Home / Kolom / Idola dan Penggemar

Idola dan Penggemar

Idola dan Penggemar adalah keniscayaan. Tanpa dilarang dan dianjurkan pun, pengidolaan adalah sebuah takdir. Tapi mati berdesakan cuma untuk menonoton idola adalah takdir yang pahit.Walau kata ”cuma” di atas mestinya memang hanya cocok untuk orang tua. Untuk orang yang telah kebal pengaruh. Orang yang makan bayam bukan untuk menjadi Popeye, minum susu sapi bukan untuk menjadi sapi.

 

Buat sebagian manusia, kata ”cuma” itu sungguh tidak berlaku. Menonton idola adalah sebuah kedahsyatan. Sebuah mimpi seperti di SCTV, sebuah fanatisme seperti di MTV, tempat para fans dipertemukan dengan para idol.

 

Pengidolaan adalah masa-masa yang berat, gelap dan melelahkan. Ia adalah lubang yang menelan kita semua. Sebagian dari kita berhasil bangkit, lolos dan kabur. Sebagian kita yang lain harus lenyap terkubur. Pengidolaan terjadi karena ada jenis kepribadian yang kuat, menakjubkan, mencengangkan di pihak idola. Ia makin menajam ketika ada kerapuhan di pihak pemuja. Akan lebih fantastis ketika telah mengalami pembesaran media. Tiga hal itu jika bergabung, wajar, jika menghasilkan akibat yang dramatis.

 

Sesuatu yang biasa bisa menjadi luar biasa di tangan media media. Apalagi jika sesuatu itu memang luar biasa. Ia akan segera menjadi mega-luar biasa, menjadi hiper-realita. Dalam suasana surealistik itulah pengidolaan hidup subur. Suasana tempat manusia diangkat derajatnya menyerupai derajat dewa-dewa. Kamera dari delapan penjuru angin cuma membidik satu sudut saja: tentang manusia yang tampak begitu sempurna. Manusia tempat Tuhan seperti tengah mengumpulkan hampir semua nasib baik cuma pada satu orang saja.

 

Jangan Anda bayangkan bahwa media itu cuma bernama koran dan televisi. Di zaman lampau media itu bisa bernama dongeng, mitos dan legenda. Televisi boleh belum ditemukan tapi pemujaaan harus tetap dihidupkan. Bahwa kecantikan Cleopatra lebih sempurna dari peri, bahwa betis Ken Dedes menyemburkan cahaya, Jaka Tingkir sanggup memukul kepala kerbau hingga remuk, bahwa ada jenis perampok seperti Robin Hood yang kejahatannya bahkan terlihat indah.

 

Kita tak peduli apakah cerita itu nyata atau apakah tokoh-tokoh itu benar-benar ada. Yang kita butuhkan adalah bahwa betapa kita butuh keluar dari kenyataan dan hidup di luar kenyataan yang sering tampak indah, gemerlap dan serba sempurna itu. Kecenderungan yang sungguh bisa dimengerti karena di dalam kenyataan, sedikit saja orang yang merasa beruntung dan bernasib baik. Selebihnya, kenyataan dipenuhi oleh orang-orang yang merasa gagal dan putus asa.

 

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

About Anggi Safaningrum

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

Check Also

Manusia adalah Makhluk Berperasaan; Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Venice Min; Eny Rochmwati Octaviani; Eny Rochmawati Octaviani; Eny; Rochmwati; Rochmawati; Octaviani; Butcah Chuniez; Butcah; Chuniez; Thata; Tata; ThatA Bee; Bee;

Manusia adalah Makhluk Berperasaan

Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat. Ketika ada seseorang …