Tafsir Saintifik Al-Quran

Posted on

Read More: Pendidikan Ala Tasawuf

 

Tafsir saintifik atau biasa disebut tafsir ilmy oleh para peneliti tafsir al-Qur’an, merupakan tafsir yang menggunakan istilah-istilah sains dalam memaknai ungkapan al-Qur’an. Model tasir ini memiliki tempat tersendiri dalam studi tafsir al-Qur’an seperti beragam corak tafsir lainnya.

 

Cikal bakal munculnya model tafsir ini sebenarnya sudah muncul pada masa Dinasti ‘Abbasiyah. Munculnya kecenderungan ini sebagai respon dari penerjemahan kitab-kitab ilmiah (saat itu) yang pada mulanya bertujuan untuk  mencari korelasi dan kecocokan antara pernyataan yang diungkapkan di dalam al-Qur’an dengan hasil penemuan ilmiah (sains).

 

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa Imam al-Ghazi merupakan tokoh yang paling elaboratif dalam menjelaskan wacana ini. Hal ini terlihat dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulum al-Din. Ia menjelaskan bahwa al-Qur’an memuat simbol-simbol dan petunjuk-petunjuk mengenai persoalan-persoalan yang sulit dipahami oleh para pengkaji dan diperselisihkan oleh masyarakat serta mengisyaratkan segala jenis ilmu. Penjelasan lebih detail mengenai hal ini, ia terangkan dalam kitabnya yang berjudul Jawahir al-Qur’an. Ia menyatakan bahwa semua ilmu (baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui) sebenarnya tidak menyimpang dari al-Qur’an, sebab semuanya terpancar dari satu samudera pengetahuan Allah. Namun, sayangnya ia tidak menuliskan kitab tafsir yang bercorak ‘ilmy. Idenya tersebut baru terealisasikan pada generasi setelahnya.

 

Pada awalnya, tafsir saintifik ini hadir dalam lingkup penafsiran al-Qur’an sebagaimana upaya Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya. Namun, belakangan ini muncul kitab-kitab independen yang fokus pada upaya mengintegrasikan ilmu-ilmu sains ke dalam ayat-ayat al-Qur’an. Seperti kitab tafsir Jawahir karya Thanthawi Jauhari, al-Tafsir al-‘ilmi Li al-Ayat al-Kauniyah fi al-Qur’an al-Karim karya Hanafi Ahmad, Kitab Kasyf al-Asrar al-Nuraniyyah al-Qur’aniyyah karya Muhammad Ibn Ahmad al-Iskandarani dan masih banyak lagi. Tak hanya berbentuk lembaran-lembaran kitab, masyarakat muslim sekarang juga sudah bisa menikmati tafsir ini melalui video-video yang tersebar di jejaring sosial, seperti youtube, facebook, dsb.

 

Tafsir saintifik merupakan wacana klasik yang terus meningkat peminatnya di masa-masa belakangan. Pasalnya, tafsir ini dianggap sebagai salah satu ‘senjata’ yang sangat ampuh untuk mengungkapkan kehebatan dan kemukjizatan al-Qur’an. Ungkapan “al-Qur’an sebenarnya telah mengungkapkan temuan ini berabad-abad yang lalu” mampu membius para pembaca dan pendengar.

 

Disatu sisi, tafsir ini memberikan pencerahan bagi umat muslim untuk membuktikan kehebatan al-Qur’an dihadapan dunia, namun tak dapat dipungkiri bahwa tafsir ini kadang terkesan ‘terlalu memaksa’ dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan menggunakan istilah-istilah sains. Maka, tidak mengherankan apabila ditemukan beberapa tokoh yang mengkritik corak tafsir ini. Salah satunya adalah Amin al-Khuli (w. 1966); seorang cendekiawan Mesir yang mencoba menginterkoneksikan studi sastra dan studi al-Qur’an. Ia secara tegas menolak tafsir saintifik, bahkan ia dianggap sebagai tokoh yang paling sistematis dalam mengkritik tafsir ini.

 

Setidaknya ada tiga alasan yang membuat Amin al-Khuli menolak tafsir ini. alasan pertama, yaitu jika ditinjau dari aspek kebahasaan dalam dinamika lafal dan perkembangan maknanya, maka akan terhalangi untuk melakukan perluasan makna-makna al-Qur’an yang ‘mengherankan’ tersebut. Hal ini disebabkan karena pemakaian terhadap perluasan makna yang mengherankan itu belum pernah dikenal maupun digunakan, atau kalaupun pernah digunakan, maka ia digunakan dalam terminologi baru pada beberapa generasi setelah turunnya al-Qur’an.

 

Alasan kedua, Jika ditinjau dari aspek kesusasteraan, maka akan sangat terlihat bahwa ujaran ayat-ayat al-Qur’an sama sekali tidak menyentuh kepada makna saintifik yang diklaim. Jika makna saintifik yang mereka klaim itu merupakan makna yang dimaksud oleh al-Qur’an, maka pertanyaannya kenapa kebangkitan di bidang ilmu-ilmu keduniaan yang beragam itu tidak dimulai sejak kemunculan al-Qur’an dan kenapa juga kebangkitan ilmu-ilmu pengetahuan tidak berlandas pada ayat-ayat diklaim sebagai ayat-ayat yang menjelaskan tentang teori ilmu pengetahuan.

 

Alasan ketiga, Jika ditinjau dari aspek keagamaan yang menjelaskan misi kitab suci suatu agama, maka bagaimana mungkin al-Qur’an, yang berorientasi kepada seluruh lapisan umat manusia, mengajak dialog akal manusia dan daya pengetahuan mereka mengenai problematika alam kosmos dan fakta-fakta ilmiah di semesta alam? Bagaimana pula hal itu bisa berjalan secara beriringan dengan kehidupan mereka dan menjadi prinsip baku dalam kehidupan? Tentu jawabannya tidak mungkin. Selain itu, prinsip ilmu pengetahuan itu selalu berubah dan berkembang dalam tempo waktu yang cepat atau lama, sementara teks al-Qur’an itu tetap dari dulu hingga akhir zaman. Kalau ingin tetap dipaksakan maka nantinya dikhawatirkan akan merusak citra keagungan dan kesucian dari al-Qur’an sebagai teks keagamaan yang suci dan absolut.

 

Ketiga alasan ini setidaknya mampu menumbuhkan kepercayaan diri Amin al-Khuli untuk menolak corak tafsir ini. Walaupun begitu, ia memberikan satu solusi bagi mereka yang bersikeras dan berniat baik ingin menunjukkan adanya relevansi al-Qur’an dengan fakta-fakta ilmiah sebagai bukti kemukjizatannya, yaitu cukup hanya menjelaskan bahwa al-Qur’an selaras dengan kehidupan, relevan dengan ilmu pengetahuan, dan terbebas dari kritikan. Tak perlu memasukkan gagasan-gagasan ilmu pengetahuan ke dalam penafsiran al-Qur’an, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan para ahli tafsir saintifik.

 

Terlepas dari pro dan kontra, tafsir saintifik setidaknya telah mampu memberikan ‘warna yang berbeda’ dalam studi tafsir al-Qur’an. Tafsir ini maju untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Hal ini karena sejatinya tafsir merupakan proses mengolah fikiran yang terus menerus dilakukan yang bertujuan untuk mendialogkan antara teks al-Qur’an dengan realitas yang berkembang.

Ilyas Husain
Ilyas Husain adalah recreational author yang merupakan penggemar berat Chelsea & 2NE1.