Home / Kolom / Peran Pesantren dalam Membangun NKRI
Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix;
Manusia adalah Makhluk Berperasaan

Peran Pesantren dalam Membangun NKRI

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya. Ciri khas paling menonjol yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya adalah sistem pendidikan dua puluh empat jam, dengan mengkondisikan para santri dalam satu lokasi asrama yang dibagi dalam bilik-bilik atau kamar-kamar sehingga mempermudah mengaplikasikan sistem pendidikan yang total.

 

Metode pembelajaran pesantren yang paling mendukung terbentuknya pendidikan karakter para santri adalah proses pembelajaran yang integral melalui metode belajar-mengajar (dirâsah wa ta’lîm), pembiasaan berprilaku luhur (ta’dib), aktivitas spiritual (riyâdhah), serta teladan yang baik (uswah hasanah) yang dipraktikkan atau dicontohkan langsung oleh kiai/nyai dan para ustadz. Selain itu kegiatan santri juga dikontrol melalui ketetapan dalam peraturan/tata-tertib. Semua ini mendukung terwujudnya proses pendidikan yang dapat membentuk karakter mulia para santri, di mana dalam kesehariannya mereka dituntut untuk hidup mandiri dalam berbagai hal. Mulai dari persoalan yang sederhana seperti mengatur keuangan yang dikirim orang tua agar cukup untuk sebulan, mencuci pakaian, sampai pada persoalan yang serius seperti belajar dan memahami pelajaran.

 

Secara tidak langsung, pesantren juga mengajarkan para santri untuk menghargai perbedaan suku, ras, bahasa, serta menciptakan pergaulan yang diistilahkan oleh Gus Dur sebagai “kosmopolitanisme pesantren”. Para santri yang belajar di pesantren datang dari berbagai penjuru Tanah Air dengan latar belakang suku dan bahasa yang berbeda-beda. Pergaulan lintas suku, bahasa dan daerah menjadikan para santri menyadari kebinekaan yang harus dihargai dan menghayati semboyan bangsa kita, “Bhinneka Tunggal Ika”.

 

Para kiai/nyai selalu memberikan wejangan kepada para santri sebagai calon pemimpin dan agen perubahan di masa depan, sehingga dalam jiwa mereka tertanam kesadaran untuk mempersiapkan diri menjalankan peran tersebut sekembalinya mereka ke tengah-tengah masyarakat di kampung. Kepemimpinan yang dimaksudkan oleh pesantren bukanlah dalam makna jabatan formal dan politik, melainkan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya, di mana mereka harus memandu dan mencerahkan masyarakat menuju ke arah yang lebih baik.

 

Kemandirian menjadi modal terpenting bagi para santri ketika terjun di tengah masyarakat. Dengan jiwa mandiri, para santri tidak akan mudah tergiur dengan iming-iming jabatan formal, atau diintervensi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Hal ini tidak lepas dari keteladanan para kiai/nyai, yang sebagian besar mendirikan pesantren dengan jerih-payah mereka secara mandiri, berdasarkan keinginan yang kokoh untuk berbagi ilmu pengetahuan agama kepada umat. Dari segi kurikulum dan sistem pembelajaran pun, pesantren bersifat mandiri dan otonom. Jauh sebelum otonomi pendidikan diwacanakan dan dianjurkan oleh pemerintah, pesantren sudah menerapkannya terlebih dahulu. Karena masing-masing pesantren otonom dalam pendidikannya, sangat kecil kemungkinan untuk mengeneralisir corak pesantren di Indonesia.

 

Pesantren juga banyak berjasa bagi negeri ini, terutama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak awal negeri ini terlahir dari pesantren yang mengawalnya dari waktu ke waktu, terutama pada saat-saat genting. Para tokoh pesantren terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan dan merumuskan ideologi Pancasila dan UUD 45, serta menjaga komitmen NKRI sampai saat ini  Banyak dari mereka yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional, seperti Hadhrat al-Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH  Wahid Hasyim dari Pesantren Tebu Ireng Jombang. Para kiai pesantren berkeyakinan bahwa NKRI dengan ideologi Pancasila sudah final  Komitmen kebangsaan dan kecintaan mereka pada Indonesia diperkuat oleh doktrin agama yang mengharuskan mereka untuk mencintai Tanah Air. Jargon agama menyebutkan bahwa cinta Tanah Air adalah bagian dari iman, “Hubb al-wathan min al-îmân.”

 

Nusantara, yang sebetulnya mencakup Asia Tenggara mulai dari Philipina, Thailand, Brunei, Malaysia dan Indonesia, adalah wilayah keislaman yang damai. Islam yang dianut tidak pernah ditegakkan dengan perang, tetapi disebarkan melalui ajaran dan tradisi para sufi (tarekat) yang sangat besar pengaruhnya dalam corak keberislaman kita yang damai dan lebih menekankan prilaku luhur dan anti-kekerasan. Berbeda dengan Islam di Timur Tengah yang dari waktu ke waktu ditegakkan dan dikawal dengan pedang, perang dan pertumpahan darah. Bisa kita lihat, Islam yang terlahir dari negeri-negeri Timur Tengah kerap mengekspor banyak kekerasan dan teror di Nusantara ini.

 

Hal tersebut sangat kontras dengan Islam di Nusantara yang disebarkan melalui zawiyah-zawiyah, yang lembaga pendidikannya disebut sebagai pesantren. Kita yakin bahwa Indonesia pun tidak mungkin seperti ini jikalau tidak ada basis keberislaman yang disebarkan oleh para guru tarekat. Kerajaan-kerajaan yang berdiri di Aceh sampai Banten, sebagian besar terlahir dari pesantren. Kalau tidak ada pesantren, tentu tidak akan ada Islam yang damai, dan bahkan tidak mungkin negeri Nusantara ini terlahir. Maka ketika kemerdekaan berhasil diraih, kita tahu bahwa yang mempeloporinya di tingkat basis adalah para kiai pesantren. Memang ada sejumlah intelektual yang tinggal di Jakarta seperti Bung Karno dan Bung Hatta, tetapi tanpa dukungan di tingkat basis yang dipelopori oleh para kiai pesantren, kemerdekaan tidak akan mungkin bisa kita rebut.

 

Setelah kemerdekaan, ada sekelompok orang yang menginginkan supaya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang merupakan Pembukaan UUD 45 dihapus. Kalimat “Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” kemudian diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Inilah yang secara terus -menerus menjadi titik konflik  Siapakah yang memberikan ‘kata putus’ supaya tujuh kata itu dihapus? Menurut penelitian para sejarawan mutakhir, ia adalah KH  Hasyim Asy’ari. Karena kalau Kiai Hasyim tidak mengizinkan tujuh kata itu dihapus, maka tokoh-tokoh dari bagian timur negeri ini akan memisahkan diri, dan kemungkinan mereka akan dimanfaatkan oleh pihak Belanda yang berusaha menguasai Indonesia kembali. Jika itu terjadi, maka persatuan dan kesatuan Indonesia akan pecah. Tetapi karena Kiai Hasyim memberikan izin, “Silahkan tujuh kata itu dihapus, tidak masalah, yang penting Indonesia tetap bersatu dari Sabang sampai Merauke,” mereka pun tetap bertahan. Inilah kearifan dan keikhlasan luar biasa yang dipersembahkan oleh tokoh-tokoh pesantren untuk keutuhan NKRI.

 

Kalau tujuh kata itu tidak dihapus, Indonesia bagian timur akan melepaskan diri dikarenakan memang basis agamanya berbeda dan wilayahnya terpisah. Bali yang juga mempunyai basis agama dan wilayah sendiri, juga mempunyai kekuatan ekonomi yang membuat mereka mampu untuk mandiri. Sampai sekarang pun masyarakat internasional lebih banyak mengenal Bali ketimbang Indonesia. Jikalau Indonesia bagian timur dilepas, maka hampir dipastikan Bali juga akan melepaskan diri. Kemudian tinggal Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Apakah ada jaminan pulau-pulau besar yang luasnya berlipat-lipat dibandingkan pulau Jawa dapat bertahan dalam Indonesia?

 

Dengan menghapus tujuh kata, keuntuhan Indonesia dapat dipertahankan sampai saat ini. Kalau tidak dihapus, maka Nusantara akan pecah berkeping-keping. Sesudah bagian timur terlepas, maka Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera akan mendirikan negara sendiri-sendiri. Kemudian tinggal Jawa dan Madura, apa jaminannya Madura dan Jawa akan terus bersatu? Sementara kita tahu bahwa Madura bisa mendirikan Negara sendiri dengan kekayaan alam yang begitu banyak.

 

Kemudian tinggal Jawa saja. Pertanyaannya, apa jaminannya Jawa bisa bersatu? Jawa bagian timur mempunyai sejarah yang berbeda; Jawa Timur bagian Tapal Kuda mempunyai sejarah yang berbeda dengan Jawa Timur bagian barat, Mataram. Begitu juga Jawa Tengah, apa jaminannya Jawa Tengah bisa bersatu? Sementara di sana ada Solo dan Yogyakarta yang sampai sekarang masih merasa sama-sama tinggi. Lalu tinggal Jawa Barat, apa jaminannya Jawa Barat bisa bersatu? Sedang di sana terdapat tiga bagian yang berbeda, yaitu Banten, Pasundan, dan Cirebon, yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri-sendiri.

 

Kita yakin bahwa apa yang dilakukan oleh Kiai Hasyim pasti mempunyai dasar yang kuat dalam tradisi Islam. Empat belas abad yang silam Rasulullah pernah membuat perjanjian damai dengan kaum kafir Mekah yang disebut dengan “Perjanjian Hudaibiyah”. Suhail bin Amru yang mewakili kaum kafir Mekah mempertanyakan adanya kalimat “Bismillâhirrahmânirrahîm dan menegaskan bahwa ia tidak akan menandatangani perjanjian jikalau kalimat tersebut tidak dihapus. Akhirnya Rasulullah sendiri yang menghapus kalimat tersebut.

Muhammad Ali Yahya
Godly-nationalism

About Muhammad Ali Yahya

Muhammad Ali Yahya
Godly-nationalism

Check Also

Manusia adalah Makhluk Berperasaan; Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Venice Min; Eny Rochmwati Octaviani; Eny Rochmawati Octaviani; Eny; Rochmwati; Rochmawati; Octaviani; Butcah Chuniez; Butcah; Chuniez; Thata; Tata; ThatA Bee; Bee;

Manusia adalah Makhluk Berperasaan

Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat. Ketika ada seseorang …