Hukum Alamiah Publikasi

Please log in or register to like posts.
News
hukum publikasi

Hukum Alamiah Publikasi – Isaac Newton memiliki dua kenangan tersendiri dalam publikasi karyanya. Pertama publikasi pemikirannya mengenai Kalkulus. Kedua publikasi pemikirannya mengenai hukum gerak. Mengenai Kalkulus, adalah salah satu episode seru sepanjang sejarah fisika. Di sini, ia harus berduel dengan Gottfried Leibniz dalam hal siapa penemu Kalkulus. Newton begitu keukeuh bahwa ia lah yang lebih dahulu menemukannya dan Leibniz belakangan.

Meskipun penyelesaian kasus ini tampak curang tetapi faktanya memang demikian. Newton lebih dahulu menemukan dan memang Leibniz belakangan. Hanya saja, Newton kalah cepat dalam publikasi karyanya. Leibniz memang kalah start dalam memikirkannya tetapi menang start dalam publikasi. Alhasil masalah ini menjadikan Newton, meski ia bicara sesuai fakta, mendapat label sebagai orang licik.

Mengenai hukum gerak, Newton berduel dengan Robert Hooke. Hooke adalah kepala The Royal Society saat Newton masih berstatus sebagai anggota. Belakangan Newton menjadi anggota lembaga ilmuwan di University of Cambridge ini. Saat Newton menjadi ketua adalah ketika The Royal Society mendapat jatah untuk menyelesaikan sengketa Kalkulus antara Newton dan Leibniz.

Kembali ke sengekta Newton dan Hooke. Kasusnya nyaris sama. Keduanya memiliki pemikiran yang mirip dalam masalah hukum gerak. Tetapi sejarah pada akhirnya menulis bahwa Newton lah penemu hukum gerak, yang menyatukan hukum gerak ala Galileo Galilei dan Johannes Kepler. Saat itu, Newton lebih gesit dalam hal publikasi (kasus ini sebelum Newton bersengketa dengan Leibniz). Sedangkan Hooke, mungkin karena lebih sibuk, kurang gesit dalam publikasi.

Siapa Cepat Ia Dapat

Bicara mengenai publikasi, ada satu hukum alamiah yang menyatakan bahwa siapa cepat ia dapat. Siapa yang cepat memublikasikan karyanya, seremeh apapun itu, ia bisa mengklaim karya tersebut adalah miliknya. Mengenai keabsahan karyanya, diabaikan.

Misalnya, yang ia publikasikan sebenarnya adalah file yang dicuri dari orang lain yang belum memublikasikan karyanya, lalu ia lebih dahulu memublikasikan atas nama dirinya sendiri. Tak peduli apakah karya tersebut memang monumental atau sekedar ungkapan usil. Yang penting setelah memikirkan, langsung dipublikasikan. Ungkapan usil misalnya menyebarkan redaksi kata yang belum diucapkan orang lain. Publikasi seperti ini tak harus melalui jurnal ilmiah, bisa saja melalui akun-akun pribadi di dunia maya, seperti Twitter. Istilahnya, berebut klaim.

publikasi

Lahir Belakangan Belum Tentu Plagiat

Publikasi yang mirip meski lahir belakangan belum tentu hasil plagiat. Ada kemungkinan seseorang yang tidak pernah saling berinteraksi –bahkan tidak kenal, bisa mengeluarkan karya yang sama. Hanya saja, dengan keadaan yang seperti ini, ketika karya intelektual diragukan keasliannya, karya yang sama akan mengorbankan karya lainnya yang dituduh plagiat. Hal ini juga berlaku dalam hal-hal lain, misalnya musik.

So, kalau ingin karya sendiri tidak dituduh plagiat, cepat-cepat saja dipublikasikan. Tak masalah jika masih amburadul, bisa diperbaiki kemudian. Berahi berkarya di Indonesia rasanya sedang mengalami penurunan, lebih ramai mengejar gelar alih-alih berkarya.

Kapling Permanen Buat Pemula

Memiliki catatan sebagai pemula tak akan bisa dipecahkan oleh siapapun selamanya. Abu ʻAbd Allah Djamal Al-Din Muhammad (1204-1274) yang lebih dikenal sebaga Ibn Malik  mengungkapkan dengan kentara. Dalam pengantar karyanya kumpulan 1002 bait mengenai tata bahasa berjudul al-Khulasa al-alfiyya Ibn Malik, Ibn Malik menyebut bahwa unjuk rasanya lebih bagus ketimbang kumpulan bait dengan judul serupa gubahan Ibn Mu’thy.

Pernyataan sejenis demikian memang menunjukkan sikap arogan, menyatakan sesuatu dengan semestinya. Pasalnya secara teknis Ibn Malik memang tepat. Pola bait yang dipakai dalam gubahannya sama semuanya, tak seperti gubahan Ibn Mu’thy yang menggunakan dua pola secara selang-seling. Oleh karena itu lebih enak dilantunkan. Selain dari pola penuturan, pembahasan yang diulas pun lebih luas dan dalam melalui penyampaian ringkas. Tanpa penguasaan terhadap bidangnya secara luas dan dalam, sulit untuk bisa menghasilkan karya genius seperti ini. Hanya saja, Ibn Malik tetap mengapresiasi gubahan Ibn Mu’thy dengan menyebutnya lebih utama lantaran digubah dan diterbitkan lebih awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *