Home / Kolom / CherryBelle dan Teladan Kepemimpinan
CherryBelle dan Teladan Kepemimpinan

CherryBelle dan Teladan Kepemimpinan

CherryBelle dan Teladan Kepemimpinan bukanlah tulisan untuk membahas segala seluk-beluk kronologi girl group yang memiliki angggota kehormatan bernama Margareth Angelina (Angel) ini. Melainkan bermaksud menyerap pelajaran tentang membuat perubahan dari kemunculan CherryBelle di tengah persaingan industri musik yang cukup sengit di negeriku Indonesia.

 

CherryBelle adalah kombinasi unik dari bakat personel-personelnya, kejeniusan manajemennya dalam mengemas CherryBelle menjadi sesuatu yang menjual, sederhana dalam musik dan koreografi, lirik-lirik yang penuh makna pengajaran bagi ababil (ABG labil), dan hausnya kebutuhan ceruk pasar berusia SD-SMP akan idola baru. Itu semua adalah faktor-faktor yang dibutuhkan untuk sebuah gerakan menjadi wabah dan kemudian menciptakan perubahan.

 

Selama ini kepemimpinan terlalu ditempatkan secara eksklusif dan terkesan sulit dilakukan, dan hanya orang-orang tertentu saja yang pantas menyandang gelar pemimpin. Padahal di dalam konteks berjejaring, setiap orang adalah pemimpin. Meski kemudian ketika ada seseorang yang keluar dari kerumunan, dan membuat kerumunan itu mengikutinya dan menjadikannya pemimpin, tidak serta merta membuat para pengikut itu kehilangan kepemimpinan mereka.

 

Dibutuhkan sebuah gagasan dan komunikasi yang efektif dalam menyampaikan gagasan itu kepada kerumunan, yang kemudian membuat orang menjadi pemimpin melalui gagasan dan komunikasi tersebut.

 

Meski kesuksesan CherryBelle menyeruak ke atas permukaan menjadi merk dagang yang paling laku saat ini banyak dicibir oleh para pembencinya sebagai sebuah bentuk plagiat, tetapi suka atau tidak mereka adalah girl group tersukses yang ada di Indonesia. Bahkan mereka memiliki pamor dan reputasi yang lebih mentereng ketimbang G-String dan 7 Icons yang merupakan pendahulu mereka dalam fenomena girl group di Indonesia. Apa rahasia mereka?

 

Pertama, dari aspek latar belakang budaya yang ada di balik kemunculan CherryBelle. Ada satu segmen dalam masyarakat yang belum berhasil disentuh dengan baik oleh industri musik Indonesia, yaitu segmen anak-anak SD-SMP. Kelompok ini membutuhkan idola untuk mereka kagumi dan ikuti. Terbukti kemudian, penggemar terbanyak CherryBelle adalah kelompok usia ini. Kemampuan seorang pemimpin dalam memetakan kelompok pendukung potensialnya adalah salah satu kunci utama dalam memicu sebuah gerakan perubahan.

 

Kedua, dari aspek kecerdasan mereka dalam mengemas ide atau gagasan yang ingin mereka sampaikan. Ini nampaknya tidak terlepas dari kejeniusan manajemen CherryBelle, yang menurut saya pasti jago dalam ilmu manajemen, meski belum tentu mereka adalah sarjana manajemen. Kualitas suara sembilan personal CherryBelle sebenarnya biasa-biasa. Kalau dibandingkan dengan Dara The Virgin, tentu suara para personel CherryBelle akan terdengar biasa saja.

 

Tetapi bukankah itu inti kepemimpinan? Biasa-biasa saja. Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Mbak Mega, bahkan SBY jika dilihat sejarah hidup mereka, adalah sosok yang biasa-biasa saja. Di era Bung Karno, masih banyak tokoh-tokoh yang jauh lebih brilian ketimbang dirinya. Ada Tan Malaka, Sjahrir, ataupun Hatta. Jika dibandingkan antara kecerdasan Pak Harto dan Habibie, rasa-rasanya jelas unggul Habibie.

 

Toh Habibie justru menjadi bawahan Pak Harto kan? Cak Nur tentu bisa juga disejajarkan dengan Gus Dur, toh Gus Dur justru yang menjadi “atasan” Cak Nur. Amien Rais tentu sudah lebih banyak makan asam garam dunia politik, toh dia kalah jauh dengan Mbak Mega. Perwira-perwira Angkatan Darat yang lebih jempolan dari SBY pun pasti rasanya banyak, misalnya saja Prabowo Subianto yang satu angkatan dengannya. Tetapi mereka semua ini mencuat jadi pemimpin. Yang membuat mereka yang biasa-biasa saja ini jadi pemimpin adalah kehebatan mereka mengemas sebuah gagasan dan mengkomunikasikan gagasan itu.

 

Apa sih gagasan yang ingin disampaikan oleh CherryBelle? Terkait pembentukan CherryBelle pihak manajemen menyatakan mereka sengaja memilih gadis-gadis bertinggi badan yang “mayoritas”. Kita tahu rata-rata tinggi badan wanita Indonesia berkisar antara 155-165 cm, yang lebih tinggi dari itu hanyalah kaum “minoritas”. Meski wajah mereka good looking, tapi rasanya banyak gadis-gadis yang lebih cantik dari mereka.

 

Dalam hal ini manajemen CherryBelle ingin menyampaikan gagasan, sekaligus harapan, bahwa semua penggemarnya bisa menjadi seperti mereka. Ini terbukti dengan salah satu lagunya yang mengatakan, “Don’t cry, don’t be shy. Kamu cantik apa adanya. Sadari, syukuri, dirimu sempurna”. Berapa banyak kasus bullying yang terjadi karena didorong faktor fisik? Banyak sekali, namun CherryBelle mengkhotbahkan sebuah pesan “Setiap orang istimewa”, seperti jargon mereka “CherryBelle istimewa”.

 

Ketiga, tampilan sederhana. Tetangga saya yang berusia sekitar 4 tahun bisa dengan mudah mengikuti gerakan tari personel CherryBelle. Jika dia bisa mengikuti gerakan tari akrobatik ala Agnes Monica, maka saya akan membentur-benturkan kepala saya ke dinding karena saya khawatir sedang bermimpi buruk. Meski koreografi mereka sederhana, tapi saya yakin mereka berlatih dengan keras mengasah terus kemampuan menari dan menyanyi mereka.

 

Terlihat dari otot-otot paha dan betis para personelnya. Sesuatu yang sederhana tidak selamanya karena ketidaksiapan atau ketidakmampuan. Justru dibalik sesuatu yang sederhana, terdapat kerumitan-kerumitan di belakangnya, namun kerumitan tersebut tidak terungkap di permukaan. Konon kabarnya, para ilmuwan Fisika selalu berusaha menjelaskan kerumitan dalam alam semesta menjadi seperangkat rumusan sederhana. Sebuah gerakan yang memicu perubahan terdiri dari gagasan yang sederhana di belakangnya.

 

Jadi setiap kita adalah pemimpin. Gagasan akan perubahan yang kita miliki ketika terkomunikasikan dengan baik kepada orang-orang di sekitar, suatu hari nanti akan menjadi sebuah gelombang besar perubahan. “Yes we can”, jika memakai ungkapan Barack Obama dalam pemilu presiden Amerika Serikat 2008 silam, yang membuat Barack Obama mencatat sejarah di USA. Siapapun bisa menjadi pemimpin, namun ketika ada yang lebih mahir dalam memimpin, sudah selayaknya yang kurang mahir legowo untuk dipimpin.

 

 

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

About Anggi Safaningrum

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media daring

Check Also

Manusia adalah Makhluk Berperasaan; Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Venice Min; Eny Rochmwati Octaviani; Eny Rochmawati Octaviani; Eny; Rochmwati; Rochmawati; Octaviani; Butcah Chuniez; Butcah; Chuniez; Thata; Tata; ThatA Bee; Bee;

Manusia adalah Makhluk Berperasaan

Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat. Ketika ada seseorang …