Kenangan Perjuangan Angan

Please log in or register to like posts.
News

Kenangan perjuangan angan – Tidak ada sesuatu yang istimewa yang dapat aku ceritakan dan berikan kepada kalian. Karena aku bukanlah orang pintar yang bermahkotakan kemenangan-kemenangan gemilang dan aku bukanlah orang kaya yang bermandikan hujanan uang yang bisa jatuh kapan saja. Aku hanya salah seorang tokoh pemain yang memiliki cerita hidup sendiri dengan aku sebagai pemeran utama dan dengan cerita yang berbeda dari si pintar dan si kaya.

Aku adalah seorang pejuang, peranku sampai saat ini masih menjadi seorang pejuang. Seorang pejuang yang sedang menuntut ilmu dan memperjuangkan hak-hak yang diterimanya dari berbagai kalangan. Hak-hak itu aku terima melalui beasiswa PBSB yang diselenggarakan oleh Kemenag (Kementrian Agama) Republik Indonesia. Maka menuntut ilmu dan mampu menjadi anggota masyarakat serta berguna kelak adalah salah satu tugasku sebagai seorang pejuang.

beasiswa

PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi)

Adalah program beasiswa yang diadakan oleh Kemenag RI yang mana pesertanya adalah seluruh santri yang ada di Indonesia. Dan menjadi salah satu pejuangnya adalah hal yang luar biasa. Maka disinilah pejuanganku berawal, ketika aku mendaftar sebagai salah satu peserta beasiswa PBSB yang berasal dari Kota Merauke, kota yang berada di paling ujung Negara Indonesia. Harapan diterimanya aku sebagai mahasiswa PBSB datang dari banyak pihak, baik orang tua maupun guru. Tetapi harapan dan dorongan  sempat memudar ketika mereka tahu bahwa aku mengambil Bahasa Inggris sebagai jurusan pilihan.

Mengetahui hal tersebut, pikiranku sempat terganggu. Apakah pilihanku salah? Apakah aku egois? Memikirkan hal itu akhirnya aku mendapatkan sebuah jawaban, aku bukan bermaksud egois ataupun memaksa, aku hanya ingin berjuang dijalan yang aku pilih. Aku hanya ingin menjadi pemeran utama yang memerankan peranku dan bukan menjadi pemain yang memerankan peran orang lain. Tetapi hal ini tidaklah mudah ketika pengalaman-pengalaman lalu membuktikan bahwa peluang baik hanya sedikit yang berada dipihakku. Tantangan ini semakin berat dirasa ketika pengumuman kelulusan peserta penerima beasiswa PBSB terlambat dari yang telah dijadwalkan.

Satu dua hari telah berlalu dari jadwal pengumuman, dan kekhawatiran semakin tergambar jelas diwajah abah yang sudah semakin berumur karena waktu dan manis pahit kehidupan. Merasa terdesak dengan jadwal dan segala sesuatu yang membelit pikiran, suatu hari abah bertanya kepadaku, “Ais tidak mau kah kalau kuliah di jurusan PAI di tempat abah sama ibu dulu?”

Aku sudah tahu bahwa cepat atau lambat abah atau ibu pasti akan menanyakan hal ini, aku sudah mempersiapkan diri dan jawaban jauh sebelum abah menanyakan hal ini. Tapi kenapa bibirku tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun? Mungkin hal itu karena aku melihat rau wajah kebingunagan abah yang sangat jelas terlihat? Atau mungkin karena saat itu aku sadar betapa berharganya aku untuk mereka?

Ah, benar, walaupun aku tinggal di Merauke, kota terujung di Indonesia dan bahkan tidak banyak orang yang tahu kota tercintaku ini selain dari lagu ciptaan….. yang berjudul dari Sabang sampai Merauke. Orang tua ku tetap memikirkan sesuatu yang terbaik yang bisa mereka berikan untuk anak sulung mereka ini, pikirku.

“Ditunggu saja dulu bah, kalau Ais belum dapat pengumumannya berarti teman-teman yang lain juga belum. Nanti kalau Ais sudah pasti tidak diterima baru Ais jadi di tempat abah sama ibu kuliah dulu”.

Aku yakin bahwa kata-kataku tidak sepenuhnya dapat menghilangkan rasa khawatir beliau, tapi rasa khawatir itu beliau telan mentah-mentah karena yakin bahwa percaya terhadap pilihan anak adalah cara mendukung terbaik.

Suatu saat ketika aku sedang berada di kantor kelurahan untuk mengurus KTP, tiba-tiba ibuku menelpon dan tanpa salam ibuku langsung berbicara dengan nada yang lumayan menggetarkan. Ketika itu ibu bilang kalau aku lulus sebagai peserta santri PBSB. Rasa bahagia yang ku rasakan saat itu seperti sebuah drum yang dipukul dengan sangat keras dan dapat pecah sewaktu-waktu. Akupun memutuskan untuk mampir ke pondok setelah selesai mengurus KTP untuk berbincang-bincang dengan pimpinan pondok.

Singkat cerita, setelah berbincang dengan pimpinan pondok. Pimpinan pondok pun mengucapkan selamat atas diterimanya aku sebagai salah satu santri PBSB dan sebagai santri yang pertama kali diterima dengan jurusan ‘yang berbeda’ dari kakak-kakak kelasku sebelumnya yang telah lebih dulu menjadi santri PBSB. Mendengar hal ini abah pun merasa sangat gembira. Hingga pada akhirnya kami sekeluarga pergi ke Jawa untuk merayakan Idul fitri bersama keluarga besar sekaligus mengantar aku dan adikku.

kenangan perjuangan angan

Beberapa Waktu pun Berlalu

Tibalah saat dimana aku dan adikku untuk mendaftar ulang di sekolah dan perguruan tinggi masing-masing. Karena tanggal registrasi ulang yang sama antara aku dan adikku, akhirya orang tua kamipun berbagi tugas. Ibu mengantar adikku ke pondok yang berada di Jombang (Tebu Ireng), sedangkan abah mengantarku ke Bandung.

Saat itu, abah hanya memiliki dua hari sebelum tanggal kembali pulang ke Merauke. Kenangan dan perasaan yang masih teringat jelas ketika kami menginap disalah satu rumah murid abah yang berada di Bandung, saat itu ketika malam, ketika abah mengira aku sudah tidur, saat itu setelah sekian lama beliau memelukku. Pelukkan itu membahagiakan tapi juga terasa menyesakkan hati.

Malam itu aku berfikir, setua dan sebesar apapun aku nanti, aku tetap akan menjadi gadis kecil abah dan pelukkan itu membuktikkan hal tersebut. Pelukan yang sama persis aku rasakan sejauh yang dapat aku ingat ketika dulu aku sering bermain dengan beliau. Namun, pelukkan ini juga terasa sesak, apakah abah juga merasakan apa yang aku rasakan saat ini? Ah, tidak mungkin pikirku, karena apapun itu abah pasti merasa lebih sesak dan berat daripada aku. Karena perasaan itulah, aku bertekad, apapun yang terjadi saat aku menempuh studi ini, aku tidak akan menyerah dan akan terus berjuang sampai akhirnya aku tidak sanggup lagi.

Esoknya, abah menemaniku untuk registrasi ulang di gedung BAAK UPI. Entah karena apa, aku  belum dapat menemukan teman-teman penerima beasiswa PBSB lainnya. Setelah registrasi ulang, abah menemaniku ku mencari tempat tinggal (kosan). Dan tepat setelah menemukan kosan abah langsung pamit, karena lusa harus kembali ke Merauke dan sebelum itu beliau harus menjemput ibu ku yang sedang mengantar adikku, Barru. Sedih sudah pasti, bagaimana bisa aku yang tidak tahu apa-apa tentang bandung ditinggal sendirian tanpa satupun kenalan? Tapi mengingat kewajiban lain yang harus abah penuhi aku berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan itu, karena pikirku aku tidak ingin meyusahkan abah lebih banyak lagi.

Lagi pula, akan semakin susah bagi abah untuk meninggalkan aku jika aku tidak bersikap mandiri dan dewasa.

“Ais, abah langsung pergi ya, hari ini abah harus sudah jemput ibu, karena besokknya sudah mau pulang lagi ke Merauke. Ais tidak apa-apa to? Bisa sendiri to?”

“Iyo, tenang, Ais bisa lah, Ais juga kan sudah tau dimana toko sama wartegnya. Jadi gampang, paling nanti juga ais perginya sama anak-anak afirmasi biar ada teman”.

Benar, saat itu sebelum aku mengenal baik teman-teman maupun kakak-kakak dari PBSB, aku lebih dulu mengenal anak-anak penerima beasiswa afirmasi dari  Kalimantan dan Aceh.

“Iyo sudah kalo begitu abah pamit dulu e.” saat itu, situasi yang canggung pun terjadi, abah seperti tidak ingin meninggalkan aku sendiri tapi di lain pihak, abah ku harus melakukannya. Sebelum pergi, abah hanya bisa memberikan ku ciuman, sebuah ciuman yang sangat berarti dipipi kananku. Untuk sesaat ku tahan air mata yang kurasakan dapat jatuh kapan saja, aku berusaha agar jangan sampai abah melihatnya. Abah pun pergi dan aku hanya dapat memperlihatkan senyuman yang aku paksakan karena beberapa kali abah sempat menoleh kebelakang untuk melihat ku.

Hari pertama kuliah pun aku lalui dengan semangat dan penuh sukacita. Karena beberapa hari yang lalu, aku dapat terhubung dengan teman-teman penerima beasiswa PBSB yang lain secara tidak disengaja. Hal ini terjadi karena salah sambung, yang singkat cerita, akhirnya aku dapat bertemu dengan teman-teman dan kakak-kakak CSS yang lain.

Saat itu ada kejadian yang lumayan lucu terjadi. Sebelum mengenalku, kakak-kakak dan teman-teman sempat mengira aku adalah anak laki-laki. Itu karena namaku di data penerima PBSB adalah Arij Zulfi M. Karena hal ini, kesalahan pun terjadi, karena kakak-kakak berfikir aku anak laki-laki, aku di sekamarkan dengan salah satu teman laki-laki. Akibatnya, mereka harus membayar lebih untuk penyewaan kamar. Karena kejadian ini, sampai sekarang, mereka lebih berhati-hati ketika mencari tempat tinggal untuk penerima PBSB.

Jarak yang begitu jauh memisahkan aku dan keluargaku tidak kujadikan masalah, justru sebaliknya aku jadikan kesempatan ini sebagai kesempatan terbesar untuk berusaha hidup lebih mandiri. Pada semester awal, I was very struggling to cope with the course. Walaupun bahasa inggris adalah pilihanku, bukan berarti aku sudah sangat ahli dalam bidang tersebut. In fact, itu hanya sebagai pondasi kuat yang aku miliki untuk menekuni bahasa inggris. Pada saat itu, walaupun aku dapat mengikuti perkuliahan dengan lancar, aku sadar, bahwa dengan kemampuanku yang seperti ini I won’t be able to chase after my friends, because I have to run to chase them who walk, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil les privat selama semester satu.

Menyadari masih kurangnya penguasaanku dalam Bahasa Inggris, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil les Bahasa Inggris lagi di Kampung Inggris, Pare. Les ini aku lakukan selama libur semester dua setelah idul fitri. Walaupun waktu yang harus aku habiskan bersama keluargaku yang saat itu kembali ke jawa untuk merayakan idul fitri bersama lebih pendek. Tapi mau tidak mau jika aku mengambil salah satu berarti aku harus meninggalkan salah satunya.

Bukan berarti aku tidak mementingkan keluargaku, hanya saja, menurutku akan lebih menyakitkan ketika aku tidak dapat melakukan apa yang telah aku putuskan dengan maksimal. Dan ketika aku berada di Pare, awalnya banyak teman-teman yang bertanya, kenapa aku mengambil les Bahasa Inggris padahal aku dari jurusan Bahasa Inggris. Setiap kali mendengar Banyak orang bertanya kenapa aku les bahasa inggris padahal aku jurusan bahasa inggris. Dengan sabar anyaan semacam ini memang sangat menyakitkan, namun ku yakinkan diriku lagi bahwa rasa malu dan gengsi yang aku rasakan saat ini tidaklah akan seberapa dengan rasa malu karena ketidaktahuanku.

Singkat cerita, aku mendapatkan pengalaman serta pengetahuan yang sangat berarti. Terlebih lagi, kepercayaan diriku yang selama ini selelu terkurung, sediki demi sedikit mulai terlihat. Seiring berjalannya waktu, aku selalu konsen dengan kuliah. walaupun demikian, ada satu waktu dimana ketika aku sangat sedih akan ketidak mampuanku. Saat itu, aku menelpon abah dan menceritakan tentang aku yang membenci diriku yang tidak mampu melakukan apa-apa padahal sudah cukup banyak perjuangan yang aku lakukan.

Mendengar hal tersebut, seketika abah menjawab “Kalau memang sudah tidak kuat, kalau mau pindah jurusan juga tidak apa-apa, daripada Ais kayak begitu.”

Mendengar kata-kata terakhir dari beliau, aku tersadar. Apapun itu, tetaplah kerja keras dan usaha yang aku lakukan masih belum cukup. Tapi dengan beraninya aku mengeluh. Akhirnya dengan tegas aku menjawab perkataan beliau sambil terisak “Tidak, Ais tetap mau disini. Ais masih bisa, maaf bah Ais ngeluh, tapi Ais sudah tidak apa-apa kok”. Saat itulah aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengeluh lagi.

Jika kalian telah selesai membaca sebagian dari cerita yang aku perankan. Aku yakin kalian menemukan bahwa tidak ada cerita special dalam hidupku. Karena yang aku lakukan hanya berjuang di dunia perkuliahn dan berusaha sebaik mungkin untuk selalu meningkatkan kapasitas yang sudah aku miliki saat ini. Karena aku sadar, aku yang mengetahui aku lebih dari siapapun.

Orang-orang dan teman-teman lain mungkin dapat meraih prestasi dari berbagai lomba yang diikutinya. To be honest, aku juga ingin seperti mereka yang mampu menorehkan nama mereka sebagai salah satu pemain terhebat di sejarah dunia. Tetapi hal itu aku kesampingkan untuk sementara, karena menyadari keadaanku yang harus berlari untuk mengejar teman-temanku yang berjalan tidaklah mudah. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berkonsentrasi dalam studiku dan terus mencoba mengambil segala kesempatan baik yang ditawarkan.

Salah satu kesempatan baik tersebut adalah ketika aku mendapatkan kesempatan untuk dapat berpartisipasi dalam program Study Field ke Jepang. Walaupun jika ada sebagian orang yang beranggapan hal tersebut tidak seberapa, namun itu tidaklah seperti yang aku rasakan. Rasa yang aku rasakan adalah nyata, perasaan puas ketika mendapatkan hadiah dari hasil kerja keras sendiri. Dan karena program ini adalah satu program yang sangat ingin aku ikuti. Masing-masing orang boleh berpendapat sesuka mereka. Tapi percayalah, ketika kamu bersungguh-sungguh ketika melakukan kebaikan, maka tidak akan pernah ada yang sia-sia dalam prosesnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *