Mitra Hebat Muhammad yang Bernama Aisha

Please log in or register to like posts.
News
Laila Fariha Zein; Laila; Fariha; Zein; Laila Fariha; Laila Zein; Fariha Zein; 04 Februari 1992; Aquarius; Adib Rifqi Setiawan; Adib; Rifqi; Setiawan; AdibRS; Adib RS; ARS; Alobatnic; RMadhila; Scholaristi; 26 Maret 1994; Aries; Agus Riyantiko; Agus; Riyantiko; Cyminusx Front Line; Cyminusx; Front; Line; 13 Desember 1986; Sagittarius; Pelantan; Mata-Maya.com; Mata Maya; Santri Scholar; Santri; Scholar; Santri Scholar Society; 투애니원; 2NE1; 블랙잭; Blackjack; Kirana ♈ Azalea; Kirana Azalea; 박봄; Park Bom; 박; 봄; Park; Bom; haroobomkum; 박산다라; Park San-da-ra; Sandara Park; 산다라; Sandara; Dara; krungy; 이채린; Lee Chae-lin; 이; Lee; 채린; Chaelin; CL; chaelinCL; 24 March 1984; 12 November 1984; 26 February 1991; Bersama Mencipta Surga Dunia; Little Mix;

Mitra hebat Muhammad yang bernama Aisha adalah sosok mengesankan buat saya. Baik ketika dilihat secara umum, maupun dikaitkan dengan Islam pada khususnya. Islam hadir dalam sejak awal bentangan perjalanan saya dimulai. Sampai sekarang pun, sepanjang mengayuh perjalanan, Islam tak pernah cuti di hati. Walau seringkali tak pernah saya tampakkan dengan kentara. Hampir hanya tampak oleh sebagian orang yang peka saja.

Dengan demikian, banyak hal yang menyinggung perjalanan saya melalui tata cara Islam. Sebagian singgungan hanya sejenak saja, sebagian lainnya berderap sanggam. Karenanya sampai saat ini dan semoga saat nanti saya terus berusaha untuk menjaga, mengetahui, memahami, mengerti, mengenali, menyatu dalam ajaran Islam. Hanya saja saya termasuk dari beberapa orang yang tidak kena kalau diwedarkan surga as well as neraka yang mengancam.

Salah satu singgungan sanggam melalui tata cara Islam dalam perjalanan saya ialah Aisha. Seorang perempuan yang penuh gairah membuncah luar biasa. Sebagai sosok besar dalam narasi besar, Aisyah adalah perempuan pertama yang saya kagumi. Kadar kekaguman pada Aisha, selain masuk dalam rencana penamaan anak, terlihat dari peranannya yang menjadi sejenis prototype, semacam pondasi.

Banyak sosok perempuan yang dikagumi kemudian tak jauh-jauh dari pengenalan saya terhadap istri Muḥammad ini. Sebut saja Paris Hilton hingga Lee Chaelin, semuanya perempuan mbeling—ialah berkepribadian kuat sehingga tak ragu mengungkapkan perasaan—dengan leadership ability kelas tinggi. Barangkali karena Aisha pula saya cenderung lebih mudah bergaul dengan perempuan tomboy.

Faktor Luck di Tengah Ketimpangan Lingkungan

Gambaran perdana saya terkait Aisha ialah dirinya orang Islam pada masa awal yang pemberani. Aisha dilahirkan dan mengalami perjalanan pada masa ketika Alquran diturunkan. Diturunkan pada lingkungan dengan keadaan yang terasa melukai hati. Kala itu, perempuan lebih dilihat manfaatnya sebagai barang ketimbang martabatnya sebagai orang, antara lain diperlakukan sebagai barang warisan.

Kalau ungkapan Aceh menyatakan “hana peng, hana inong” (tak ada uang, tak ada perempuan), saat itu justru peng dianggap sama dengan inong. Dalam keadaan semacam inilah Aisha hadir sebagai pendorong. Pendorong pada perempuan, juga mereka yang martabatnya direndahakan, untuk tak begitu saja menerima keadaan lingkungan. Keadaan lingkungan yang timpang perlu untuk diubah agar terbangun keseimbangan.

Tentunya dengan dorongan yang ditunjukkan demikian, membuat Aisha tak jarang menjadi sasaran untuk disingkirkan. Beragam cara yang memungkinkan terus dilakukan. Namun Aisha tak pernah mati. Dia tetap tegap berderap meski mendapat serangan berulangkali.

Aisha memang dilahirkan dalam keadaan lingkungan yang timpang. Namun dia beruntung dilahirkan oleh Abu Bakr dan Umm Ruman, yang membuatnya tak diperlakukan laiknya barang.

Abu Bakr sendiri adalah sahabat erat Muhammad sejak… sejauh sanggup keduanya ingat. Persahabatan mereka tak mati meski kemudian Muhammad tampil sebagai sosok yang dicaci maki. Dalam rangkaian peristiwa Isro’-Mi’roj yang diwedarkan, misalnya, Abu Bakr menampilkan peran penting saat sahabatnya dihujat. Abu Bakr menjadi orang pertama yang membela Muhammad saat sebagian besar meragukan bahkan cenderung memendam perasaan antipati.

Dengan keadaan keluarga demikian, Aisha terbilang beruntung menjalani masa anak-anak—yang singkat. Keluarga Aisha adalah keluarga yang harmonis, romantis, santun, dan memegang teguh tradisi leluhur. Hal ini membuat Aisha memiliki mental kuat. Mental kuat yang dimiliki menjadikan Aisha sebagai sosok pemberani dalam membaur tanpa perlu melacur.

Karena tak melacur, Aisha pun—tanpa perlu mengaitkan dirinya dengan Abu Bakr dan Muhammad—menjelma sebagai sosok terhormat. Sebagai perempuan, bukan hanya pada masa kekunoan namun juga kekinian, Aisha tak salah disebut sebagai sosok bahadur.

Tak Memakan Peran Sendirian

Sebagai sosok bahadur yang kemudian dipersunting sebagai istri Muhammad, Aisha turut ikutserta berperan. Berperan menjadi partner Muhammad dalam memberikan penghiburan dan peringatan.

Peran Aisha tak bisa dipandang sebelah mata lantaran dirinya tampil sebagai juru bicara Muhammad kala sulit menyampaikan pesan-pesan Ilahi-Rabbi. Dari sisi tersebut terlihat bahwa Aisha terampil dalam berkomunikasi. Pesan yang disampaikan dari sumber serta sasaran penyampaikan pesan bisa dimengerti dengan baik. Membuat Aisha memiliki prestasi apik meski kerap dihardik.

Sayang memang dengan keterampilan berkomunikasi, peran Aisha justru tak terlampau penting dalam pengumpulan teks Alquran. Dalam hal ini Aisha tampak masih kalah dibanding Hafsa. Hafsa memang rajin menulis pesan-pesan Ilahi-Rabbi yang kelak selesai dikumpulkan pada masa Utsman. Namun itu tak serta merta membuat Aisha bisa kalah begitu saja.

Pertama, Aisha dan Hafsa—selain sebagai queen dan princess buat Muhammad—adalah sahabat erat. Keduanya kerap bahu membahu dalam berbagai perilaku yang diperbuat. Mau membantu Muhammad berjuang, berbagi selakangan, atau bahkan ngusilin Ummu Salamah yang lugu, Aisha dan Hafsa selalu kompak. Dengan persahabatan sejenis demikian, wajar dong kalau Aisha berhasrat Hafsa juga bisa tampak.

Kedua, Aisha punya seteru abadi bernama Ali. Hal ini membuatnya tak punya banyak waktu selo untuk sekadar menulis pesan-pesan Ilahi-Rabbi. Karena itulah Hafsa diberi kesempatan berperan untuk menuliskan pesan-pesan Ilahi-Rabbi. Sementara Aisha cukup legowo menjadi penyambung lidah Muhammad. Tentu sambil menghadapi Ali dalam beradu kuat.

Dari dua hal tersebut terlihat kalau Aisha juga terampil dalam pengelolaan (management). Keterampilan yang membuatnya enggan memakan semua peran sendirian.

Setitik Perih Mendewasakan

Keterampilan Aisha dalam management memuncak tatkala peristiwa terbunuhnya Utsman menyentak hatinya. Dengan semangat meminta Ali—pemimpin politik penerus Utsman—Aisha menantang seteru abadi dalam Pertempuran Unta (The Battle of the Camel). Disebut Perang Unta karena dalam pertemupuran tersebut Aisha menunggangi Unta. Disematkan tajuk pertarungannya karena Aisha memang lebih mempesona.

Semangat Aisha menghadapi Ali dalam The Battle of the Camel terbilang melipat. Satu sisi dirinya memang memendam kekesalan berkelanjutan pada Ali. Satu sisi peristiwa terbunuhnya Utsman memang melukai hati ummat. Sayang memang pasukan pimpinan menantu tirinya ini memaksa Aisha beserta pasukannya harus rela kalah dalam pertempuran. Tapi tak mengapa, Aisha tetap layak disebut hebat. Kalah dalam pertarungan bukanlah pilihan, melainkan takdir Tuhan.

Wabakdu, dengan segala ungkapan yang dialamatkan padanya maupun menyinggung namanya, Aisha tetaplah Aisha, yang langkahnya sulit dituturkan semadyana. Karena perempuan memang sulit dimengerti sepenuhnya, meski tetap bisa dinikmati seutuhnya.

References

Armstrong, K. (1991). Muhammad: A Biography of the Prophet. London: Victor Gollancz Ltd.

Armstrong, K. (2000). Islam: A Short History. New York City: Modern Library.

Geissinger, A. (2011). ‘A’isha bint abi bakr and her contributions to the formation of the islamic tradition. Religion Compass, 5(1), 37-49. DOI: http://dx.doi.org/10.1111/j.1749-8171.2010.00260.x

Khan, R. Y. (2014). Did a woman edit the qur’ān? hafṣa and her famed “codex”. Journal of the American Academy of Religion, 82(1), 174-216. DOI: https://doi.org/10.1093/jaarel/lft074

Menteşe, M., & Şahin, M. C. (2016). Hazrat Aisha: In Terms of Religious, Authentic and Didactic Leadership Characteristics. Women Leaders in Chaotic Environments, 49-59. Springer International Publishing. DOI: http://dx.doi.org/10.1007/978-3-319-44758-2_5

Geissinger, A. (2017). No, a woman did not “edit the qurʾān”: towards a methodologically coherent approach to a tradition portraying a woman and written quranic materials. Journal of the American Academy of Religion, 85(2), 416-445. DOI: https://doi.org/10.1093/jaarel/lfw076

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *