan. Catatan Nong banyak memuat cupilkan kajian lintas ruang dan waktu, menampakkan perjalanan gagasan sejak zaman kekunoan hingga kekinian.

Membaca catatan Nong seakan berhadapan dengan sebuah peta yang disusun mengagumkan. Walau tak selalu sepakat dengan cuplikan yang dimuat, khazanah keilmuan yang dia lumat ditunjukkan. Melalui lumatannya Nong berupaya mengaitkan dengan pengalamannya sendiri maupun pergaulan yang dihadapi. Dari sini dia mulai berani berunjuk gagasan untuk ikut serta membangun lingkungan.

Dengan demikian, tampak jelas perjalanan gagasan tidak seperti terpenggal dan sebuah kajian tak lepas dari lingkungan sosial dan pengalaman personal. Pada aspek cara inilah Nong amat menawan dan sangat istimewa buat saya. Penuturan berisi dan tertata rapi disertai keterkaitan dengan kecenderungan keadaan yang ada menjadi cara kesukaan saya ketika membuat catatan. Itu tak lepas dari pengaruh Nong.

Mengajarkan Pada Saya Mengenai Ijtihad

Nong tanpa sengaja telah mengajarkan pada saya mengenai ijtihad. Ijtihad buat saya merupakan upaya untuk mempertahankan kaitan antara landasan agama dengan pergaulan sosial dan perjalanan personal. Upaya tersebut membuat ruang ijtihad terbuka menganga untuk semua orang, dipandang high intellectual maupun low intellectual, dianggap sebagai sosok scholar maupun sosok popular.

Mengenai hasil ijtihad, tinggal diserahkan pada lingkungan. Kalau hasil ijtihad tersebut dipandang berguna untuk ruang rasa tanpa merisak ruang rasa manusia lainnya, tak masalah ijtihad tersebut mendapatkan penerimaan. Kalau tak dianggap demikian, cukup diabaikan saja. Sehingga tanpa perlu bertindak kejam, ijtihad yang diabaikan akan mangkrak tak mengalami perkembangan.

Mungkin Nong tak semenawan Aspasia dalam berjuang bersama Perikles membangung lingkungan. Barangkali Nong tak segagah Aisha dalam menggerakkan kerumunan untuk bertarung di medan peperangan. Bolehlah Nong tak sepenting Ḥafṣa dalam berperan menyusun teks al-Qur’an. Bisa jadi segala usahanya tak berdampak banyak laiknya Emilie du Chatelet dalam mengembangkan gagasan.

Walau demikian, Nong tetap menempati kapling permanen dalam kalbu. Kita bisa berbeda pandangan, tak dimungkiri kadang berlawanan, namun Nong tetap perempuan yang laras, panutan yang pantas. Buat Nong, semoga keteladanan darimu sepanjang mengayuh perjalanan membuahkan riḍha Allah selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *