Ketika Santri Berkarya Sebagai Diaspora Indonesia

Please log in or register to like posts.
News
Ketika Santri Berkarya Sebagai Diaspora Indonesia

Ketika Santri Berkarya Sebagai Diaspora Indonesia

Nama lengkap dan gelarnya ialah Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M, MA (Hons), PhD. Dia merupakan putra Indonesia yang menyelesaikan studi S1 dari Fakultas Syari’ah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1996. Petualangan mendulang kajian dilanjutkan dengan belajar di University of New England dan meraih gelar Graduate Diploma in Islamic Studies (1999) serta Master of Arts with Honours (2001). Gelar LL.M di Hukum Perbandingan didapatkan Nadir pada tahun 2000 usai belajar dari Charles Darwin University.

Nadir termasuk orang yang memiliki semangat berlipat dalam kajian keilmuan. Semangat berlipat yang dimiliki membuatnya terus mendayagunakan segala kesempatan yang dimiliki. Hingga pada 2005 dia menyelesaikan Ph.D. pada bidang hukum di University of Wollongong dan Ph.D. pada bidang hukum islam di National University of Singapore pada tahun bersamaan.

Nadir merupakan bungsu (alm) Prof. KH Ibrahim Hosen, LML (1917-2001). Ibrahim Hosen termasuk pakar ushul fikih (filsafat hukum Islam) dan fikih perbandingan yang dikenal sebagai sosok penting dalam linikala fatwa di Indonesia. Terobosan pemikiran pendiri Institut Ilmu al-Qur’an Jakarta ini kerap mengejutkan dan tak jarang menuai polemik.

Memilih Kabur ke Australia

Memiliki garis keturunan dengan sosok penting jelas tak mengenakkan bagi Nadir. Perlu upaya tersendiri agar perjalanannya tak saling membayangi dengan abahnya. Berkarya sebagai diaspora merupakan pilihan jitu yang diambil Nadir. Pilihan ini diambilnya dengan kabur ke selatan Indonesia, Australia.

Kaburnya Nadir dari Indonesia dimulai dengan menjadi peneliti post-doctoral di TC Beirne School of Law, Universitas Queensland. Selama 2 tahun di sini, dia melakukan penelitian dan mengajarkan Perbandingan Hukum Anti-Terorisme dan Kebijakan untuk program LL.M.

Nadir tampak aman dan nyaman kabur ke Australia barangkali karena suasana lingkungan lebih kondusif dalam beradu gagasan. Rasa aman dan nyaman berada di negeri kanguru membuatnya menerima pinangan University of Wallongong.

Tercatat Nadir mendayagunakan kemampuannya untuk ikut serta memperkaya lembaga ini melalui Fakultas Hukum dengan mengajar Dasar Hukum, Hukum Tata Negara, Hukum Islam, dan Masalah Kontemporer dalam hukum Asia Tenggara.

Setelah cukup lama di University of Wallongong, Nadir menerima pinangan Monash University. Pinangan yang memaksanya berpisah dengan tempat yang telah diperkaya dan diwarnai. Apresiasi resmi sebagai Associate Professor mengiringi perpisahan bulan madu selama sewindu ini.

Sebagai orang kelahiran Indonesia, Nadir mencatat sejarah sebagai orang pertama dan yang menjadi dosen tetap di Fakultas Hukum, Monash University, sejak 20 Juli 2015. Di sini, dia mengajar Hukum Tata Negara, salah satu mata kuliah yang diajarkan di semester kedua.

Pilihan kabur ke selatan Indonesia terbilang bagus baginya. Berada di lingkungan kompetitif dan kondusif memaksanya untuk terus bisa berkarya. Tak kurang 65 karya tulis telah diterbitkannya di jurnal internasional. Tempat menerbitkan karya yang bukan hanya meramaikan melainkan memperkaya kajian keilmuan sekaligus membuat nama Nadir bisa kekal.

Memilih Kabur ke Australia

Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia

Karya tulis Nadir tak hanya diterbitkan dalam bentuk jurnal, melainkan juga buku. Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia, menjadi buku pertamanya yang ditulis sendiri. Buku yang diterbitkan oleh Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, pada tahun 2007 ini memfokuskan pembahasan pada reformasi konstitusi di Indonesia (1999-2002) dari sudut pandang syari’ah.

Penulisan buku ini berangkat dari ketertarikan Nadir melihat keadaan lingkungan setelah jatuhnya orde militeristik. Jatuhnya orde yang dipimpin oleh Soeharto tersebut memberi jalan amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45). Sebagai negara dengan penduduk yang sebagian besar beragama Islam, hal ini membuka gerbang bagi beberapa kelompok Islam dan partai politik untuk mengajukan pandangan mereka terhadap syari’ah Islam ke dalam konstitusi.

Ketertarikan Nadir terhadap keadaan ini membuatnya mengajukan pertanyaan yang tersirat dalam amandemen UUD 45: dapatkah pandangan terhadap syari’ah Islam dan konstitusionalisme demokrasi digunakan tanpa mengorbankan hak asasi manusia, supremasi hukum, dan kemerdekaan beragama? Kajian yang dilakukan dengan melihat peran partai-partai politik berbasis massa Islam di Indonesia untuk proses dan hasil amandemen.

Kajian yang dilakukan memperlihatkan bahwa partai-partai politik tersebut mampu untuk memadukan konstitusi tanpa meninggalkan prinsip dan tujuan dari syari’ah dengan cara mengadopsi pendekatan syari’ah substantif. Melalui Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia, Nadir menyingkap satu gambaran memungkinkan tentang cara Islam dan konstitusionalisme dapat berpadu tanpa beradu dalam visi yang selaras, meski memungkingkan risiko ketegangan sejenak.

Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia

Tiga tahun kemudian, pada 2010, Nadir kembali menerbitkan buku. Republic of Letter Publishing, Dordrecht, Belanda, menerbitkan bukunya yang berjudul Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era. Lagi dan lagi penulisan dimulai dari ketertarikan Nadir terhadap keadaan lingkungan selepas jatuhnya orde militeristik.

Jatuhnya orde militeristik memang banyak membuka kesempatan untuk mengubah peta Indonesia, anta lain untuk mereformasi sistem politik, merancang aturan yang bisa melindungi hak asasi manusia dan kebebasan pers, serta untuk menghilangkan kesempatan korupsi yang sistematis dan sistemik.

Melalui buku ini, Nadir menelusuri proses reformasi hukum yang berlangsung di Indonesia selama era Habibie, dari Mei 1998 hingga Oktober 1999. Era ini boleh disebut sebagai masa turbulent sepanjang sejarah gerakan Indonesia. Pada bab terakhirnya, diberikan cermina 12 tahun transisi Indonesia dan menelaah struktur baru negara Indonesia setelah amandemen UUD 45 tahun 2002-2004, serta masalah keamanan nasional dan aturan hukum selepas peristiwa Serangan 11 September dan bom Bali pada tahun 2002.

Modern Perspective on Islamic Law

Buku lainnya berjudul Modern Perspective on Islamic Law ditulis bersama Ann Black dan Hossein Esmaeili. Ann Black merupakan Associate Professor of Law di TC Beirne School of Law, The University of Queensland, Australia, sementara Hossein Esmaeili adalah Associate Professor of Law di Flinders Law School, Flinders University, Australia.

Ketiga penulis yang merupakan cendekiawan terkemuka berasal dari latar belakang berbeda: seorang Muslim dengan tradisi Sunni, Muslim dengan tradisi Syi’ah, dan seorang perempuan non-Muslim; menjadikan buku ini tak hanya asyik melainkan juga diperkaya dengan perbedaan latar belakang yang menumbuhkembangkan pandangan tentang hukum Islam.

Ketiganya keroyokan dalam menyelesaikan buku yang diterbitkan oleh Edward Elgar, Cheltenham, UK pada tahun 2013 dan 2015. Buku ini memberikan penjelasan, refleksi, dan analisis hukum Islam mulai dari tradisi hukum klasik hingga konteks kekinian. Pembahasan dilakukan dengan mengelaborasi peran hukum Islam di negara-negara sekuler dan merefleksikannya pada sistem hukum Islam dalam konteks klasik seperti yang diterapkan di beberapa negara Timur Tengah dan juga Asia Tenggara.

Kata pengantar dalam buku yang mengakui bahwa Islam terus memainkan peran penting tak hanya di Timur Tengah namun di bagian dunia lainnya ini diberikan oleh Sir William Blair, hakim Pengadilan Tinggi Inggris dan Wales yang juga kakak Tony Blair. William Blair menyebut bahwa pembahasan dalam buku ini adalah salah satu yang sangat penting.

Pembahasan dimulai dengan analisis sifat hukum Islam, konsepnya, makna dan sumber, serta perkembangannya dalam berbagai tahap sejarah Islam. Pembahasannya diiringi dengan catatan tentang cara hukum Islam yang sedang dipraktikkan saat ini, pembahasan terhadap lembaga-lembaga seperti parlemen, peradilan, dar al-ifta, partai politik, dan organisasi penting lainnya, serta analisis beberapa konsep seperti negara-bangsa, kewarganegaraan, ummah, dhimmah, dan aturan hukum.

Buku ini meneliti fenomena kekinian yang memperlihatkan bahwa banyak fatwa dikeluarkan secara kolektif dan bukan berasal dari seorang cendekiawan secara individu. Para penulis kemudian mengevaluasi bagaimana tawaran hukum Islam terhadap masalah keluarga, ekonomi, kejahatan, aset, dan alternatif penyelesaian sengketa. Terakhir, buku ini melihat kembali isu-isu kontemporer yang diperdebatkan dalam hukum Islam, seperti burqa, makanan halal, riba (bunga), dan kemurtadan.

Pembahasan meriah menjadikan karya tulis ini menjadi teks ilmiah standar pada hukum Islam yang memberikan cakupan luas dan menarik bagi peneliti dan pelajar hukum Islam serta kajian keislaman pada umumnya. Aspek perbandingan hukum Islam yang disajikan dalam buku ini juga menarik bagi praktisi hukum.

Mari Bicara Iman

Selain menulis buku dalam Bahasa Inggris, Nadir juga menulis beberapa buku dalam Bahasa Indonesia. Mari Bicara Iman: ..kearifan, kepedulian, kesejukan batin, dan tantangan zaman, menjadi buku pertama yang diterbitkannya dalam Bahasa Indonesia. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Zaman pada Januari 2011 ini mengajak kita berbincang tentang berbagai persoalan keseharian dan keberagamaan.

Sebagai buku popular, ulasan disampaikan dengan menghindari istilah teknis keilmuan sehingga pembaca bisa menikmati tanpa perlu mengerutkan dahi. Walau demikian, tetap tersirat makna yang ingin disampaikan. Cerita yang ditampilkan berupa cuplikan khazanah keislaman maupun cerita keseharian yang jamak dijumpai. Penuturan yang diberikan ada saatnya mengasah kepekaan rasa sebagai manusia serta kadang memberikan penghiburan sebagai penguat iman.

Ashabul Kahfi Melek 3 Abad

Bersama Nurussyariah Hammado, pakar Neurosains dari Makassar, Nadir menerbitkan buku Ashabul Kahfi Melek 3 Abad: Ketika Neurosains dan Kalbu Menjelajah Al-Quran. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Noura Books pada September 2013. Sepertihalnya Mari Bicara Iman: ..kearifan, kepedulian, kesejukan batin, dan tantangan zaman, buku ini juga ditulis dengan bahasa popular.

Peristiwa tidur panjang para penghuni gua merupakan peristiwa menakjubkan. Sebagai perajin kajian keilmuan, keduanya mencari serangkaian proses ilmiah yang memungkinkan tidur berdurasi 309 tahun itu terjadi. Namun sebagai perajin pengajian, keduanya juga tak lepas landas begitu saja dari al-Quran. Sehingga keduanya menampilkan perpaduan dua hal ini.

Tak hanya kisah penghuni gua, beberapa kisah lain juga dituturkan dengan bagus. Misalnya binatang yang diungkap dalam al-Qur’an, agar manusia dapat belajar dari kisah tersebut. Sentilan terhadap kelompok tertentu pun dituturkan melalui cerita Ujang dan Haji Yunus. Semuanya dituturkan agar gairah mengkaji dan mengaji al-Qur’an tidak begitu saja surut.

Noura Books kembali menerbitkan karya Nadir pada tahun Juni 2015. Dari Hukum Makanan Tanpa Label Halal Hingga Memilih Mazhab yang Cocok menjadi buku yang menuturkan praktik-praktik keseharian hukum Islam lintas benua. Penerbitan buku semacam ini terbilang cerdas. Pasalnya dengan apik dituturkan kisah pemeluk Islam di beragam belahan dunia.

Nadir menjelaskan bahwa dalam menerapkan syariat, Islam berprinsip untuk memudahkan pelaksanaan ajaran tertentu dalam situasi khusus. Tentu saja ada syarat dan ketentuan tertentu dan hal lain mengatur hal ini yang diuraikan dengan baik oleh Nadir. Selain menuturkan kasus khusus, Nadir juga menuturkan persoalan umum seperti ucapan selamat natal, mencari fatwa keagamaan (termasuk “bertanya kepada” Google), penghinaan terhadap Nabi Muhammad, dan sebagainya.

Menghasilkan Karya Menggunakan Kata

Menghasilkan Karya Menggunakan Kata

Selain menulis buku penuh, Nadir juga ikut serta menyumbang dalam beberapa bagian buku. Artikel berjudul Religious pluralism, inclusive secularism, and democratic constitutionalism: the Indonesian experience yang dimuat dalam Muslim Secular Democracy: Voices from Within, misalnya.

Dalam artikel di buku yang diterbitkan Palgrave Macmillan, New York, US pada 2013 ini, dia menyoroti perdebatan mengenai pengadilan syari’ah. Nadir memilih kasus penghapusan Pengadilan Yahudi di Toronto, Beith Din, pada tahun 2005, sebagai fenomena yang dibahas. Kasus ini bermula ketika para pemimpin Muslim meminta hak yang sama seperti Yahudi dengan diperbolehkan menggunakan arbitrase yang berdasarkan akar keagamaan mereka.

Permintaan tersebut memaksa Pejabat Ontario untuk memutuskan apakah perlu membentuk pengadilan syariah bagi umat Islam atau menghapuskan pengadilan keagamaan sama sekali. Akhirnya, Premier setempat, Dalton McGuinty memutuskan bahwa hanya ada satu hukum untuk semua warga Ontario sehingga tidak perlu ada hukum syariah ataupun arbitrase agama di Ontario.

Dalam buku Constitutionalism in Islamic Countries: Between Upheaval and Continuity yang diterbitkan oleh Oxford University Press, USA, New York, US pada tahun 2013, Nadir menyumbangkan artikel berjudul Indonesia: A presidential system with checks and balances. Artikel ini menelaah masa-masa turbulent di Indonesia selepas orde militer.

Kali ini Nadir mengulas perubahan arah hubungan antara eksekutif dan legislatif. Sebelum orde militeristik jatuh, eksekutif memiliki keunggulan dibanding legislatif yang terpampang kentara dalam konstitus. Namun seiring proses amandemen, posisi eksekutif dan legislatif menjadi setara. Selain itu juga memberikan perubahan lain berupa penghapusan kursi legislatif untuk kelompok militer.

Nadir kembali menyumbangkan pemikiran dalam bab buku Constitutionalism in Asia in the Early Twenty-First Centure pada tahun 2014. Di buku terbitan Cambridge University Press, Cambridge, UK, ini dia menulis artikel berjudul Promoting democracy and finding the right direction: A review of major constitutional developments in Indonesia. Reformasi konstitusi masih menjadi topik pembahasan. Kali ini amandemen UUD 45 yang diulasnya dengan melihat kelindan aturan negara dengan warga.

Artikel berjudul Law, religion and security dalam Routledge Handbook of Law and Religion yang diterbitkan pada 2015 oleh Routledge, Oxford, UK, menjadi artikel lainnya yang disumbangkan Nadir. Dalam artikel ini dia mengulas kegiatan teroris yang digambarkan sebagai terorisme keagamaan serta menunjukkan pandangan yang membedakan terorisme dengan kasus biasa. Bom maraton di Boston pada tahun 2013 menjadi fenomena yang diulasnya.

Nadir menuangkan karya tulisnya dalam bentuk buku teknis keilmuan dan popular. Hal ini juga dilakukan dalam bentuk artikel. Selain menulis jurnal, Nadir juga menyumbang bacaan pada media massa Indonesia seperti Gatra, Media Indonesia, The Jakarta Post dan Jawa Pos, maupun melalui situs pribadi dan media sosialnya.

Ikut Serta Menjadi Penyunting

Tak hanya menulis, Nadir juga ikut serta menjadi penyunting buku. “To write is human, to edit is divine.” tutur Stephen King. Peran sebagai penyunting dilakukan dengan bertandem bersama Joseph Liow. Keduanya urun tangan menyelaraskan buku Islam in Southeast Asia yang diterbitkan Routledge, London, UK, tahun 2010, sebanyak empat volume.

Volume I fokus pada aspek sejarah, budaya, sosiologis, teologis, dan intelektual Islam di Asia Tenggara. Volume II fokus pada kecenderungan dalam politik yang berkelindan dengan pemeluk Islam di Asia Tenggara. Volume III fokus mengidentifikasi dan menganalisis para pelaku utama dan agen yang terlibat dalam pembentukan dan pengembangan jaringan masyarakat sipil pan-regional. Sedangkan Volume IV fokus pada hubungan antara Islam, politik, dan terorisme pasca bom Bali tahun 2002.

Routledge, London, UK, ketika menerbitkan Law and Religion in Public Life The Contemporary Debate tahun 2011 dan 2013 memberikan kepercayaan pada Nadir untuk kembali menjadi penyunting. Nadir tetap bertandem, kali ini bersama Richard Mohr. Secara khusus, buku ini mengajak pada cendikiawan terkemuka dan pemimpin agama yang disegani untuk bersama-sama mengkaji aspek hukum, teoritis, sejarah dan agama dari isu-isu sosial yang paling mendesak pada masa-masa sekarang.

Dengan beberapa cuplikan rekam jejak tersebut, Nadir memperlihatkan bahwa pengkajian dan pengajian merupakan dua perkara yang bisa berpadu tanpa beradu. Dirinya juga menunjukkan bahwa untuk bisa mengharumkan nama Indonesia, tak harus tinggal di Indonesia. Lebih dari itu, tanpa kehilangan muruah, Nadir berusaha menularkan tradisi akademis ke dalam setiap rumah.

Ketika Santri Berkarya Sebagai Diaspora Indonesia

*) ditulis bersama Amatullah, versi lain catatan ini bisa dibaca melalui Majalah SANTRI vol. 7 (Oktober 2016), halaman 56-59 [lihat].

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *