Home / Kolom / Lima Tesis Relasi Agama dan Sains

Lima Tesis Relasi Agama dan Sains

Relasi agama dan sains mengalami pasang-surut yang panjang. Tak dapat dimungkiri bahwa dalam kehidupan umat manusia saat ini, sains memegang peranan penting. Keberadaan sains menjadi dasar kemajuan teknologi yang semakin memudahkan kehidupan manusia. Di satu sisi, peran agama semakin melemah seiring menguatnya peran sains. Lalu bagaimakah ragam macam relasi antar keduanya

 

Watak Agama

 

Orang beragama memakai kitab suci mereka untuk mengklaim beragam kebenaran berdasarkan kepercayaan bahwa kitab suci mereka, yang memberitakan beragam kebenaran itu, adalah wahyu Ilahi, bukan berdasarkan bukti-bukti objektif. Kebenaran imaniah (berdasarkan kepercayaan) ini diyakini benar, absah dan berlaku mutlak dan dipercaya tak bisa salah karena dianggap datang sebagai wahyu dari Allah (Tuhan) yang tidak mungkin salah.

 

Menurut agamawan, tak perlu ada pembuktian atas semua kepercayaan keagamaan. Sebab kebenaran sudah dijamin oleh Allah sendiri yang memberi wahyu. Namun sikap seperti ini menimbulkan pertanyaan: berhubung setiap agama apapun adalah sebuah sistem kepercayaan yang dibangun oleh manusia sendiri tentang wahyu Ilahi, apakah sudah pasti keyakinan ini benar dan sesuai dengan wahyu Ilahi?

 

Watak Sains

 

Dalam dunia sains atau ilmu pengetahuan, suatu klaim saintifik hanya diterima benar atau absah jika ada bukiti-bukti empiris yang mendukungnya. Sains dibangun berdasarkan fakta-fakta.

 

Seiring berjalannya waktu, bukti-bukti dan fakta-fakta baru senantiasa ditemukan, atau fenomena alam bisa sudah lebih banyak dikuak, dan posisi-posisi saintifik lama bisa tidak sinkron lagi dengan bukti-bukti baru, maka suatu posisi teoretis saintifik dengan sendirinya selalu terbuka untuk dievaluasi ulang.

 

Hal ini bisa menimbulkan perubahan besar yang terjadi pada pandangan-pandangan sainstifik yang relatif sudah kokoh. Sejalan dengan itu, sains tak bisa diabsolutkan (dimutlakkan), meskipun tentu saja ada berbagai posisi saintifik yang sudah teruji dan kokoh sebagai teori-teori besar.

 

Relasi Agama dan Sains

 

Secara umum dan ringkas, ada lima posisi yang dapat diambil kalau agama mau ditempatkan dalam hubungannya dengan sains.

 

  1. Posisi separatif

Agama dan sains dipandang menempati wilayah masing-masing yang otonom dan tak bisa dipertemukan, terpisah satu sama lain selamanya, dan tidak bertumpang tindih. Dalam posisi ini, agama condong terdorong untuk menggeluti hanya soal-soal moral, ritual, dan kehidupan individual umat yang tidak bersentuhan sama sekali dengan sains yang terus berkembang.

 

  1. Posisi adaptatif-submisif

Agama tunduk dan menyesuaikan diri sepenuhnya pada sains dengan akibat agama kehilangan autentitas dan eksistensinya, ditinggalkan, dan hal-hal yang semula dijawab dan disediakan agama, dijawab kemudian dan disediakan oleh sains. Dalam posisi ini, agama masih ada, namun sudah bertransformasi menjadi agama naturalis dengan membuang dimensi-dimensi supranaturalnya.

 

  1. Posisi superior-triumfalistik

Agama diklaim lebih unggul dibandingkan sains, dan mengendalikan atau membinasakan sains. Dalam posisi ini, wahyu dan iman dipandang lebih tinggi dari, dan tak bisa digantikan oleh, sains.

 

  1. Posisi dialogis

Dalam posisi ini dianggap ada sejumlah kaitan antara agama dan sains. Kaitan tersebut adalah tujuan-tujuan besar dan esensial baik dari agama maupun dari sains sehubungan dengan kehidupan, manusia, masa depan, peradaban, dan jagat raya. Dengan posisi seperti ini, dipandang memungkinkan jika agama dan sains terlibat dialog yang tak pernah usai di sekitar tema-tema yang pararel ini. Kedua belah pihak berharap lewat dialog ini satu sama lain akan memperkaya. Melalui dialog juga kebenaran-kebenaran moral yang lebih besar dan lebih penuh diharapkan akan didapat.

 

  1. Posisi konflik abadi

Agama dan sains dipandang dan diperlakukan selalu ada dalam hubungan tegang penuh konflik yang tak akan bisa didamaikan atau diselesaikan. Agama dan sains dipandang berperang terus-menerus. Keduanya mengambil sikap antaogistik satu sama lain. Posisi ini tampak “dibenarkan” oleh perbedaan mendasar antara watak agama dan watak sains yang satu sama lain berkonflik dan tidak bisa dipertemukan.

 

Para agamawan yang tidak konservatif, pada umumnya akan mengambil posisi yang keempat, posisi dialogis. Jika ini memang posisi mereka, dari mereka diperlukan usaha keras untuk bisa memanfaatkan perkembangan sains dengan kreatif bagi tujuan-tujuan dialog sehingga mereka bisa berdawakwah dengan baik.

 

Kita semua, sebagai manusia ciptaan Allah, tak boleh merasa lelah, tidak boleh dogmatis, dan tidak boleh mengklaim telah tiba pada kebenaran paling akhir dan paling penuh. Kita bersama-sama berjalan, menempuh ziarah yang tak pernah selesai, kendati cara berjalan yang masing-masing ditempuh berbeda-beda. Akan selalu ada kawasan yang dipegang dan diyakini, dalam agama-agama, begitu juga dalam sains. Hal ini membuat relasi agama dan sains senantiasa eksis walau tak selalu harmonis.

Muhammad Ali Yahya
Godly-nationalism

About Muhammad Ali Yahya

Muhammad Ali Yahya
Godly-nationalism

Check Also

Manusia adalah Makhluk Berperasaan; Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Venice Min; Eny Rochmwati Octaviani; Eny Rochmawati Octaviani; Eny; Rochmwati; Rochmawati; Octaviani; Butcah Chuniez; Butcah; Chuniez; Thata; Tata; ThatA Bee; Bee;

Manusia adalah Makhluk Berperasaan

Manusia adalah makhluk berperasaan, sehingga rasa bagi manusia menjadi landasan yang kuat. Ketika ada seseorang …