Fenomena Mairil di Pesantren

Please log in or register to like posts.
News

Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan berahi antar santri. Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Di pesantren kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan umumnya dilakukan ketika “korban” sedang tertidur lelap di malam hari.

Selama ini dunia pesantren dikenal sangat lekat dengan nuansa agama. Setiap pagi, siang, sore hingga malam hari kegiatan-kegiatan yang diajarkan di pesantren selalu berkaitan dengan pendalaman agama. Mengaji, mengkaji, menelaah, hingga shalat berjamaah adalah beberapa kegiatan rutin setiap harinya.

Namun, siapa yang mengira di balik kentalnya nuansa agama yang ada di pesantren ternyata menyimpan hikayat menyayat yang sangat bertentangan dengan ajaran agama? Perilaku-perilaku menyimpang di dunia pesantren, terutama yang berkaitan dengan penyimpangan hubungan antar santri adalah rahasia umum di kalangan santri. Yang lebih mencengangkan, praktik seperti ini dilakukan antarsesama jenis kelamin.

Hubungan antarsesama jenis kelamin di pesantren inilah yang dikenal dengan sebutan mairil. Di pesantren mairil bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah mentradisi secara turun-temurun hingga kini. Sehingga sukar menghilangkan budaya itu karena sang pelaku dalam menjalankan aksinya sangat rapi, di luar pengetahuan orang lain.

Jangankan orang lain, kadang yang menjadi korban sendiri tidak menyadari kalau dirinya pernah dijadikan pelampiasan berahi orang lain. Biasanya korban baru menyadari kalau dirinya telah menjadi pelampiasan hubunganual orang lain ketika bangun tidur. Karena mairil bukan didasarkan suka sama suka tetapi secara sembunyi-sembunyi, ketika korban sudah terlelap.

Istilah lain yang serupa dengan mairil adalah nyempet. Ada perbedaan antar kedua istilah yang serupa ini. Nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan hubungan dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat berahinya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis. Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat dalam hubungan satu jenis kelamin.

Kondisi sosiologis dunia pesantren dengan pembinaan moral dan akhlak secara otomatis interaksi antara santri putra dan putri begitu ketat. Keseharian santri dalam komunitas sejenis, mulai bangun tidur, belajar, hingga tidur kembali. Santri bisa bertemu dengan orang lain jenis ketika sedang mendapat tamu. Itu pun jika masih ada hubungan keluarga. Praktis, ketika di pesantren tidak ada kesempatan untuk bertemu dan bertutur sapa dengan santri beda kelamin.

Di samping tempat asrama putra dan putri berbeda, hukuman yang harus dijalankan begitu berat, bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren, jika ada santri putra dan putri ketahuan bersama. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan perilaku mairil dan nyempet di kalangan santri di pesantren begitu marak.

Perilaku nyempet dan mairil biasanya dilakukan oleh santri tua (senior), tidak jarang pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah. Namun demikian, kegiatan nyempet hanya terjadi ketika masih menetap di pesantren tetapi ketika sudah lulus dari pesantren budaya seperti itu ditinggalkan. Terbukti, kehidupan mereka normal dan tidak ditemukan kasus mereka menjadi LGBT (lesbian, gay, bisexual, dan transgender). Mereka semua berkeluarga dan mempunyai anak. Karena orang yang melakukan itu hanya pelampiasan sesaat bukan sepenuhnya hasrat menggeliat.

Umumnya yang menjadi korban nyempet dan mairil adalah santri yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, cute, atau baby face. Hampir pasti santri (baru) yang memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri senior. Bahkan tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain terlibat konflik untuk mendapatkannya.

Di pesantren berlaku hukum tidak tertulis yang harus dijalankan bagi orang yang memiliki mairil. Misalnya jika si A sudah menjadi mairil orang, maka si mairil tersebut akan dimanja layaknya sepasang kekasih dalam ikatan pacaran yang wajar. Jika si mairil dekat dengan orang lain pasti orang yang merasa memiliki si mairil tersebut akan cemburu berat.

Mungkin catatan ini akan membuat pembaca terkejut dan mengernyitkan dahi, “Ah yang bener aja.” Namun  pembaca bisa melacak sendiri bahwa peristiwa seperti ini dalam dunia pesantren, terutama saat malam menjelang. Atau boleh jadi mereka yang pernah dibesarkan di pesantren akan tersenyum kecut mengakui peristiwa kebenaran cerita ini dalam hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *