Home / Inspirasi / Karya Agung Tanpa Mendung
Karya Agung Tanpa Mendung; Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; ARS; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix; Paris Whitney Hilton; Whitney; Hilton; Paris Whitney; Paris Hilton; PARIS; high off my love; stars are blind; 17 February 1981; Kirana Azalea; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; Alobatnic; Pelantan; Santri Scholar; Santri; Scholar; Godly Nationalism; Itz Spring Voice; Melantan Warisan Kaisar Telantar; Tan Malaka
Karya Agung Tanpa Mendung

Karya Agung Tanpa Mendung

Karya agung tanpa mendung yang bernama Madilog adalah sedekah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, kepada generasi penerusnya. Tan Malaka termasuk sosok yang konsisten, baik dalam memperjuangkan impian dengan prinsip yang dianutnya serta antara kepribadian dengan peragaan keseharian. Meski demikian, kontroversi menyelimuti Tan Malaka tiada henti—bahkan tempat dan tanggal lahirnya saja memiliki ragam pendapat. Menurut pendapat paling sering ditampakkan, dia lahir di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 02 Juni 1897 (lebih dalam tentang Tan Malaka, simak catatan Melantan Warisan Kaisar Telantar ini melalui tautan ).

 

Kabut kontroversi memang terus menggelayuti, namun tak ada keraguan lagi bahwa Tan Malaka telah berpetualang menempuh pengalaman yang nano-nano rasanya: dari masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II, di arena internasional. Di arena nasional, Tan Malaka adalah sosok pertama yang menerbitkan gagasan tertulisnya mengenai konsep Republik Indonesia. Lebih dari 20 tahun perjalanan Tan Malaka dihabiskan untuk bertualang ke berbagai lingkungan. Dari agen Komintern (Komunis Internasional) untuk Asia di Kanton sampai menjadi free agent bagi dirinya sendiri. Dari seorang pedagog tulen dengan jaminan finansial hingga perjalanan mandiri sepenuhnya.

 

Dari beragam pengalaman yang diwedarkan dalam tulisan, Madilog, buku yang ditulisnya dalam persembunyian dari Kempetai (intelnya Jepang) pada 1943 adalah warisan tertulis yang paling gereget. Madilog berisi uraian lugas dengan luas dan dalam kritik dan saran diserta pandangan Tan Malaka terkait keadaan Nusantara, khususnya Indonesia. Dengan rapi dan rinci Tan Malaka men-dedah-kan pada pembaca ragam macam hal mulai pandangan perjalanan, cara berpikir, hingga dan pilihan usulannya sebagai cara mengubah kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung rendah diri menuju yakin diri.

 

Keagungan Madilog dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama, banyaknya kata. Sekitar 150 ribu kata didayagunakan oleh Tan Malaka untuk mengungkapkan perasaan yang dipendam.

Kedua, buku ini ditulis dalam sebuah bilik kecil (pondokan dari anyaman bambu) di Cililitan, Jakarta Timur, secara malar sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943.

Ketiga, semua data berupa angka, referensi, dan acuan terhadap gagasan-gagasan orang lain sebagian besar dikutip dari luar kepala (mengandalkan daya ingat). Hal ini dikarenakan Tan Malaka kehilangan banyak buku selama bertualang. Sedangkan sebagian kecil diambil dari buku-buku perpustakaan yang bisa didatanginya. Luar biasa anugerah daya ingat berlipat yang didapatkan Tan Malaka dari Pencipta jagad raya.

Keempat, wawasan yang dibentangkan di dalamnya sangat luas dan dalam. Gagasan yang tertulis di dalamnya dituturkan semadyana sehingga dapat digunakan untuk mempelajari apa saja dan dari siapa saja yang dianggap memiliki keterkaitan dengan permasalahannya.

Kelima, Tan Malaka seperti perpustakaan berjalan. Seluruh karya agung peradaban dunia sepanjang masa sanggup dia dedah-kan melalui Madilog. Pen-dedah­-an tersebut bukan untuk dihafalkan, walakin dicerna secara kritis sehingga membentuk pandangan sendiri.

Keenam, keadaan dimensi ruang dan waktu selama penulisan. Madilog ditulis dalam keadaan perang sehingga terkesan buru-buru agar segera selesai. Meski demikian, terdapat usaha untuk tidak terjadi kekeliruan dalam berbagai rincian tulisan.

 

Dengan demikian, sulit untuk meragukan kecerdasan, daya ingat, dan sikap rendah hati Tan Malaka. Setelah selesai belajar di lembaga pendidikan formal di Belanda, Tan Malaka tetap rajin belajar Tanpa merasa sudah pintar. Selama bertualang, dia mempelajari seluruh karya tulis yang dianggapnya sangat penting, mulai dari yang bersifat teoretis-filosofis, sampai yang cenderung praktis. Tan Malaka juga memanfaatkan keterpaksaan nomaden untuk mengamati keadaan lingkungan serta berbagi pengalaman melalui interaksi dengan orang-orang yang dijumpai. Oleh karena itu, Madilog yang memakai rujukan di luar kepala itu merupakan perwujudan kritis dari hasil belajar, keluyuran, dan ngobrol-nya yang tekun. Bukan hanya dari membaca buku saja Tanpa mau jalan-jalan dan melibatkan interaksi dengan liyan.

 

Madilog merupakan kependekan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika, sebagai cara Bapak Republik memberi imbauan kepada bangsa-bangsa di tanah Nusantara agar mau keluar dari kegelapan berpikir untuk memasuki cara berpikir yang rasional. Tan Malaka merasa bangsa-bangsa di wilayah Nusantara menjadi terbelakang akibat cara berpikirnya yang terjebak dalam logika mistika. Untuk keluar dari jebakan tersebut, diperlukan bantuan logika materialisme. Logika inilah yang menjadi gagasan awal dari Madilog.

 

Logika adalah aturan tentang cara berpikir yang benar (dalam arti fungsional). Berpikir materialis dan dialektis tidak cukup tanpa diiringi dengan berpikir logis. Logika berguna untuk meraih kemajuan yang pasti (real paradise) bukan kemajuan yang semu (virtual paradise) seperti diungkapkan oleh 2NE1 pada Come Back Home.

 

Materialisme adalah cara berpikir yang berasal dari materi, seperti dilantunkan oleh 2NE1 dalam Crush. Materialisme adalah cara berpikir yang merupakan hasil dari penelitian ilmiah sehingga bisa diuji bersama. Untuk urusan keperluan bersama, kita tak bisa mengandalkan naluri yang dimiliki sendiri walakin harus bisa diterima bersama oleh seluruhnya (bersikap ilmiah).

 

Dialektika adalah cara berpikir timbal-balik. Maksudnya semua hal bisa dipandang berbeda hingga dua titik bertentangan tampak kentara, seperti didendangkan oleh 2NE1 melalui Gotta Be You. Orang yang tak memakai dialektika akan menganggap dua titik itu bertentangan. Tetapi orang yang memakai dialektika, pertentangan itu justru menjadi penggerak kemajuan.

 

Memakai logika dan materialisme tidak cukup lantaran cenderung stagnan. Dialektika dibutuhkan untuk melihat potensi-potensi yang ada sehingga dapat digunakan untuk menggerakkan agar mencapai kemajuan. Tan Malaka menjelaskan hal tersebut seluruhnya disertai contoh penggunaannya dalam Madilog, yang menampakkan dengan kentara kalau dia mengagumi sekaligus ikut serta menikmati peradaban di planet Bumi.

 

Kekaguman itu membuatnya berhasrat kuat mendalami kemudian mengerahkan segala daya dan upaya untuk ikut serta memperkaya—bukan meramaikan. Dari pendalaman terhadap setiap bentuk warisan peradaban,Tan Malaka mengambil nilai-nilai dasarnya sebagai bahan pondasi rancangan Madilog. Bagusnya, Tan Malaka bisa membaca keadaan bangsa-bangsa di Nusantara sehingga Madilog bisa tertanam subur di lahan Indonesia serta bagian Nusantara lainnya.

 

Tan Malaka bahkan sempat meninjau Yahudi, Nasrani, dan Islam menggunakan cara Madilog. Tiga komunitas kaum beriman yang notabene memiliki benang merah pada sosok Ibrahim (Abraham), bapaknya ilmu logika. Ibrahim sendiri merupakan nama yang disematkan oleh orangtuanya sebelum lebih dikenal dengan sapaan Tan Malaka.

 

Madilog juga perwujudan sintesis petualangan dari seorang Tan Malaka yang memiliki personalitas—bukan identitas—bangsa Minangkabau. Bangsa Minangkabau identik dengan kebiasaan merantau. Hal ini terjabarkan ke dalam dua poin penting pemikiran Tan Malaka demi menanamkan Madilog di lingkungan Nusantara, agar ajaran bisa dibumikan bukan dikebumikan.

 

Pertama, gubahan Madilog melalui sintesis pertenTan Malakagan pemikiran di antara dua kubu aliran besar dalam filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels.

 

Hegel dengan filsafat dialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) dengan kebenaran yang menyeluruh (absolute) hanya dapat tercapai melalui perkembangan dinamis. Berkembang dari taraf gerakan yang paling rendah menuju taraf gerakan yang paling tinggi. Semua berkembang, terus-menerus, berubah tapi berhubungan satu sama lain. Semua perkembangan difokuskan pada idea (tak kasat mata) bukan pada matter (kasat mata).

 

Sementara itu, bagi Marx-Engels, proses dialektika ini lebih cocok diterapkan pada matter melalui revolusi perpindahan dominasi kelas. Setiap kelas saling berpindah dari satu kelas ke kelas yang lain sampai tercapai suatu bentuk kelas yang sebenarnya, ialah masyarakat tanpa kelas. Jadi kosok bali dengan Hegel, bagi Marx-Engels matter lebih penting daripada idea. Walau akhirnya berbeda pandangan, Marx terus menerus menyebut bahwa Hegel adalah gurunya, satu sikap kritis dan etis ditampakkan secara kentara.

 

Dalam Madilog, Tan Malaka mensintesiskan kedua pertentangan aliran filsafat tersebut untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru berlandaskan kajian ilmiah (scientific research): bebas dari alam pikiran mistis. Melalui kajian ilmiah, mindset masyarakat Indonesia harus diubah. Logika ilmiah dikedepankan dan pikiran kreatif dieksplorasi, semuanya dilakoni dengan langkah dialektis dari taraf perpindahan gerakan kelas sosial dari tingkatannya yang paling rendah sampai paling tinggi berupa kelas sosial baru yang berwawasan Madilog. Inilah wujud petualangan secara pemikiran karena berbagai benturan gagasan yang terjadi.

 

Kedua, pandangan budaya bangsa Minangkabau tentang konsep rantau.

 

Nilai penting konsep rantau dalam budaya bangsa Minangkabau adalah mengidentifikasi setiap penemuan baru selama merantau demi pengembangan diri. Bangsa Minangkabau termasuk berkarakter dinamis, logis, dan antiparokial (parokial: wawasan sempit). Konflik batin khas perantau ditepis Tan Malaka dengan tradisi berpikir rasional. Tradisi ini didukung dengan basis pendidikan guru yang mengharuskannya menanamkan cara berpikir yang logis.

 

Sementara itu, merantau adalah juga mencari keselarasan dari pertentangan dan penyesuaian. Pandangan kebudayaan bangsa Minangkabau yang umum berlaku di masa mudanya membuatnya mengenali dinamisme Barat maupun dinamisme alam Minangkabau di dalam suatu pandangan terhadap dunia yang terpisahkan.

 

Sebagai sintesis hasil petualangannya, Madilog merupakan perwujudan simbol kebebasan berpikir Tan Malaka. Madilog bukanlah dogma yang biasanya harus ditelan begitu saja tanpa hati-hati dalam mencerna. Menurutnya, justru kaum dogmatis yang cenderung memuja hafalan tanpa pemahaman sebagai kaum bermental budak. Di sinilah filsafat idealisme dan materialisme ala Barat dan konsep rantau disintesiskan Tan Malaka.

 

Huruf, aksara, kata, disusunnya dalam suasana kesepian, kemiskinan, dan penderitaan yang sangat ekstrim. Namun Madilog-lah yang menjadi karya agung paling indestructible dari seorang Tan Malaka. Sebuah breakthru hasil  bicycle race walau under pressure. A kind of magic sepanjang di tanah kelahiran, lalu di Haarlem, Nederland (1913-1919), ke beragam tempat lain, sampai kelahiran innuendonya itu di Rawajati (1943).

 

Untuk membaca keseluruhan naskah Madilog, silakan klik tautan ini.

 

وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
«القرآن الكريم سورة التوبة : ١٢٢»

 

Adib Rifqi Setiawan
Itz Spring Voice ♈ A Huge fan of Park Bom [박봄 / パク・ボム]

About Adib Rifqi Setiawan

Adib Rifqi Setiawan
Itz Spring Voice ♈ A Huge fan of Park Bom [박봄 / パク・ボム]

Check Also

Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix;

Doraemon, Cerminan Budaya dan Karakteristik Bangsa Jepang

Doraemon, Cerminan Budaya dan Karakteristik Bangsa Jepang   Jepang merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop …