Pendidikan Ala Tasawuf

Pendidikan Ala Tasawuf
Posted on

Read More: Hidup Cukup

Pendidikan Ala Tasawuf

Sejak awal budaya manusia, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosialisasi dan inkulturasi yang menyebarkan nilai-nilai dan pengetahuan yang terakumulasi dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat berjalan berkelindan dengan pertumbuhan dan proses sosialisasi dan inkulturasinya dalam bentuk yang bisa diserap secara optimal atau bahkan maksimal. Dan, tasawuf sesunggulnya bukan suatu penyikapan yang pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Sebaliknya, seperti diteguhkan oleh Dr. Abu Al-Ala Arifi dalam studinya tentang tasawuf Islam klasik, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah revolusi moral-spiritual dalam masyarakat. Dan, bukankah aspek moral-spiritual ini merupakan ethical basics atau al-asasiyatu-l-akhlaqiyah hagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan? Kaum sufi adalah kelompok garda depan di tengah masyarakatnya. Mereka sering kali memimpin gerakan penyadaran akan adanya penindasan dan penyimpangan sosial. Dan pendidikan, yang biasanya digelar di dalam maupun di serambi inasjid, merupakan instrumen penyadaran itu.

 

Selain sebagai sebuah sikap asketis, tasawuf juga merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia ke dalam harmoni dan keseimbangan total. Metode itu bertumpu pada basis keharmonisan dan pada kesatuan dengan totalitas alam. Dengan demikian, perilakunya tampak sebagai manifestasi cinta dan kepuasan dalam segala hal. Bertasawuf yang benar berarti sebuah pendidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual. Intinya adalah belajar untuk tetap mengikuti tuntutan agama, entah itu ketika berhadapan dengan musibah, keberuntungan, kedengkian orang lain, tantangan hidup, kekayaan, kemiskinan, atau sedang dalam kondisi pengendalian diri atau pengembangan potensi diri. Sufi-sufi besar seperti Rabiah Al-Adawiah, Al-Ghazali, Sirri Al-Siqthi atau Asad Al-Muhasabi, telah memberikan teladan kepada umat bagaimana pendidikan yang baik itu. Di antaranya, berproses menuju perbaikan diri dan pribadi yang pada gilirannya akan menggapai puncak ma’rifatullah, yakni Sang Khalik sebagai ujung terminal perjalanan manusia di permukaan bumi ini.

 

Disadari, pendidikan yang dikembangkan selama ini masih terlalu menekankan arti penting akademik, kecerdasan otak, dan jarang sekali terarah pada kecerdasan emosi dan spiritual. Yang terakhir ini memiliki keunggulan: mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri, dan sinergitas. Dalam tasawur, IQ (dzaka ‘aqli), EQ (dzaka dzihni), dan SQ (dzaka qalbi) merupakan komponen-komponen potensi kemanusiaan yang perlu dikembangkan secara harmoni. Ini agar menghasilkan daya guna yang luar biasa, baik secara horizontal dalam lingkup pergaulan antarmanusia maupun secara vertikal dalam relasinva dengan Yang Transenden, Yang Ilahi. Tanpa itu, yang muncul adalah berkecambahnya krisis dan degradasi dalam ranah moral, pemiskinan sumber daya manusiawi, dan penyempitan cakrawala berpikir yang cenderung berkutat pada militansi sempit atau penolakan terhadap pluralitas.

 

Sufi besar Syaikh Ibn ‘Arabi menandaskan, manusia perlu mengembangkan apa yang dia sebut potensi “al-khayal”—suatu potensi daya dan kekuatan substansial yang mengejawantahkan diri secara hakiki namun faktual. Potensi ini bergerak menuju pengungkapan diri dalam dunia indriawi, yang bersifat abadi dan azali. Demikianlah, berdasarkan aspek esensial pendidikan sufistik ini, manusia perlu dikembalikan pada “pusat eksistensi” atau “pusat spiritual”-nya. Ini agar dijauhkan dari pola-pola kehidupan yang bergerak hanya di pinggir lingkar eksistensinya. Di tengah krisis yang multidimensi itu, sekiranya yang patut dipertahankan dan dikembangkan adalah penguatan pendidikan yang berbasiskan nilai-nilai kesufian atau tasawuf yang justru akan meneguhkan autentisitas kemanusiaan yang senantiasa diberi sentuhan ilahiah.

 

Ilyas Husain
Ilyas Husain adalah recreational author yang merupakan penggemar berat Chelsea & 2NE1.