Home / Kolom / Pendidikan, Sekolah, dan Anak Durhaka
Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix; 임윤아; Im Yoon-ah; Im Yoona; 임; 윤아; Im; Yoon-ah; YoonA; 30 May 1990; Busana; Pemantas Raga, Pelaras Jiwa; Eny Rochmawati Octaviani; Eny Rochmwati Octaviani; Eny; Rochmawati; Rochmwati; Octaviani; Tata; Thata; Pelantan; Butcah Chuniez; Butcah; Chuniez; 04 Oktober 1995; Libra; Family; Parent; Children; Keluarga; Orangtua; Anak; Walid; Education; Edukasi; Ta’lim; Pendidikan;
Orangtua beserta Anaknya Bahagia Bersama

Pendidikan, Sekolah, dan Anak Durhaka

Jika pendidikan adalah bumi maka sekolah adalah gunung. Jika pendidikan adalah samudera maka sekolah adalah sungai. Pada intinya, sekolah adalah salah satu dari sekian banyak sarana pedidikan. Ini yang tidak pernah disadari dan dipahami oleh (sebagian) orangtua. Pendidikan disempitkan pada sekolah. Lucu sekali! Bagi saya orang tidak harus sekolah, tetapi harus berpendidikan. Namun banyak orangtua berpikir, apabila anaknya sudah sekolah, berarti dia sudah melaksanakan semua program pendidikan untuk anaknya. Akibatnya orangtua cukup bangga apabila anaknya sudah sarjana.

 

Gara-gara pola pikir yang seperti itulah, Indonesia tidak pernah naik kelas menjadi negara dunia ke-2, apalagi menjadi negara kelas satu. Ini semua karena kita hanya memiliki jutaan sarjana yang tidak tahu menahu mau melakukan apa untuk kemajuan dirinya sendiri minimal, atau bangsanya. Orangtua dan guru kita hanya mau anak-anaknya mendapatkan prestasi di sekolahnya, meskipun hal itu didapat dengan cukup rajin ke sekolah dan belajar giat. Pemerintah kita tidak pernah membuat program bagaimana supaya generasi muda dirangsang untuk menjadi kreatif dan inovatif.

 

Padahal kunci semua kesuksesan adalah kreativitas dan rasa tak pernah takut berkreasi. Saat seseorang mencoba kreatif, dia akan sukses menjadi apa saja, sukses menjadi bankir, sukses menjadi musikus, sukses sebagai lawyer, dan lain-lain. Tetapi sebaliknya, jika ruang kreativitas dikebiri dan dibungkam, tunggu saja ajal kehancuran anak minima, atau bangsa ini. Mau lihat?

 

Pendidikan Anak

 

Sebagian orangtua memang kerap menganggap pendidikan formal adalah sesuatu yang paling utama. Sikap seperti ini biasa ditunjukkan oleh mereka yang ingin terbaik untuk mereka sendiri, bukan terbaik untuk anak-anak mereka. Untungnya saya tidak seperti mereka. Bukannya saya tidak menganggap penting pendidikan formal di sekolah. Tetapi buat saya yang lebih penting adalah kegembiraan jiwa mereka.

 

Seandainya pun saya menjadi orangtua dari anak yang punya bakat yang besar di dalam dunia sekolah atau science, tentunya saya juga akan mendukung mereka mati-matian hingga Anggun C. Sasmi jadi bintang iklan shampo lain. Tapi ketika pada kenyataannya mereka bisa saja punya minat yang tak terdapat di bangku sekolah, masa iya saya musti maksa-maksa mereka untuk beralih minat?

 

Kalau saya tegas saja, sorry ya! Kalau saya mau ikut cara mereka, iya itu sebagian orangtua yang seperti itu. Sebab, saya bukan orang yang suka memaksakan kehendak. Hehehe… Saya sendiri pernah merasakan bagaimana rasanya melakukan sesuatu dengan perasaan terpaksa dan tidak suka. Sangat tidak sehat untuk perkembangan jiwa.

 

Ajaran Sesat dari Orangtua pada Anaknya

 

Suatu saat pacar saya yang masih SMP pada tahun 2008 berkata kepada saya, “Orangtuaku mengajarkan ke aku kalau kita harus baik kepada semua teman di kelas, karena mungkin suatu saat ada sebagian dari mereka yang sukses dan kita bisa dibantu”. Haaaa……???? Ini jelas-jelas ajaran yang sesat menurut saya. Justru kalau saya jadi orangtua, saya harus mengajarkan kepada anak-anak saya yang sebaliknya, “Hai anak-anakku… berbuat baiklah sama semua teman temanmu di kelas dan suatu waktu saat kamu sukses bantulah semua teman-temanmu itu!”

 

Kita ini tanpa sadar dicekoki ajaran sesat tersebut entah oleh orangtua, guru atau teman-teman kita dengan merasa senang menjadi orang yang selalu dibantu dan jarang diajarkan agar terbiasa semangat membantu. Padahal agama Islam jelas mengajarkan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah”. Ada lagi yang mengatakan, ”Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfa’at bagi manusia lainnya”. Tetapi yang tidak saya ketahui adalah mengapa ajaran-ajaran agung seperti itu hanya menjadi penghias bibir, bukannya menjadi kesadaran yang kemudian mengkristal menjadi budaya dalam kehidupan sosial kita.

 

Tidak Perlu Ada Anak Durhaka

 

Sering kita mendengar cerita tentang anak durhaka, semoga kita tidak termasuk salah satunya. Kenapa seorang anak bisa menjadi “durhaka”? Menurut saya, semua tergantung orangtuanya. Kalau orangtuanya memiliki rasa ikhlas yang besar, tidak mungkin orangtua seperti ini memiliki amarah yang besar, sehingga membuat anaknya menjadi anak durhaka.

 

Masalahnya, banyak orangtua yang tidak ikhlas dalam membesarkan anak-anaknya. Sehingga saat anak sudah besar dan mampu berdiri sendiri, seolah si anak harus membalas semua usaha orangtua yang sudah membesarkannya. Seolah olah si anak mempunyai “hutang yang harus di lunasi”. Padahal membesarkan anak adalah kewajiban dan tanggung jawab orangtua, dan mereka tidak perlu mengharapkan sesuatu saat anaknya sukses. Karena itu sebuah bentuk tanggung jawab buat mereka yang sudah merencanakan dan melahirkan anak-anaknya ke dunia.

 

Apabila para orangtua mengerti, bahwa kasih sayang kepada anak itu harusnya sebuah kasih sayang yang tak perlu dan tak butuh balasan. Karena hanya kepada anak lah cinta sejati itu diberikan. Sehingga, apa pun yang kita berikan kepada anak-anak, seyogyanya bukanlah pemberian yang akan kita tagih di kemudian hari.

 

Jadi bila suatu saat anak-anak kita tidak memberikan sesuatu yang menurut kita mereka seharusnya berikan, kita tidak perlu murka dan menganggap anak kita anak durhaka. Justru kita sebagai orangtua hanya punya tanggung jawab mendidik mereka menjadi anak yang sholeh, karena merekalah yang men-do’a-kan saat kita sudah meninggal. Kalau mereka menjadi durhaka, bagaimana mereka sanggup men-do’a-kan kita?

 

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

About Anggi Safaningrum

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

Check Also

Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix; 임윤아; Im Yoon-ah; Im Yoona; 임; 윤아; Im; Yoon-ah; YoonA; 30 May 1990; Busana; Pemantas Raga, Pelaras Jiwa;

Pemantas Raga, Pelaras Jiwa

Pemantas raga, pelaras jiwa, itulah busana. Busana sudah menjadi kebutuhan utama manusia sejak awal keberadaannya. …