Capaian Fenonemal Padhangmbulan

Please log in or register to like posts.
News
Capaian Fenonemal Padhangmbulan

Pada masa kekuasaan Soeharto masih meggeliat kuat, pertemuan massal hanya sedikit dihelat. Bahkan dari pertemuan sedikit itu, tak sedikit yang dibubarkan paksa. Hanya saja Padhangmbulan sanggup terbebas dari pembubaran paksa dari aparat negara. Mereka sedari mula tak hendak malakukan manuver alternatif untuk terus menerus melawan Soeharto.

Tak ada niat menggulingkan ‘penguasa’ untuk diganti posisi dan perannya oleh mereka. Mereka memang bisa lebih kritis pada segala tindak-tanduk Soeharto sebagai kepala negara. Hal ini membuat mereka tak terjebak pada amarah yang menggelayuti sukma. Tak selalu menolak Soeharto juga tak selalu menerima. Segala yang ada diletakkan pada tempatnya, semadyana sejak dalam dalam jiwa.

Capaian fenonemal Padhangmbulan antara lain bisa terus menerus berlangsung dengan jumlah massa yang kian bertambah tanpa pernah dirasa hendak menggulingkan ‘penguasa’ negara. Padhangmbulan adalah salah satu cara mereka untuk berkumpul bersama berungkap rasa sembari mengisi satu sisi terlubangi di ruang rasa sekaligus menambah wawasan keilmuan dan berbagi pengalaman.

Beserah pada Ilah serta Menyayangi Rabbi

Mereka hanya berkumpul untuk mempertahankan muruah dengan terus menerus beserah pada Ilah serta menyayangi Rabbi. Walau begitu, tak semua orang suka. ‘Penguasa’ saat itu memang tak pernah membubarkan paksa dan tak ada rasa diganggu oleh mereka. Namun hal inilah menjadi pemicu kaum pandir untuk berungkap kata-kata yang nyinyir.

Mereka mempertanyakan alasan tak ‘tersentuh’-nya pengajian ini oleh ‘penguasa’ walau alasan untuk menghentikannya terpampang kentara. Cak Nun, sebagai sosok yang menjadi ikon kegiatan ini, pun serta merta dituduh sebagai ‘peliharaan’ Soeharto. Oleh kaum pandir, Cak Nun disebut sengaja di-‘pelihara’ Soeharto sebagai cara kepala negara hebat itu menyeimbangkan wacana.

Walau tak jarang dirisak dengan ungkapan nyinyir, toh pengajian ini serta Cak Nun seorang diri, tak pernah langsir. Padhanmbulan tetap bertahan dan terus berkembang walau Pak Harto tak lagi memegang langsung ‘kekuasaan’. Malah pengajian ini tak hanya dihelat di satu tempat. Mereka tegap melebarkan sayap yang bukan sayap-sayap patah.

Sayap yang Bukan Sayap-Sayap Patah

Dengan memulai kegiatan serupa di rumah Cak Nun di Jogjakarta yang tak lagi istimewa, metamorfosis Padhangmbulan bermula. Hingga akhirnya pada tahun 2001 kegiatan ini disebut Maiyah. Tak hanya di Jombang (purnama) dan Jogja (tanggal 17 masehi), pengajian Maiyah juga dihelat di beragam tempat lainnya.

Mulai di Mandar dengan sebutan Papperandang, Gambang Syafaat di Semarang (tanggal 25 bulan miladiyyah), Kenduri Cinta di Jakarta (Jumu’ah pekan kedua setiap bulan), Obor Ilahi di Malang, serta Haflah Shalawat dan Pengajian Tombo Ati di Surabaya (tanggal 16 masehi).

Kegiatan Maiyah yang di Surabaya ini kemudian bermetamorfosis menjadi Bangbangwetan, sebutan gampang dari Abang Abang Soko Wetan. Abang Abang Soko Wetan ini maksudnya kirana merah dari timur. Sebutan ini dilandasi sikap untuk kembali ke timur bukan barat yang selalu ditunjuk saat barat sedang mengalami masa-masa segala hal dipandang sebagai barang dagangan. Manusia tak dilihat karena martabat melainkan manfaatnya sebagai barang.

Ada pula kegiatan yang terinspirasi dari Maiyyah dengan nama Idza Ja di Ende, Flores. Hadirin di kegiatan ini pun memberikan identitas diri mereka sebagai bagian Jamaah Maiyah. Kegiatan ini diselenggarakan mandiri tanpa campur tangan pihak goverment maupun sponsor. Pada setiap acara, biasanya berjalan sekitar 7 hingga 8 jam.

Format kegiatan ini merupakan perpaduan obrolan bersama secara terbuka tentang apa saja, mulai pendidikan, seni, budaya, politik, ekonomi, sains, dsb dst. Siapapun diberi kesempatan untuk berbicara pada kegiatan ini. Panggung disusun setinggi mata kaki, sehingga interaksi terhadap hadirin terbangun dengan cepat dan spontan.

Memunculkan Berbagai Hal Secara Spontan

Dengan terbukanya kegiatan ini menjadikannya mudah memunculkan berbagai hal secara spontan dengan tema beragam, sehingga berbagai topik menjadi materi diskusi yang menggembirakan. Karya seni juga disuguhkan pada setiap kegiatan. Berbagai warna musik seperti jazz, seni tari, juga puisi yang dikemas sedemikian rupa hingga dapat mamadukan keindahan tanpa melupakan pesan utama yang hendak dibahas bersama.

Kebersamaan dalam keberagaman berbingkai rasa sama terpampang kentara dalam setiap da’wah yang disampaikan. Hal inilah yang kerap dilupakan orang sekarang. Pandangan sempit dalam memaknai da’wah dihindari sepertihalnya menghindari da’wah sebagai bagian dagangan industri sepertihalnya lembaga pendidikan dan pengajaran saat ini.

Jamaah Maiyah dihidupi oleh kegiatan Maiyah sebagai kekuatan jasmani. Sementara kekuatan jasman ini menghidupi diri dan mendapat kehidupannya dari kekuatan rohani berkah shalawat. Bershalawat adalah bagian utama dari kegiatan Maiyah. Sebagai bagian utama, bershalawat diiringi dengan bagian pengiring berupa diskusi multi-arah sebagai upaya memperluas dan memperdalam wawasan keilmuan sembari berbagi pengalaman.

Dengan capaian demikian, tak membikin Cak Nun menjadi orang penting. Keberadaan Cak Nun memang penting bahkan sudah menjadi ikon Maiyah. Walau demikian, dia selalu menolak dirinya diletakkan di suatu tempat berbeda dengan jamaah. Cak Nun tetap tegap larut berpadu bersama dengan jamaah tanpa merasa perlu mengeksiskan dirinya secara beda.

Pilihan tersebut didasari dari keberserahannya pada Pelantan semesta raya sehingga merasa tak pantas berada di antara Khaliq dan makhluq. Buat Cak Nun, setiap hamba memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Pencipta tanpa dicampuri, digurui, atau dirisak oleh siapa pun. Cak Nun tak berani meninggikan ‘suara’-nya melebihi ‘suara’ Muhammad—sang Persembahan dari Surga—apalagi melebihi ‘suara’ Ilahi-Rabbi.

Berusaha untuk Tidak Boleh Dikenal

Cak Nun selalu berusaha untuk tidak boleh dikenal sehingga membikin orang lebih mengenalnya ketimbang mengenal dirinya, Muhammad, dan Allah. Hal ini pula yang membikin Cak Nun dengan segala daya dan upaya terus bersembunyi dari keriuhmeriahan lingkungan. Semua itu dilakukan oleh Cak Nun agar tak mendapatkan kemasyhuran yang membuatnya lebih diperhatikan oleh liyan melebihi kadar perhatian mereka pada Allah dan rasulullah.

Maiyah pun tidak pernah diproklamasikan sebagai revolusi agama. Bahkan revolusi teologi, mazhab, maupun thoriqot pun tak pernah dilakukannya. Apalagi diresmikan menjadi organisasi massa dan partai politik. Maiyah tidak ingin dirasa beda dengan sesama ciptaan-Nya. Mereka hanyalah satu kebersamaan yang nilainya mengadopsi nilai-nilai dalam persahabatan cinta.

Wajar kalau biasa didengar ungkapan bahwa maiyahan bukan solusi berbagai persoalan yang dihadapi, melainkan sekadar perkumpulan untuk berbagi rasa kepada sesama. Ketika ruang rasa tak lagi dipenuhi dhemet-sengit, segala kesan yang didapat bisa diterapkan sepanjang perjalanan dengan legit, se-legit pipinya Jessica Jung.

 

[sourc

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *