Manusia Langka Berjiwa Kesatria

Manusia Langka Berjiwa Kesatria
Posted on

Read More: Melestarikan Pesan Pesan Al Quran

Apakah dalam sebuah proses perjuangan dan pertarungan harus disertai keengganan mengapresiasi lawan? Apakah kekalahan senantiasa menimbulkan lara dan prahara? Apakah kemenangan selalu memberikan lega dan gembira? Belum hilang dari ruang ingat kita tatkala John McCain dalam ajang pemilihan presiden Amerika Serikat 2008 silam mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Tak hanya mengejutkan melainkan juga dipandang merugikan dirinya sendiri.

 

Ketika ada seorang perempuan yang menyatakan bahwa ia tidak menyukai Obama karena menurutnya Obama adalah keturunan Arab, alih-alih memanfaatkan rasa tidak suka pendukungnya tersebut, McCain malahan mengatakan dengan tegas, ”No ma’am, no ma’am, he’s a decent family man, citizen that I just happen have disagrement on fundamental issues, and it’s the campaign is all about.

 

Meskipun para pendukungnya saat itu mencemoohnya, McCain malah merasa ia tidak mungkin mengajak pemilihnya untuk memilih dia karena alasan yang salah. Dalam dunia caci maki seperti sekarang, tampaknya sudah lama kita tidak menemui sikap kesatria seperti ini, di mana justru dalam momentum menarik simpati, seseorang bahkan memuji pesaingnya dan mengambil risiko simpati tidak jatuh ke tangannya.

 

Kita menyaksikan banyak contoh di mana keciutan jiwa justru semakin banyak. Mengapa kita tidak bisa menerima kekalahan atau mengakui kelebihan orang lain? Bukankah sebagai pemimpin kita diharuskan mempunyai alam pikir yang jernih, yang dibutuhkan untuk melihat suatu permasalahan? Sehingga ia tidak seperti orang buta yang salah mendeskripsikan gajah bagaikan sebuah tali hanya karena ia sedang memegang ekor gajah.

 

Bagaimana bila ia tidak bisa menangkap suatu isu secara jelas, semata-mata hanya karena hal tersebut bertentangan dengan kepentingannya. Bukankah benar, kemudian salah, kemudian benar lagi itu adalah perjalanan mental yang memang harus dibekali dengan keberanian dan rasa rendah hati? Bukankah untuk menjadi besar kita harus memiliki kualitas pribadi seperti ini?

 

Dalam perjalanan, banyak hal yang tidak disangka-sangka bisa terjadi pada kita. Hal yang sudah kita rencanakan, kita hitung dan prediksi, dalam kenyataan bisa saja tidak terjadi, atau malah yang terjadi bahkan kebalikannya. Inilah kenyataan. Ada kalanya kita kalah, ada kalanya kita menang. Inilah kesempatan untuk menampilkan kedewasaan, berdiri dan kalau perlu menari bersama musik yang terdengar.

 

Saat sekarang, terlepas dari suka-tidak sukanya kita pada atasan, pemimpin, atau bahkan presiden, masyarakat menginginkan tokoh yang berkepribadian baik. Sudah lama rasanya kita tidak mempunyai tokoh panutan yang bisa kita contoh, bicarakan luar dalam. Memang dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kelemahan diri di depan orang banyak, dan dibutuhkan pula kebesaran hati untuk menerima kekurangan orang lain.

 

Orang yang defensif, yang tidak mengakui kesalahan bahkan menghindar, tampaknya sudah tidak memiliki tempat di hati manusia-manusia kritis dan modern. Kebiasaan untuk mencari-cari alasan sudah tidak lagi bisa diterima saat ini. Informasi sudah terlalu terbuka sehingga orang dengan mudah bisa mengecek kebenaran fakta yang dibicarakan orang.

 

Masyarakat kita yang sedang dipenuhi pikiran politik praktis, sering lupa bahwa saat sekarang kita sedang harus mempersiapkan atlet-atlet kita untuk bertarung dalam beragam ajang olah raga. Sekaligus, kitapun bisa mengkaji mental para olahragawan, yang sebetulnya lebih yakin dari golongan masyarakat mana pun, bahwa kemenangan terletak pada kualitas mental dan latihan mereka dan kalah menang adalah hal yang merupakan konsekuensi dari upayanya.

 

Sikap sportif ini sebenarnya bisa diadaptasi dalam kepemimpinan tanpa mengurangi atau menambah salah satu aspek pun. Mereka biasa bekerja keras dengan sasaran yang jelas. Kemenangan diperoleh sebagai buah dari kerja keras karena lebih baik dari yang lain, bukan karena menjatuhkan lawan-lawannya.

 

Hal yang juga bagus untuk dicontoh dari para atlet adalah bahwa mereka tidak pernah berhenti mempelajari gerak dan teknik lawan agar bisa mampu mengalahkannya. Bukannya mengingkari keunggulan lawannya, tetapi justru meggunakannya sebagai batu pijakan untuk perbaikan diri. Dalam semua situasi kita memang perlu fight tanpa meninggalkan sikap kesatria.

 

Anggi Safaningrum
Penulis lepas media online