Mencurah Cinta dalam Naskah

Please log in or register to like posts.
News
mencurah cinta dalam naskah

Mencurah Cinta dalam Naskah – Ada perasaan yang selesai setelah pertemuan diakhiri, ada pula yang masih belum selesai dan akhirnya dibawa masing-masing untuk dicari penyelesaiannya. Sekalipun banyak hal yang ingin disuarakan, tapi semua itu hanya tertahan di kerongkongan. Banyak kata yang ingin tercurah, namun berakhir hanya di sebuah naskah.

Bukan tidak ingin. Hanya saja ada kalanya dunia tidak selalu harus tahu. Cukup tersimpan rapat dalam doa-doa yang menggema dari kalbu. Masing-masing berhenti sejenak. Senyap untuk saling menyimpan rasa, diam-diam menaruh harap, tapi tidak berhenti saling mendoakan, sebab satuan jarak tidak lantas menghalangi doa yang tidak memiliki ukuran.

Tidak ada yang saling memulai, tidak ada pertanyaan. Bukan karena takut tak terbalas, tapi khawatir merusak kehadiran sekitar. Akan ada alasan di setiap pertemuan, dan selalu ada harga di setiap momen. Tetap percaya dan selalu meyakini bahwa kelak pertemuan itu datang bukan sebuah kebetulan, tapi sebuah pertemuan yang akan berakhir sebagai awal untuk bisa bersama.

Tuhan Bisa Bertindak Sebagai Pengutus Duka

tapi bisa pula berlaku sebagai penebar bahagia, pemberi cinta dan penghimpun harap. Hanya pada-Nya semua diadukan, merebahkan resah dan tangis. Tuhan memang memberi cinta untuk bahagia, tapi tidak semua kebahagiaan berasal dari cinta. Kebahagiaan bisa lahir dari kedapan air mata.

Segala kenyataan terbaik memang tidak selalu seindah pilihan hati, sebab semua yang dikehendaki belum tentu layak untuk dimiliki. Tuhan yang menggenggam hati dan mafhum terhadap segenap perasaan. Ketika ribuan cobaan datang menghampiri, terdapat jutaan kekuatan tertanamkan. Ketika tersemat keyakinan bahwa realitas berubah dan semesta bergerak, maka di sana mulai merasakan bahwa hidup itu cair dan mengalir.

Tuhan tidak (akan) pernah salah menitipkan amanah, termasuk perasaan. Mungkin ada yang hadir sesaat, lalu menghilang tanpa jejak dan tidak pernah kembali. Ada yang muncul sebentar kemudian pergi, tapi selalu datang ketika dibutuhkan. Sifatnya temporer dan selalu bergantian, karena hakikat hidup memang sebuah persinggahan. Boleh jadi malaikat mungkin cemburu pada dekatnya dua manusia yang belum diabsahkan statusnya oleh agama dan negara. Karenanya, Tuhan menciptakan jarak, sehingga menjauh merupakan cara terbaik untuk mendekat, supaya ada jarak, tercipta ruang untuk cinta bergerak.

Sedalam apapun menggali data, jika memang belum ada waktunya, tidak akan pernah menjadi tahu. Sekeras apapun mencari informasi, kalau memang belum tiba saatnya, tidak akan pernah menjadi terjadi. Kekhawatiran dan rasa menggebu-gebu untuk menjadi genap misalnya. Jika tuhan belum menganugerahkan kesempatan menggenap, seberapa kuat menyatukan, tidak akan pernah berhasil. Seperti petuah bijak yang mungkin terasa sebagai klise, If something is destined for you, never in million years it will be for somebody else. Tuhan akan menghadirkan seseorang yang tepat di waktu yang tepat.

Manusia Bergantung Pada Kehendak Tuhan

Sedangkan Tuhan tidak bergantung pada kehendak apapun. Yang perlu dipupuk dalam keadaan ini adalah menyerahkan dan bersabar menerima atau menunggu. Menerima untuk tidak menunda apa yang seharusnya dipercepat, atau menunggu untuk tidak mempercepat apa yang seharusnya ditunda. “Apapun bersandar pada kehendak Allah, sementara kehendak Allah tidak bersandar pada apapun. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu pada waktu yang Dia kehendaki, bukan menurut apa yang engkau pilih pada waktu yang engkau ingini, ungkap Ibnu Atha’illah as-Sakandari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *